Thank You Allah :)

“Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia yang menjadikan mendung”
[QS Ar Ra’d (13) :12]


Subhanallah…

masih bisa menikmati suara hujan, kilat, dan petir


-sendiri, ditemani hujan, menanti suami-

gambarnya diambil dari sini
terima kasih Adin

Cuaca

Pada suatu kesempatan saya mengobrol dengan mama. Tempatnya di lantai dua rumah saya, persisnya di tempat kami biasa mengeringkan baju. Yap, tempat itu disebut jemuran. Beberapa hari itu, cuaca memang sedang tidak menentu. Hujan-panas-angin-hujan lagi-panas lagi, begitulah…berubah-ubah tidak menentu. Sampai akhirnya saya bilang ke Mama:

“Untung ya Ma, yang ngatur cuaca itu Allah, bukan manusia. Kalau manusia yang ngatur, pasti bingung. Petani butuh hujan untuk mengairi sawah, tapi  ibu rumah tangga butuh panas matahari untuk mengeringkan baju, nelayan butuh angin untuk melaut, dan banyak lainnya”, kata saya.

Mama saya cuma tersenyum. Di lain kesempatan, saya sedang mengendarai sepeda motor bersama seorang sahabat. Cuacanya tidak jauh beda. Lalu, saya ceritakan obrolan saya dengan mama di atas…

Kata sahabat saya:

“Hehe, iya, kalau yang mengatur manusia, kayaknya bakalan pake acara sogok-sogokan uang.”

Tanggapan saya:

“Wah iya juga ya…Bisa-bisa rakyat kecil (petani-petani itu…) nggak kebagian hujan kali ya kalau para milyader nggak minta hujan… Allah benar-benar adil…”

 

“Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar” (QS Al Furqan 61)..

 

Aq = Aqua in Chemistry

Suatu siang, saya terjebak oleh hujan yang tiba-tiba mengguyur saya dan mama saya yang tengah berboncengan mengendarai sepeda motor yang platnya pun saya sudah lupa saat ini. Kami berhenti si sebuah gubuk kecil di pinggir jalan, milik ibu-ibu yang berjualan entahlah apa itu, mungkin ada kopi, teh, minuman bersoda, kerupuk, dan lain-lain yang tidak saya amati satu per satu.

Di depan gubuk kecil itu, terhampar permadani hijau alias sawah. Saya sudah lama tidak melihat sawah yang hijau seperti itu. Di gubuk ini, ada 2,3,5 hmmm 6 orang lebih tepatnya.

2 orang sepertinya pemilik warung dan suaminya, entahlah suaminya atau bukan, peduli amat, saya hanya butuh berteduh saja.

2 orang lainnya adalah saya dan mama saya. Continue reading

If the rain comes, …

Tulisan ini kepikirnya sewaktu akhir-akhir ini di mana musim hujan mulai datang…  (sejujurnya di saat aku lapar di kosan dan tidak ada makanan dan berharap semoga ada bapak-bapak atau mang-mang penjual makanan melewati kosan ku yang letaknya di desa terpencil alias di gunung yang damai dan sunyi nan indah, Cigadung yang kucintai dan kurindukan…halah, opo toh…)

Jadi kepikiran gini lho…

Tukang sate itu lho…

Kalo hujan gitu, gimana yaa…Kan ujan trus mereka ujan-ujanan gitu? Kan kasian… (itu saudara sebangsa dan setanah air ’madura’)

Sate yang udah dibuat trus dikemanakan?

Disimpen di kolkas gitu? (iya kalo punya kolkas…)

Atau …

Dimakan beramai-ramai bersama tetangga?

Wew, jadinya makan besar setiap hari dungz… (mau lah jadi tetangganya dagang sate…)

Atau…

Disumbangkan ke panti asuhan? (mulia sekali…)

Atau…

Menurut seorang sahabat:

Sebenarnya tukang sate itu cuma perlu membakar sedikit satenya sambil tetap berkeliling menjual sate. Ya… modal payung atau jas hujan. Ga perlu teriak2 ”TE…SATTEE…” percuma juga kalah suaranya sama hujan.

Hasilnya? Terbukti orang yang kelaparan dan malas keluar jadi semangat ngeliat keluar, yang tadinya males keluar masio pake payung, jadi rela hujan2an demi penasaran aroma sate tadi.

Diakui or not, sate itu lezat …walaupun belum dimakan!

 

Haha…

RokJan

Ini Jas Almamater-ku, Insitut Teknologi Bandung.

Ini Jaket Himpunan-ku, Himpunan Mahasiswa Farmasi ’Ars Praeparandi’.

Tarra…

Yang satu ini adalah RokJan.

Yang atas si sama seperti Jas Ujan pada umumnya, kayak Jaket biasa.

Tapi bawahannya bukan seperti biasa. Bawahannya itu berjenis ‘Rok’. Lucu binti kreatif kan? Habisnya untuk postur tubuh sepertiku dengan tinggi badan 168 cm, jas ujan yang ada di pasaran itu terlalu ‘cekak’ alias ‘ke-pendek-an’, baik yang model coat maupun setelah jas ujan. So, pas aku lewat Jl. Dipati Ukur, ada yang menawarkan jasa pembuatan jas ujan, aku bikin aja di sono. Hasilnya, jadilah si ‘RokJan’-ku ini, dengan sedikit modifikasi bawahan yang dibuat rok [critanya ga suka pake celana, tampak kayak genter]…

Bermanfaat banget di musim hujan, apalagi, sekarang sepertinya sudah mulai masuk musim hujan di kota Bandung…

Jadi, sedia ‘RokJan’ sebelum hujan…