Kuliner: Bebek Goreng H.Slamet Cabang Solo

Hehe, bertambahlah salah satu bahasan di blog saya tentang dunia kuliner.

23 April yang lalu, lidah saya berkesempatan menikmati lezatnya sajian yang disuguhkan oleh sebuah tempat makan.

”Bebek Goreng H. Slamet Cabang Solo (asli)”

begitu spanduk yang saya baca.

Lokasinya ada di daerah Buah Batu, Bandung [alamat  lengkapnya siy, di Jalan Buah Batu 63, pokoknya di Buah Batu bawah begono daaaah, tentu saja, di mana lagi, saya kan lagi ada di Bandung]

Saya disarankan untuk makan bebek goreng remuk [ada dada dan paha, cuma waktu itu adanya yang pahanya ajah]. Okelah, saya coba.

Tarrra, tidak berapa lama, datanglah pesanan saya. nasi putih, bebek remuk paha, dan kol goreng. Dan andalan di sini ::Sambel Korek::

Kol Goreng, Sambel Korek, Bebek Goreng Paha Remuk

Wiiih, Lapar Kanak! (ini istilah yang saya [dan suami] buat untuk mengatakan kalau rasa makanannya top-markotop)

Sambel Korek nya muantaaap…tap…tap…tap…Saya yang nggak suka sambel sampe ’nggado’ itu sambel hanya dengan kol goreng, dan hasilnya::woooooow, paduan yang sangat asyik::

Saya ngeliatin dan melototin ini sambel dari apa yak, diulek kasar sepertinya, saya rasa-rasa ada bawang merahnya, trus ada minyak-minyaknya gtu, wew, colek sajah bersama kol goreng, wuiiiih, mantaaaaaaaaap… =) [lumayan juga untuk bekal eksperimen…hehe]

Klo bebek goreng remuknya itu, daging bebeknya nggak disajikan utuh, tapi disuwir-suwir gtu, jadi bumbunya merasuk semua. Mantap, kriuk-kriuk gtu, plus bumbunya kerasaaaa banget… [heu, jadi lapeeeeer…]

::IniBebekGorengPahaRemuk::

Continue reading

Belajar dari Bebek: Bebek aJa Setia…

Weekend akhir-akhir ini biasanya dihabiskan dengan olahraga ringan semacam joging di Sabuga. Hohoho, menyenangkan sekali itu. Apalagi kalau ada yang menemani, huhu…

Larinya si ga seberapa, paling banter juga 4 putaran, itu juga udah menggeh-menggeh nggak karuan. Minimal yaa, 2 putaran dan 2 putaran lagi jalan santai sajah.

Nah, bukan ini yang mau kuceritakan. Yang hendak kuceritakan adalah kebiasaan ketika hendak pulang. Biasanya aku dan seseorang yang menemaniku itu [hohoho, jangan mikir macem-macem, karena dia adalah sahabatku], akan duduk menatap matahari sambil melihat orang-orang yang sedang berlarian.

Nah lho, jadi hubungannya sama bebek apa?

Ada… Makanya sabar ya mbak, mas, adik, kakak, …

Jadi gini ceritanya, waktu itu lagi ada penilaian lari anak-anak SMA gitu. Nah, biasanya kan klo masih awal-awal pada semangat gitu, lari bareng-bareng trus tampak seneng banget. Nah trus aku bilang kayak bebek yah. Hohoho… Nah, mulai dari sanalah aku dan sahabatku membahas bebek. Simak obrolan kami.

  Continue reading