Ramadhan 2013

Yuhuuuuu. Ramadhan tahun ini dijalani di kota yang berbeda lagi. Setelah hampir sekitar 7 tahun kemaren dihabiskan di Bandung. Ramadhan di ibukota, bagaimanakah rasanya? Buat saya yang anak (emak) rumahan, tak ada bedanya. Sama saja. Enggak macet (ya iyalah lha wong di rumah saja). Damai dunia lah di rumah mulu. Entahlah, sejak pindah kesini, toleransi terhadap keramaian mendadak meningkat drastis..
Kalau yang ngantor, beeeegh, ya pastinya tambah macet lah di jalan. Hari biasa aja udah macet dimana-mana.. Walaupun jam pulang kantor dimajukan sejam lebih awal, entah kenapa jalanan tambah macet ajah. Mungkin semua orang berlomba segera sampai di rumah untuk bisa berbuka bersama keluarga, atau ngbuburit. Oh, ternyata orang kantoran jakarta yang terkenal workaholic itu hanya sayang keluarga di bulan ramadhan (ups!).
Jadilah. Hampir setiap hari saya memasak. Aseeeeeek. Jadi rajin masak deh. Saya bilang ke Paksuami: “Ayah. Ramadhan ini gak usah deeh beli makan di luar. Macet. Rame. Aku mendadak dong dong di jalan. Liat jalanan ruame gitu mendadak blank. Kalau pengen apa diusahakan bikin aja lah.” Hehehe, dan Mas Zaki cuma bilang, “Iya Mi, itu di jalan xxxx muacet. cet. Kendaraan gak bergerak blassss. Emang banyak sih orang jualan disana..
Trimakasiiih deh,, yang biasanya juaraaaang masak mengandalkan warteg, padang, dan sate, sekarang dipaksa masak.
Diajak buka bersama juga gitu, aduuuh, enggak deh. Mata saya mendadak sepet kena polusi jakarta. Maap-maap sajah ya..
Oh iya, ramadhan kali ini kakak nailah mulai kesana-kemari jadi koki cilik. Fiuuuuh, masak aja udah kayak ikutan Master Chef. 😀

Hihihihi. Kalau pulang kerja Mas Zaki kayak jam pulang kerja bulan ramadhan, bisa hemaaattttttt, masak sendiri terus. Soalnya kakak nailah ada yang ngawasin. 😀

Yang menarik juga soal kejar-kejaran target ibadah. Kayak lari jarak jauh rasanyaaa. Rasanya waktu mendadak bergerak sangat cepat. Jadi ingat, kataNya kalau begitu berarti waktunya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat.

Akhir kata, semangat ramadhan! 🙂

A WisH

Sudah sampai di penghujung ramadhan lagi. Alhamdulillah, itu saja yang ingin diucap sampai detik ini…(setelah tadi pagi, turut merasakan guncangan gempa dan akhirnya terbangun setelah kesirep seusai subuhan…hoho, maafkan aku sobat, kesirep lagiii..)

Setelah kemaren sempat dilema pulang ke rumah atau tidak, sudah memutuskan pulang, eh masih bingung cari tiket, harus kebingungan pula bagaimana caranya pulang ke Jember. Tapi alhamdulillah, Allah masih baik padaku, baiiiiiikk sekali..Detik ini sudah di rumah berkumpul bersama keluarga, dan banyak kenikmatan yang lain. Alhamdulillah

Bertemu dengan banyak kisah sebelum pulang, di kereta api, kebetulan dipertemukan dengan seorang bapak-bapak. (bukan kebetulan menurutku). Tak perlulah sebut siapa namanya dan apa beliau, tapi percikannya yang juga ingin kutorehkan di blog ini. Sebuah amanah dari beliau untuk menceritakan dan turut menyebarkan sebuah visi ke depan.

makewishTentang sebuah cita-cita kebangkitan ummat. Kalau saja semua muslim di Indonesia benar-benar memaksimalkan semua pajak-pajak dalam Islam (maksutnya ZIS: Zakat, Infaq, dan Shoadaqoh), insyaAllah tidak ada kemiskinan lagi di Indonesia. Bahkan kalau dikelola dengan benar, itu bisa digunakan digunakan untuk membayar utang Indonesia yang sampai hari ini belum lunas. Beliau bertutur, kalau bisa di setiap perempatan dipasang layar besar (semacam monitor begitu mungkin yaa…) untuk menampilkan berapa dana yang dimiliki umat Islam. Bukan sebagai ajang unjuk gigi, tapi bisa jadi koreksi untuk kita semua. Berapa yang sudah tersalurkan, kepada siapa, bisa dilihat di sana semuanya. Dana ZIS kemudian dikumpulkan per kecamatan, di masjid-masjid yang biasa dipakai untuk selama sholat jum’at, paling tidak kencleng selama sholat jumat saja, selama ini kemana dana-dana itu? (wanda…) Nah, di setiap kecamatan kemudian direkapitulasi untuk kemudian ditayangkan secara online di layar-layar besar tadi (komputernya nanti disuplai deh kata Bapak, sudah ada donatur yang bersedia, wew…). Dengan demikian, semua dana akan terlihat transparansinya. Tak ada lagi kecurangan. Kita sudah memasuki era globalisasi. Sudah sepantasnya, teknologi yang ada digunakan untuk kemashlahatan umat. (sepakat Pak, teknologi dibuat untuk mempermudah kerja manusia). Bapak itu berujar, jangan lagi di pondok-pondok pesantren itu hanya belajar quran dan hadits. Mereka juga harus tahu yang namanya IT. (wew, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum). Hmm, PR bersama… Sebuah cita-cita yang mulia, beliau sudah hampir 70 tahun masih menyimpan cita-cita yang dahsyat dan keren. Aku yang masih muda? (tanya, kenapa?). Berbagi cerita dan cita-cita… Dan sebuah kebanggaan dan rasa syukur, terlahir sebagai seorang muslim dan masih merasakan nikmatnya iman dan islam itu…

I proud to be a moslem…

Tentang harapanku. Semoga Allah berkenan menerima ibadah shaum kita dan ibadah lainnya selama bulan ramadhan. Tak kan pernah menjadi sempurna tanpa ridhoNYA. Semoga setelah keluar dari bulan ini bisa benar-benar jadi bekal 11 bulan ke depan. Masih diberi kekuatan, kesempatan untuk terus belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik… Amiin..

wallahua’lam bishshawab

terima kasih, dan semoga bermanfaat…

H-1

Marhaban Ya Ramadhan…

Esok Ramadhan datang…

Yeah, sudah menyiapkan apa saja menjelang ramadhan???

Sudah ngecat tembok rumah, pagar, pasang umbul-umbul (nah lho, mo 17-an apa???).

Ya belum terlambat kalau belum menyiapkan apa-apa, paling nggak hari ini bisa ngebut baca buku-buku pengetahuan seputar ramadhan, trus buat targetan selama bulan ramadhan mau ngapain ajah… Mau hattam quran berapa kali, mau tarawih keliling masjid mana ajah, dan amalan-amalan yang lainnya…

Tapi yang jelas, tahun ini insyaAllah lebarannya bareng-bareng, soalnya mulai puasanya juga bareng-bareng [biasanya Muhammadiyah ma NU kan nggak bareng, denger-denger katanya akur tahun ini…]

Dan yang paling penting buat anak kosan yang merantau, yang mau mudik pas lebaran, buruan pesen tiket pulang, keburu kehabisan… [just info, tiket melonjak naek, kereta api kelas bisnis yang biasanya 120rb jadi 210 rb, kelas eksekutif jadi 350rb, hayyah… dasar orang Indonesia selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan, giliran mo lebaran harga-harga pada naek…