Renungan Ramadhan (3): Delapannya di Mulut

Anak kecil jaman sekarang gaya-gaya kalo menurutku. Jatah maennya berkurang. Mulai kecil udah dipaksa belajar. Bukan tuntutan orang tua. Tapi sistem pendidikan yang akhirnya memaksa orang tua untuk bertindak seperti itu. Paling tidak, sampelnya adalah adek bungsuku sendiri. Dan sampel orang tuanya adalah mamaku. Sampel sekolahnya adalah sekolah adekku. Adekku yang bungsu ini nih ceritanya udah nOL bESaR. Yang membuatku akhirnya bisa menulis seperti ini adalah karena pada saat aku menelepon mama, untuk melaporkan kondisi terkini dari Bandung Bermartabat, dan akunya sudah selesai melaporkan semuanya, giliran mamaku yang memberikan laporan. Termasuk salah satunya tentang adek kecilku itu. Setiap sore, selain mengaji, sekarang adek juga les. Seperti kakaknya. Di tempat les yang sama. Guru yang sama. [hehe, jadi nanya ke mama, itu, bu guru ngajarnya gimana? Koq yiyin yang kelas 6 SD, bisa satu les sama Gian yang “O  Besar”???]

Salah satu oleh-olehnya adalah celotehnya tentang cara berhitung:

  Continue reading

Historikal Hal-hal yang Berbau Angka Delapan dalam Hidupku…

8

8

8

8= jumlah tanggal lahir aku, 26, 2+6
8= jumlah dari plat sepeda motor, P 3050 LV (3+5) , si Supra Hijau yang udah dijual, yang sekarang, Supra Fit Biru, P 4453 RA (4+4, 5+3)
8= ada dalam tanggal pertama pake jilbab, 18 Agustus 2003
8= ada dalam tanggal lahir dan tahun lahir almarhum Bapak, 28 September 1958
8= angka yang aku tulis secara aneh, nggak lazim seperti orang pada umumnya
8= angka yang terhapus dari sederet nomer HP orang yang menemukan STNK-ku yang nyaris hilang untuk kedua kalinya, hahaha…
8= alamat kos kedua, Jl. Cisitu Baru 80

8=tanggal lahir dua adek kecilku… dua-duanya punya tanggal lahir yang sama, 8 Desember