‘lil but so touchy

Jika hujan deras turun, coba hitung dan rasakan titik air yang turun…Japanese_cartoon_3f_105

Taukah kau?

Sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenalmu, sahabat…

Keep ‘dis ukhuwah ‘til in Jannah!Luv u <sebuah pesan singkat yang dikirim langsung ke telepon genggamku tertanggal 7 Juni 2009, jam 08:13 PM)

 

Di tengah kesibukan TA, sahabatku dari nun juauh di ujung timur bilang kalo mau ke Bandung. Sebenernya nggak ke Bandung siy, lebih tepatnya ke Jakarta dulu, baru mampir Bandung. Hiks, sayang sekali akunya tidak bisa menemani. Meluangkan waktu untuk ketemuan pun nggak bisa, karena emang ‘on fire’ dengan TA, TA, dan TA. Setelah melalui proses negosiasi yang panjang plus gombal-gombalan, akhirnya diputuskanlah dia yang akan pergi ke kampus untuk menemuiku. [tentunya setelah aku meninggalkan setumpuk cucian tabung reaksi dan cawan petri di bak cuci, dan harus kucuci keesokan harinya dengan menghabiskan waktu 2,5 jam teman-teman dan berakhir: TEPAR]. Tau nggak? Ternyata kenapa dia mempeng buat ketemu itu adalah untuk memberikan kado ulang tahun!! Yeah!! Senang, terharu, pengen marah, mau nangis, wes ndak taulah, yang keluar hanya satu ekspresi: “O, dudul, makanya mempeng ae pengen ketemu… Ternyata yaa…Continue reading

Kimi wa Tomodachi

Lagu ini didekasikan untuk keenam sahabatku… Well, it’s so nice, had bestfriend like all of you…

 

Kimi ga waratta boku mo tsurarete waratta / You laughed and I was lured and laughed too
Utsushi kagami mitai da kimi wa boku no tomodachi/ It’s like being reflected into a mirror, you’re my friend
Kimi ga okotta boku mo makezu ni okotta / You got mad, and I was determined to be mad too
Kodomo no kenka mitai da kimi wa boku no tomodachi/ We’re like squabbling kids, you’re my friend
Boku ga sabishii toki wa ato sukoshi tsukiatte / When I’m lonely, I talk to you a little
Umaku hanashi wo kiite kurenai ka / Won’t you come and listen to my story?
Kimi ho koe dake ga kokoro wo karuku suru / Only your voice makes my heart feel light
Tada aizuchi wo utte kureru dake de / Just giving me a nod of approval
Hanarete ite mo zutto / If we’re separated for a while
Mune no naka ni iru yo / You’ll be in my heart

  Continue reading

Lagi-Lagi 8

Aku pernah bercerita tentang historis angka delapan di postinganku terdahulu, yang ini itu lho…

Nah kali ini aku akan bercerita tentang kisah angka delapan yang lain…

 

8 Mei 2009, di sebuah sore di salah satu selasar di ITB, dengan cerita yang ditampilkan seperlunya saja.. (jiahh, kayak di acara apa geto…)

 Ada seseorang yang bertanya padaku dengan wajah penuh ekspresi dan mata berbinar-binar :Wina, maukah menjadi sahabatku?

Heuh? Aku menjawab? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Anything wrong with you?

Hmm, karena aku merasa Winalah yang selalu ada di dekatku waktu aku lagi sedih. Maafkan aku ya Wina, kalau aku senang aku tidak menghubungi Wina.

Masalah ya?

Maksudnya?

Yeah, is that a problem?

Menurutku iya Wina, karena aku hanya memintamu datang kalau aku sedang sedih atau BT.

Ah, nggak masalah menurutku. Toh, sepertinya aku juga melakukan hal itu kalau aku lagi sedih, aku akan bercerita pada sahabatku yang di Unair itu.

Wawawa, jadi maukah kamu menjadi sahabatku?

Yaa, tentu saja, kenapa tidak. =) Dan kemudian kita::berpelukan:: [hyaaa, seperti Teletubbies… kya… kya…]

 

Kemudian kita menghabiskan sore bersama di Lapangan Cinta [sejujurnya aku lebih suka menamai lapangan ini Lapangan Perjuangan…], menatap langit, mengamati burung-burung beterbangan, melihat supporter basket yang berteriak-teriak di lapangan basket Campus Center, sholat maghrib di Salman, dan akhirnya berakhir dengan menginap di kosanku…

 

Hmm, akhirnya persahabatan memang harus dinyatakan dan ditanyakan… YeaH… Wew, nambah sahabat baru lagi, jadi genap 6 orang. 3 ce dan 3 co. Yeah…

Just Wanna Say

Pas kapan, tiba-tiba jadi ingat dengan sebuah lagunya Peter Pan, yang liriknya seperti ini:”Kau beri rasa yang berbeda, mungkin kusalah mengartikannya, yang kurasa cinta…”

Kadang, memang seringkali apa yang kita lakukan kepada orang lain bisa memberikan tanggapan yang berbeda. Nah, bagaimana cara meminimalisasinya? Seperti yang sudah pernah kutulis, berkomunikasilah secara efektif.

Sebenarnya bukan ini yang ingin aku katakan, aku pengen menulis sesuatu buat sahabat-sahabatku semuanya yang baik…

Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup berada di sisimu ketika kamu memerlukan dukungan mereka walaupun saat itu seharusnya mereka berada di tempat lain


Continue reading

Sakit HatI..

Ingin bercerita tentang kisah sakit hati di masa kecil. Ceritanya gini, dulu aku punya teman yang kuanggap sahabat. Kalau dulu, mendefinisikan sahabat kan orang yang selalu maen bareng, ngaji bareng, ke mana-mana bareng, ya pokoknya lengket kayak perangko.. [weleh-weleh, kayak ikLan ajah…]. Nah, sakit hatinya gimana? Sakit hatinya itu pas aku nanya ke teman yang kuanggap sahabatku itu pada suatu sore, ”Siapa sahabatmu?”. Tapi waktu itu jawabannya bukan namaku. Padahal aku menganggapnya sahabat. Hihihi, kalau ingat waktu itu sakit hati juga sih… Ya, gimana ya, secara ke mana-mana sering bareng, aku pikir namaku yang akan disebut sebagai sahabatnya. Tapi nyatanya bukan ^_^

Ya, itu kan sakit hatinya anak kecil…

Kalau saja hal sesepele itu dimasukkan hati buat sekarang yang sudah kepala dua, ya, berarti sama aja kayak anak kecil dulu bukan? Dan ternyata sampe sekarang masih berteman baik koq… Entahlah dengan sebutan sahabat atau bukan. Tapi yang jelas masih keep in touch

Cuma, dari sana jadi belajar, bahwa setiap orang boleh mendefinisikan istilah sahabat berdasarkan kamusnya masing-masing. Dan nggak perlu sakit hati lagi ketika ada orang yang kita anggap sahabat, tapi kemudian dia tidak menganggap kita sahabatnya, ya ataupun terjadi sebaliknya…oK…

 

Makasih buat semua sahabat yang selalu ada buatku, untuk setiap momen yang penuh kekeluargaan, canda tawa, suka duka, dukungan akan setiap keputusan, semangat di saat jatuh, dan semua hal yang pernah kita lalui bersama…

Thx a lot: diTa, faJaR , mbak Anggie, and aLfaN…

”Ternyata Sahabat Terbaik Itu Ada Di Dekatku”

Bertahun-tahun aku mencari sesosok sahabat, buat menumpahkan segala isi hati, semuanya, tanpa terkecuali. Bahkan dengan sahabat yang sekarang aku punya, deklarasi itu baru kita proklamasikan setelah kita kenal selama kurang lebih 15 tahun. Ya, 15 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa bercerita dengan leluasa.
Jauh-jauh aku mencari, berusaha mendekat kembali setelah persahabatan sedikit merenggang. Bahkan sampai membeli sebuah HP yang baru. Demi untuk merekatkan sebuah tali persahabatan. Sungguh, jauh-jauh aku mencari ternyata sahabat terbaik itu ada di dekatku, bahkan tak pernah menjauh. Tak pernah. Selalu di dekatku.
Penemuan sahabat terbaik ini memang melalui proses seperti pembuatan mutiara. Berasal dari pasir yang kemudian berhasil akhir mutiara yang mengkilap. Benar-benar proses yang berat dan penuh perjuangan. Aku mengikuti sosok sahabat baruku itu ke mana saja, ke kamarnya, ke dapurnya, mencoba berazzam ingin menceritakan semuanya. Semuanya tanpa kecuali. Sampai pada suatu malam, aku ingin mencoba bercerita tentang kondisi teman-temanku semuanya. Sampai pada hal yang privacy sekalipun. Piuh, betapa leganya ketika aku sudah menceritakan itu semua. Aku baru menyadari, bahwa sebenarnya sahabat terbaikku itu tak pernah jauh, selalu ada di dekatku, dekat di hati, tanpa batasan jarak yang beratus-ratus kilometer, bahkan selalu mendo’akan yang terbaik untukku, tak pernah lelah berharap yang terbaik untukku, dan parahnya aku baru menyadarinya. Ya, that’s my lovely mom. Kalau dulu aku bilang pada semua orang kalau aq tak pernah dekat dengan mama, itu semua salah, seiring dengan berjalannya waktu, aku sadar bahwa mama adalah sahabat terbaikku, yang tak pernah pamrih dalam memberikan semua cinta dan kasihnya, kalau aku dulu berdalih karena aku cuma menyusu padanya selama 2 bulan (bukan 2 tahun) dan menjadikanku tak dekat dengannya, itu semua terbantahkan. Terima kasih ya Allah, karena akhirnya aku sadar aku tak butuh makhluk lain, mungkin inilah semua jawaban atas-atas do’aku selama ini. Mungkin inilah rencanamu yang memang tak pernah salah. Kalau kemudian akhirnya aku bercerita tentang semua hal yang kulakukan, buatku itu menjadi plong seperti dekongestan yang melegakan hidung. Walau sekedar bercerita. Tetapi itu sudah cukup buatku. Sangat lebih dari cukup.
Dalam sebuah kisah yang lain Ust. Budi Prayitno bercerita, bahwa kita menjadi sholeh seperti saat ini bukan semata-mata karena kita sendiri. Tapi karena kekuatan do’a mama. Bukan mama yang beruntung mempunyai anak baik sepertiku, tapi justru akulah yang beruntung mempunyai mama yang baik. Ya, tidak ada yang tidak mungkin, maka hiduplah dari mimpi-mimpi besar itu, karena kita akan menjadi besar karenanya. Teruslah bermimpi… Karena mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini…