Ego

Ego = kardi, dalam bahasa madura merupakan kepanjangan dari kareppa dhibik, atau dalam bahasa jawa diterjemahkan sebagai karepe dhewe…yang artinya (tenang, saya tahu Anda sedang menunggu) : semaunya sendiri, atau bahasa sekarang nya egois.

Jadi ingat adek bungsu saya yang tidak mengerti apa arti kardi dan kemudian seperti biasa nyamber aja:

”Kalo kamu Kardi, aku Tukiyem daaahh…”

Hihi…Kalau ingat masa kecil dan sampai sekarang pun, sepertinya saya sangat dekat dengan ke-kardi-an ini.

Sampai suatu hari, saya menangis sejadi-jadinya gara-gara merasa bersalah kepada seseorang yang sangat saya sayangi (mama saya maksutnya).

 

Betapa tidak.

Saya sering kali punya pendapat yang sering saya pertahankan, dan mama saya hanya mengalah. (kalau saya ingat, duh, saya ini sok tau sekali, sampai-sampai mama saya mengalah, dan mungkin mama saya ingin berkata: hmm, Nak, kalau saja mama tahu kamu jadi begini, mungkin mama tidak menyekolahkan kamu sehingga jadi sangat ’pintar’ begini, dan juga pintar ’ngeles’) Continue reading

Renungan Ramadhan (4): Mom Selalu Adil

Seperti biasa sumber tulisan kali ini adalah hasil ngobrol dengan orang-orang di sekitar…

Kali ini topiknya tentang ibu.

Jaman dulu, ato mungkin sekarang juga masih, pasti pernah denger sebuah ejekan dan cemoohan untuk kaum ibu, yang selalu dibilang, melahirkan anak perempuan sajalah, atau sebaliknya [kalau ternyata anak yang dilahirkan jenis kelaminnya tidak sesuai dengan yang diharapkan]. Bahkan jaman Firaun dulu, aku membayangkan kayaknya pasti setiap ibu yang melahirkan bayi perempuan pasti disalahkan, udah gitu pasti si ibu sedih, apalagi ditambah melihat bayinya itu dikubur hidup-hidup.

Untungnya, ilmu pengetahuan berkembang pesat sehingga ditemukanlah kromosom penentu jenis kelamin, di mana ibu membawa kromosom XX dan ayah membawa kromosom XY. Nah, dari sini saja, bisa dilihat bahwa ibu itu selalu adil, nggak pernah pilih kasih. Ayahlah ni yang pilih kasih. Ibu sama-sama akan memberikan ‘X’ nya untuk anak-anaknya. Sedangkan ayah? Pilih-pilih ntu, mau ngasih ‘X’ atau ‘Y’…

Hohoho…

Udah ah, hidup ibu…

Mau ngasih komen? Silakan ketik saja di bawah ini…

 

Terima kasih, semoga bermanfaat,

Wallahua’lam bishshawab…

ToDaY…

Today… My mom’s birthday..

Tadi pagi aku mengirim sms ke mama, ya, aku mengucapkan selamat ulang tahun buat mama… SMS nya isinya cukup standar, ‘Mama, selamat ulang tahun ya…Semoga panjang umur dan diberi umur yang barokah,semoga tetap menjadi mama yang super…Makasi ya mama, sudah membesarkan aku sampai 21 tahun…’

Kalau saja aku ada di rumah, wah belum tentu aku melakukan hal itu.. Hehe.. Susah mengungkapkannya lewat lisan.. Continue reading

”Ternyata Sahabat Terbaik Itu Ada Di Dekatku”

Bertahun-tahun aku mencari sesosok sahabat, buat menumpahkan segala isi hati, semuanya, tanpa terkecuali. Bahkan dengan sahabat yang sekarang aku punya, deklarasi itu baru kita proklamasikan setelah kita kenal selama kurang lebih 15 tahun. Ya, 15 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa bercerita dengan leluasa.
Jauh-jauh aku mencari, berusaha mendekat kembali setelah persahabatan sedikit merenggang. Bahkan sampai membeli sebuah HP yang baru. Demi untuk merekatkan sebuah tali persahabatan. Sungguh, jauh-jauh aku mencari ternyata sahabat terbaik itu ada di dekatku, bahkan tak pernah menjauh. Tak pernah. Selalu di dekatku.
Penemuan sahabat terbaik ini memang melalui proses seperti pembuatan mutiara. Berasal dari pasir yang kemudian berhasil akhir mutiara yang mengkilap. Benar-benar proses yang berat dan penuh perjuangan. Aku mengikuti sosok sahabat baruku itu ke mana saja, ke kamarnya, ke dapurnya, mencoba berazzam ingin menceritakan semuanya. Semuanya tanpa kecuali. Sampai pada suatu malam, aku ingin mencoba bercerita tentang kondisi teman-temanku semuanya. Sampai pada hal yang privacy sekalipun. Piuh, betapa leganya ketika aku sudah menceritakan itu semua. Aku baru menyadari, bahwa sebenarnya sahabat terbaikku itu tak pernah jauh, selalu ada di dekatku, dekat di hati, tanpa batasan jarak yang beratus-ratus kilometer, bahkan selalu mendo’akan yang terbaik untukku, tak pernah lelah berharap yang terbaik untukku, dan parahnya aku baru menyadarinya. Ya, that’s my lovely mom. Kalau dulu aku bilang pada semua orang kalau aq tak pernah dekat dengan mama, itu semua salah, seiring dengan berjalannya waktu, aku sadar bahwa mama adalah sahabat terbaikku, yang tak pernah pamrih dalam memberikan semua cinta dan kasihnya, kalau aku dulu berdalih karena aku cuma menyusu padanya selama 2 bulan (bukan 2 tahun) dan menjadikanku tak dekat dengannya, itu semua terbantahkan. Terima kasih ya Allah, karena akhirnya aku sadar aku tak butuh makhluk lain, mungkin inilah semua jawaban atas-atas do’aku selama ini. Mungkin inilah rencanamu yang memang tak pernah salah. Kalau kemudian akhirnya aku bercerita tentang semua hal yang kulakukan, buatku itu menjadi plong seperti dekongestan yang melegakan hidung. Walau sekedar bercerita. Tetapi itu sudah cukup buatku. Sangat lebih dari cukup.
Dalam sebuah kisah yang lain Ust. Budi Prayitno bercerita, bahwa kita menjadi sholeh seperti saat ini bukan semata-mata karena kita sendiri. Tapi karena kekuatan do’a mama. Bukan mama yang beruntung mempunyai anak baik sepertiku, tapi justru akulah yang beruntung mempunyai mama yang baik. Ya, tidak ada yang tidak mungkin, maka hiduplah dari mimpi-mimpi besar itu, karena kita akan menjadi besar karenanya. Teruslah bermimpi… Karena mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini…