ramadhan 2020

Ini ramadhan yang berbeda. Sangat berbeda. Nggak pernah terbayang sebelumnya. Mungkin ini jawaban banyak doa, yang ingin sebagian besar waktunya bisa dihabiskan di rumah saja bersama keluarga. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, ibadah hanya untuk Allah saja.

Allah mengirim tentaranya bernama corona. Nyaris menghentikan aktifitas manusia. Di rumah saja. Ramadhan yang berbeda. Semua dilakukan di rumah saja. Tarawih, tilawah, dan ibadah lainnya, mungkin juga i’tikaf di rumah saja. Tak apa. Masjid kita bukan terbatas pada bangunan fisiknya.

Allah memberikan keistimewaan untuk umat Nabi Muhammad, hal yang tak diberikan untuk umat Nabi yang lain, setiap hamparan bumi adalah masjid.

Masjid kita ditutup. Yang Punyanya sedang menutup. Ada apa? Kenapa?

Hal yang perlu diingat adalah:

Rahmat Allah tak pernah berhenti. Pintu ampunan Allah begitu luasnya. Jadi apa yang membuat risau sebenarnya? Bukankah kita hidup di dunia ini hanya singgah saja?

Tak apa ramadhan ini berbeda. Hadirkan spiritnya di rumah kita. Jangan sampai kita teralihkan dengan corona. Lupa kepada siapa PenciptaNya.

Panik jangan, waspada harus!

Saya akan selalu mengingat ramadhan yang berbeda ini. Mungkin ini satu-satunya ramadhan yang akan meninggalkan kesan tersendiri. Selain ramadhan beberapa tahun silam di kala bapak saya berpulang ke rahmatullah. 4 ramadhan, tahun 1999.

Saya akan merindukan hari-hari kami berusaha beribadah di rumah saja. Hari-hari di mana dari pagi sampai malam pagi lagi malam lagi, bertemu dengan suami dan anak-anak. Ramadhan yang mahal. Terimakasih corona…

Biasanya di bulan ramadhan, suami saya sampai rumah nyaris adzan maghrib sepulang kantor, bahkan kadang lewat adzan maghrib baru sampai di rumah. Ramadhan ini banyak kesempatan untuk saling menguatkan. Banyak kesempatan untuk dibantu masak menu sahur dan berbuka? Sederhana memang, tapi bukannya emak-emak paling suka dibantu soal pekerjaan rumah tangga? Dan ini mahal.

Tidak boleh mudik? Tak apa, kami sudah pernah tak mudik lebaran. Silaturahim sejatinya tak harus bertemu rupa. Saya tahu orang tua memendam rindu teramat sangat kepada cucu-cucunya. Sabar ya, insyaAllah segera setelah semuanya mereda, kami akan pulang.

Ramadhan yang luar biasa.

Terimakasih corona…

Tentu, tak ada yang sia-sia dalam PenciptaanNya.

#dirumahaja

Ini hasil ngobrol-ngobrol sama Ayahnya NaiNaf. Kira-kira hikmah apa aja yang didapat dengan adanya himbauan #dirumahaja selama pandemi c.o.v.i.d.1.9. inih?

1. Yang paling kerasa adalah merekatkan kembali hubungan antar anggota keluarga. Alhamdulillaah ayahnya NaiNaf masih diberi kesempatan kerja dari rumah. Nggak harus menjadi pejuang jalanan. Banyak momen yang dulu mungkin terlewat, karena harus pergi kerja pagi, pulang malem… Dengan adanya wabah ini, kita jadi lebih lebih dan lebih lagi bahu-membahu dan gotong-royong mengurus rumah tangga dan mengurus proses belajar di rumah Kakak Nailah (biasanya juga udah dibantuin banget banget banget). Lebih banyak ngobrol satu sama lain. Wkwkwk apalagi saya mesti bedrest passss banget dimulainya hari-hari social distancing. Ah, 2020 ini akan jadi kenangan tak terlupakan buat kami. 10 tahunan yang diwarnai saya keguguran dan ada wabah corona ini….

2. Saya merasa, salah satu do’a saya terkabul. Saya sering kali meminta. “Ya Allah, saya pengen deh suatu saat suami saya kerja dari rumah” Nah lo, beneran dikabulkan sama Allah. Rasanya? Seneng. Tapi sekaligus kesian, work from home means kalo ada gangguan kerjaan ya mesti dikerjakan. Hampir 24 jam kerjanya hehhe. Tapi yaa lebih banyak bersyukurnya tentu sajah. Saya cuman jadi sempat bingung harus berdoa sedetail apa, kwatir salah doa lagi gitu. 😅 Saya kayak jadi tersadar, eh ini saya pernah berdoa begini loh. Dan Allah kabulkan. Ya jadi ngerasa “oh begini rasanya” Kayak anak kecil yang kepo terus dikasih jawaban yang membuat mengerti dan bilang “oh”

3. Segala sesuatu yang nggak seimbang itu pasti nggak bagus. Allah minta kita untuk selalu bersikap tawazun (seimbang) dalam hidup ini. Mungkin, selama ini kita lebih banyak mikir soal dunia. Sedikit mengingat Allah. Lewat wabah ini mudah-mudahan kita jadi bertambah banyak mengingat Allah. Tambah banyak berdoa. Tambah banyak beribadah. Kalo kata manajemen qolbunya Aa Gym, “orang-orang beriman itu kalo denger corona, harusnya jadi inget sama PenciptaNya, harus lebih banyak ingat Allah” Mudah-mudahan lepas wabah ini kita jadi kupu-kupu yang indah semua yaaa….

4. Kebutuhan manusia jadi kebutuhan primer aja. Pangan, sandang , dan papan. Bisa makan, bisa ganti baju, dan ada tempat untuk berteduh… Nggak ada tuh kebutuhan tersier, macem butuh jalan-jalan ke mall, traveling, beli sepatu tambahan buat ngantor, beli baju lagi buat keluar rumah, daannnnn laen-laennya. Kita kayak kembali ke jaman orang dulu hidup yang jarang kemana-mana. Yang bisa kemana-mana itu pasti ya orang kaya pake banget. Lha orang dulu kemana-mana aja masih naek becak ato delman kan atau mungkin berjalan kaki. Saudara-saudara saya di Jawa Timur aja tinggalnya ya nguplek-nguplek di kota yang sama kalo cuman kota tetangga. Saya aja yang pencilan ini jauh amet disini.

5. Mungkin, bumi lagi istirahat….
Suka ngalamin nggak? Kalo kita terlalu banyak beraktivitas, Allah ngasih kita sakit. Supaya apa? Supaya kita istirahat. Sama halnya dengan bumi ini, mungkin udah banyak banget kerusakan di muka bumi ini yang dibuat oleh manusia, mungkin saya salah satunya yang masih suka nyumbang sampah plastik. Masih suka nyumbang sampah pospak. Hiks. Mudah-mudahan Allah ampuni saya. Saya juga melihat banyak orang mulai nanem-nanem di lahan yang mereka miliki. Nanem mpon-mpon sendiri, nanem sayur, nanem daun bawang, macem itu lah. Kabar yang sangat baik sekali.

6. Ohya saya suka kadang agak gimanaaaa gitu, ini orang di sosmed kok jualan semua ya. Eh sekarang malah seneng, ayo siapa jualan apa lagi, kali ada yang saya butuhkan… Xixixi

7. Buat umat muslim, ini menunjukkan bahwa kita bukan menyembah Ka’bah. Masjidil Haram boleh ditutup, tapi apakah ibadah kita menjadi berhenti? Nggak kan… Ka’bah hanyalah arah yang mempersatukan umat Islam.

8. Muncul peluang baru: Jadi Yutuber. Heheh. Keknya channel-channel bermanfaat jadi lebih banyak muncul ya. Jadi, jihad di jaman ini adalah Jihad Kuota!!! Hehheh

9. Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan.
Yang disuruh kerja dari rumah ya di rumah aja. Kalo ada donasi-donasi gitu bantu sebisa yang kita mampu. Ingat, jangan nunggu kaya banget buat bersedekah ya!

Nah, ada hikmah apa yang kalian dapatkan?

Allah Selalu Melihat Kita

Hari ini dalam perjalanan pulang ke rumah kami, anak sulung saya bercerita.

Anak (A): “ummi, tau nggak, hari ini Ustadz suruh aku dan teman-teman untuk makan, dimana saja, ngumpet, nggak boleh keliatan siapa aja!”

Ummi (U): “Lha emangnya bisa…?”

A: “eits, tunggu dulu, aku aja belom selesai ceritanya…”

U: “oh iya, gimana, gimana?” (tolong ya ibu-ibu jangan kebiasaan memotong pembicaraan, ini pengingat terutama untuk saya sendiri)

A: “jadi Ustadz, memberi makanan ke aku dan teman-teman. Tapi kata Ustadz, makannya di tempat yang nggak ada orang, tidak boleh ada satupun yang melihat.

Terus, aku diskusi sama temen-temen, gimana caranya orang nggak melihat, kan Allah Maha Melihat?

Apa kita ngumpet aja ya, nggak usah dimakan…?

Ada temen aku yang bilang: tapi Ustadz suruh makan?

Temen-temen pada bingung mi, terus aku suruh tarik nafas hembuskan, biar nggak panik dan bingung..

Temen-temen kita jalankan rencana ini… Akhirnya aku ngumpet doang deh… Tapi nggak dimakan.

Pas udah kembali ke kelas, Ustadz tanya, sudah habis belom makanannya?

Temen-temen ada yang dimakan, ada yang enggak.

Terus Ustadz tanya satu-satu ke setiap anak.. Kenapa nggak dimakan?

Temen-temen akhwat jawab satu-satu karena Allah Maha Melihat…

Terus Ustadz kasih jempol deh sama senyum manis…

Temen-temen ikhwan banyak yang gagal. Semuanya pada makan, kecuali 1 orang saja.

Yeay, aku dapat checklist deh…(karena menyelesaikan misi dari Ustadz)”

U: (menyimak sambil tertawa.sambil mikir dalam hati: duh, udah setua ini kadang perasaan diawasi oleh Allah ada kalanya hilang, kadang hanya sebatas di lisan saja.

Jazakumullaah Ustadz dan anak-anak, hari ini lagi-lagi saya mengambil ilmu dari kalian semua)

“iya, mana bisa ya makan tanpa terlihat siapapun, Sedangkan ada Allah yang Selalu Mengawasi manusia, selalu Melihat segala perbuatan kita…”

Pilihan yang Tak Biasa

Kadang, ketika ada yang bertanya anak saya kelas berapa, saya bingung menjawabnya. “Ngg, Kelas 1, tapi sekarang setara Kelas TK B..”
Saya yakin, yang mendengar mungkin akan balik bingung. Tapi setelahnya kami lalu bercerita pendek soal Kuttab Al Fatih ini.
Lain kali ada yang bertanya
“Oh itu yang sekolahnya kayak pondok pesantren itu ya?”
Hmmm…Bukan mondok kok. Anak saya pulang selepas sholat dzuhur berjamaah kok.
Atau
“Oh itu sekolah yang anak-anaknya nggak boleh nonton tivi sama maen hape itu ya?”
Bukannya nggak boleh, tapi lambat laun anak-anak punya kesadaran sendiri soal manfaat dan nggak manfaatnya apa yang mereka lakukan.
.
.
.
Kilas balik setahun yang lalu,
Jujur.
Perasaan yang tidak bisa dideskripsikan ketika kami hendak memasukkan anak pertama kami ke Kuttab Al Fatih.
“Kita bakalan diterima nggak ya? Itu kan sekolah yang ndaftarnya buanyak, yang diterimanya nggak semuanya. Nggak pernah pasang iklan tapi kuotanya pasti full. Nasib kita gimana ya? Lihat deh ini, selalu ada permohonan maaf di pengumumannya: Mohon maaf kami tidak bisa menerima semua calon santri”
.
.
.
Dan kami kemudian hanya berharap kemudahan rezeki soal hal ini.
Sadar betul kami ini orang tua ala kadar yang fakir ilmu, atau mungkin sering mendapat ilmu tapi entah berapa yang terserap sebagian banyak yang di luar kepala alias menguap tak berbekas. Seringkali berakhir menjadi catatan. Namun lihatlah berapa yang jadi amal nyata. Kadang tak berani. Kadang merasa belum sanggup. Ada sajalah alasan.
Maka kami berharap Allah menjodohkan kami dengan Kuttab Al Fatih ini.
.
.
.
Kami berusaha mendidik dengan yang kami tau dan kami bisa.
Maka, kadangkala usaha ketika usaha kami tak lagi dirasa cukup, kami membutuhkan dan mencarikan “guru yang baik” untuk anak kami.
.
.
.
Hampir setahun ini kami bersama Kuttab Al Fatih,
dengan segala dialektikanya.
Kami sedang dalam fase bagaimana diarahkan menjadi orang tua.
Apakah itu mudah?
Tentu saja tidak.

Continue reading

Muslimah sebagai Seorang Istri

Lama tak menulis..xixixi

Kali ini saya mau mencoba share apa yang saya dapat waktu saya ikut pengajian ibu-ibu di perumahan..Bisa terbilang sangat jaraaaaang saya menulis soal apa yang saya dapat..Saya punya kelemahan soal menyampaikan kembali..Sering tidak sistematis…Beda halnya menulis soal keseharian itu kan mengalir saja.Tapi menyampaikan suatu ilmu kembali,itu sungguh berat buat saya..Makanya mungkin selain materi kali ini emaks emaks bangettttt dan mengena makjleb bertubi-tubi mungkin agak dapat ruh nya..I’ll try then

Entah judulnya apa? Hahaha saya beri saja judul ya “Muslimah Sebagai Seorang Istri” (makleummm bawa bayik,yaa ndengerinnya sambil gendong2 gtu deh..euh kasian amat anak2 selalu jadi kambing hitam ya..tapi memang iya..hadirnya kita di majelis ilmu membawa anak-anak itu memang nggak akan membuat kita 100% menyerap ilmu..hadir sendiri aja belom tentu bisa 100% apalagi bawa anak #eh pembenaran lagi.tapi saya yakin,hadirnya kita di majelis-majelis ilmu yang katanya turut dihadiri oleh para malaikat sehingga menjadi salah satu waktu diijabahnya doa, memberikan sebuah kesempatan emas untuk saya untuk banyak berdoa..apa saja..orang jawa bilang:ngalap berkahnya saja..kalau ada yang heran kenapa saya mau bersusah-susah bawa bayik hadir ke kajian ya karena ini..mudah-mudahan dengan hadirnya saya saja mendapat barokah dari Allah sekaligus itu tadi,saya banyak berdoa dalam hati.aamiin)

Pengajian serius tapi santai, ringan namun bergizi kali ini disajikan oleh Ustadzah Hj. Erika Suryani Dewi,Lc..Beliau ini aktif di Daarut Tauhid.Pernah tinggal di Sudan juga selama 13 tahun.

Pernahkan ibu-ibu sekalian terbangun di pagi hari dan bingung akan mendahulukan yang mana?Tumpukan piring menggunung?Perut lapar keroncongan,Masak dulu?Baju kotor sudah menumpuk?Lantai rumah minta disapu? dan berakhir dengan tidak melakukan apapun…?

===

.Kekuatan Doa.
Kadang kita lupa memulai hari dengan memohon pertolongan dengan berdoa kepada Allah..Kita cuman ingat berdoa soal Ya Allah minta jodoh,Ya Allah minta rezeki, Ya Allah sembuhkan lah anak-anakku yang sakit, Ya Allah pengen bla bla bla, dan yang lainnya..Tak ada salahnya jika kita selalu menyertakan dan memanjatkan doa kepada Allah di setiap urusan, sekecil apapun urusan itu..Tak ada salahnya kita berdoa “Ya Allah mudahkan urusanku hari ini..” “Ya Allah mudahkan dan ringankan aku dalam menyetrika” Tak ada salahnya…Sehingga setiap hal yang kita kerjakan di rumah entah itu menyapu, entah itu mencuci piring, entah itu menyapu, mengepel dan aktivitas lainnya akan terasa ringan dikerjakan dan mudah-mudahan mendapatkan ridho dari Allah..Karena apa, jika Allah ridho, surga lah balasannya insyaAllah..

…ingat…ridho Allah = surga…

Itu kenapa surga ada di telapak kaki ibu..dalam setiap langkah-langkah nya di rumah jika ada keridhoan Allah,insyaAllah surga lah balasannya..

Bahkan, sampai dikatakan bahwa jihadnya wanita itu adalah di rumahnya..

===
.Benahi Niat.

Terkadang yang membuat terasa berat, sempit dan tidak lapang itu adalah ketika mata kita bertabrakan dengan materi,dengan hal-hal yang berbau duniawi.Sahabat Rasul dulu dikisahkan jika di rumahnya sudah terlalu banyak perabot,maka mereka akan mengeluarkannya dari rumahnya..Supaya apa?Supaya mereka tidak terikat dengan dunia..Apalagi untuk kaum hawa..Kebanyakan mereka ini membeli apa yang mereka inginkan, bukan yang dibutuhkan..Pun hati-hati, jika kita menginginkan anak-anak kita bersekolah tinggi hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan uang yang banyak, koreksi kembali niat kita..Tanamkan kepada mereka bahwa surgaNya lah yang menjadi orientasi hidup kita..Supaya kita bisa masuk surgaNya Allah..Karena kehidupan kita di dunia ini tak lebih dari sekedar musafir yang hanya tinggal sementara saja.

Juga jangan suka mengungkit-ngungkit.Misal, dengan mengatakan “Ibu ini sudah capek-capek mengurus kamu.” Atau “Ibu ini sudah habis banyak uang menyekolahkan kamu”

Dalam hadits disebutkan “Jangan suka membatalkan pahala sedekah dengan mengungkit dan menyakiti”

Maka dari itu ikhlas ini bukan perkara saat dikerjakan saja, akan tetapi adalah sebuah perkara panjang sampai kita mati.Karena sepanjang itu,setan tidak akan berhenti menggoda kita.

===

.Jadikan Baiti Jannati.

Maka dari itu..jadikanlah rumah-rumah kita ini sebagai masjid,sebagai pesantren,sebagai markas,sebagai basecamp,sebagai magnet yang mempunyai daya tarik..Bagaimana supaya anak-anak betah di rumah? Itu dimulai dari bagaimana ibunya.

Jadikan rumah kita sebagai tempat pulang yang nyaman sesuai al quran dan as sunnah.Bukan dengan kenyamanan lain yang tidak sesuai dengan keduanya.Jangan sampai ketika kita akan pulang ada perasaan malas pulang ke rumah,tidak betah,tidak nyaman,tidak tenang.Hari ini kalau kita sadari,musuh-musuh Islam akan berupaya bagaimana membuat wanita-wanita berada di luar rumahnya.

===

.Wahai Ayah. Continue reading

30 my age 😢

Menjelang usia saya yang kepala tiga ini saya jadi teringat momen dimana mama saya pernah menjadi single parent.. 😭😭 Kala itu mama saya berusia 33 tahun dengan 3 anak piyik. Saya masih kelas 1 smp, adek yang nomer dua masih kelas 4 sd kali yak, dan yang nomer tiga masih 1,5 tahun. Hidup sebagai single parent di kala itu nggak mudah. Secara ya,,masih kinyis-kinyissss bo. Banyak yang ngrasani. Banyak yang menggoda. Ada yang ngelabrak. Ada brondong muda yang mendekat. Ah macem-macem lah ceritanya.. Saya ingat itu semua, tapi waktu itu saya nggak bisa saling cerita dan bicara dengan beliau. Kita memilih bahasa diam. Mama saya diam, kadang tiba-tiba menangis. Saya juga diam nggak ngerti mesti gimana..MasyaAllah,betapa tabah dan sabarnya mama saya kala itu yak.. 😖😖

… Sampai suatu saat dimana saya dewasa dan menikah, saya jadi tau…

Mama saya pernah bilang, mama punya dua anak perempuan, mama nggak pengen ngerusak rumah tangga orang lain pun seandainya itu bisa dilakukan.. Mama cuman nggak pengen, kalo anak-anak mama yang mengalami itu gimana rasanya? Pasti sedih dan menyakitkan kan. Mama nggak cuman mikiri enaknya mama aja. Anak-anak gimana..

Jadi dulu, setelah menjadi single parent itu.. ada mas-mas brondong yang umurnya kira-kira 24 an lah mendekati mama saya. Mama saya cuman bilang, sampean tu masih muda. masih lebih layak dapet yang lebih muda. Ya itu tadi. Beliau cuman nggak mau anak-anak perempuannya kelak mengalami hal yang pahit-pahit. Kata mama, segala hal nggak enak biar mama aja yang ngalamin.. Ya Allah,sayangilah mamaku selalu..

Mama saya juga orang paling depan yang menyuruh saya nggak boleh bekerja. Kamu kalo kerja, nanti siapa yang merhatiin suamimu? Sama-sama capek. Gtu katanya. Yawes saya iyah-iyah aja. Walopun kadang jujur saja namanya juga manusia biasa kadang ada lah masa nya saya pengen bekerja kantoran pake jas apoteker. Wkwkwkwk. Atau pake jas lab kerja di lab. Ih mimpi saya banget itu dulu, kerja barengg mikroskop setiap hari. Sampe ngebayangin tinggal di tepi pantai, punya rumah di tepi pantai dan punya mini laboratorium di dalam rumah.

Suatu saat saya pernah nawari beliau hape android. Ya biar kami mudah berkomunikasi. Jaman udah canggih, kan kita pengen yak video call an sama beliau. Jawab beliau apa? Nggak ah. Mendingan hape jadul. Banyak bahayanya itu lanjut beliau. Apa itu wa itu.. Begh bisa-bisa ada yang menggoda mama. Kita tuh tambah lama menikah godaannya makin banyak (iya,akhirnya mama saya menikah lagi pas saya kelas 3 smp). Ada aja lah dari mana-mana. Beliau tu beneran pesen sama saya, kalo nggak penting-penting banget gak usah ya chat chat sama laki-laki. Apalagi curhat-curhat sama laki-laki. Lebih baik hati-hati dan dihindari yang kayak gitu. Saya iyah-iyah ajah (namanya juga dinasehati dengerin aja dulu kan..). Ya saya tau diri juga kalik. Kalo gak penting-penting amat saya nggak akan nanggepin. Ngapain. Kek gak ada orang lain aja selain saya apah. Istri orang ini tauk. Yaa once you open the door, i think you will give another chance, bener juga kata mama saya. Bahasa jawanya mah witing trisno jalaran soko… Gak ono maneh!! 😪 Inget. Sesuatu yang dulunya tabu jadi nggak tabu karena apa? Ya karena itu tadi, karena dianggap biasa aja..

Eh eh katanya begini,wew…

Nah looooo…

Terkait gambar di atas, ada kebiasaan lucu mama saya.jadi inbox sms nya itu nyaris selalu bersih.cuman biar apa?yaaa biar nggak rame aja kalo sewaktu-waktu papa saya liat.jadi gambar di atas nggak selalu berarti kek gtu yak.. 😁

Mama juga pernah bercerita.. Bahkan dulu, kalo ada tamu laki-laki alm bapak saya, mama saya nggak boleh tu ikut ketemu. Cukup menyuguhkan makanan/minuman, udah masuk lagi ke dalam ruangan lain. Tapi mama saya juga baik-baik aja digitukan, soalnya bapak saya juga gak pernah lirak-lirik sana-sini. Alm bapak saya termasuk yang kaku soal gimana berinteraksi dengan perempuan lain. Bener-bener secukupnya aja nyapa perempuan lain selain mama saya. So sweet dah kisah mereka itu.. alm bapak saya dan mama itu dulunya sama-sama punya banyak mantan wkwkwk bahasa kerennya playboy and playgirl gtu.. tapi begitu mereka menikah gak ada lagi tuh tebar-tebar pesona. gak kayak jaman sekarang yak. makin tua makin menjadi. Makin tebar pesona sana-sini. 

Ah, jadi nostalgila deh saya.. mudah-mudahan Allah selalu menyayangi kedua orang tua saya. Tanpa mereka, apalah saya..

Tapi akhirnya beberapa waktu yang lalu saya jadi tau. Ada yang share video di newsfeed fesbuk (jaman sekarang kan apa yang ada di newsfeed fesbuk suka dijadiin berita di portal-portal berita bahkan kadang sampe masuk tv, dih kurang berita apa gimana sih yak). Pekerjaan paling luar biasa bagi para iblis tu katanya ya berusaha merusak rumah tangga dengan segala cara. Bahkan kalo mereka laporan sama bosnya saya udah menyuruh manusia ini itu kurang bergengsi pekerjaannya, yang paling oke tuh ya merusak rumah tangga anak manusia sampai membuat mereka bercerai. Duh, naudzubillaah.. Saya pernah nonton di link inih:

Hmm. Jadi ngeri sendiri. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga rumah tangga saya. Sebaik-baik penjagaan hanya penjagaanNya.. aamiin

..kalo candaan saya sama temen-temen.kita-kita kaum perempuan ini tambah lama kek mobil,harga jualnya tambah turun.tapi kalo laki-laki tuh ibarat properti,makin lama makin naik terus harga jualnya.ya iya,mereka tambah lama,harusnya secara karir semakin bagus.duit harusnya semakin stabil.lha perempuan?belom beberapa kali turun mesin akibat hamil-melahirkan-menyusui.tapi percayalah,kamu cantik luar biasa di mata Allah. 😍…

celoteh krucil #11: cita-cita

waktu umur 3th ++ kalo ditanya cita-citanya mau jadi apa, kakak nailah bilangnya mau jadi ilmuwan..
(gegara waktu kecil sering dikasi nonton vcd kakek pengetahuan)
sekarang sudah 4th ++ kalo ditanya cita-citanya mau jadi apa,
bilangnya:
aku mau jadi dokter dan dokter gigi
(kalo ini kayaknya karena dia amaze dengan profesi dokter)

ini sebuah kemajuan.dulu saya bahkan nggak kebayang punya cita-cita pengen jadi apa. asal ceplos aja pengen jadi arsitek, dan bertambah besar makin sadar: nol putul soal gambar-menggambar dan agak lemah di kecerdasan logis dan kecerdasan spasial. entahlah sebenernya saya ini jago apa. hahaha. kerasanya cuman dijejeli semua ilmu dan tau sedikit-sedikit di permukaan. dan nggak paham detailnya. tapi ternyata arah pendidikan kita memang demikian. sekalipun S1, bidang ilmu yang dikuasai masih sangat umum. baru kalo sudah S2 dan S3, makin menguasai suatu bidang ilmu secara khusus. jadi sadar, makin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, sejatinya semakin sedikit ilmu yang dikuasai, karena semakin khusus. tapi yamg membuat kaya menurut saya adalah pengalaman menuju ke sana.

kembali ke soal cita-cita kakak nailah, yang saya amati, cita-citanya konsisten menjadi orang di balik layar..kalo diamati dengan karakternya saat ini udah cocok sih..she was born not to be an actress i guess 😉

hehehe,apapun itu cita-cita: di mata Allah tugas kita cuman jadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dengan sebaik-baik amal.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” [QS Al Mulk (67) : 2]

Cerita Kita #2: Haid itu Apa Mi?

Beberapa hari yang lalu saya sedang membayar hutang puasa. Kakak Nailah tau, umminya sedang puasa. Dia sibuk tanya, hutang saya tinggal berapa. Pagi sebelum dia berangkat sekolah, dia tau saya tidak sarapan. “ummi puasa ya?”
Pulang sekolah, saya makan hahaha. Lalu, dia bertanya, “ummi katanya puasa? kok makan” (dulu sudah pernah saya beritahu bahwa puasa itu tidak makan dan tidak minum, dari adzan subuh sampe adzan maghrib.. pernah saya ceritakan, kadamg dia suka lupa nawarin makanan pas saya lagi puasa, akhirnya lama-lama dia paham..)
tik tak tik tuk tik tak tik tuk, udah laper disuruh njelasin pulak. apa ya errrr. yawdah bilang aja yang sesungguhnya..
“Oh iya ummi haid..”
“haid itu apa mi?”
hmmm, mikir dikit dan saya mulai mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mungkin dia pahami…
“haid itu adalah tanda kalo wanita jadi dewasa.itu nanti bakalan keluar darah dari tempat pipis.darah itu darah kotor,harus keluar, kalo nggak dikeluarkan nanti bisa jadi penyakit.”
“sakit nggak??”, tanyanya lagi (ini anak saya tuh kalo sama luka,sakit dll agak lebayyy..luka cuman beset doang nangisnya luarrrr biasa)
“yaa sakit sedikit, tapi jangan dibayangkan kayak luka ya..”

“kalo ayah?”, okay pertanyaan masih berlanjut..
“ayah beda lagi… laki-laki dan perempuan Allah ciptakan nggak sama. kalo perempuan punya tempat buat simpen kakak waktu masih dalam perut, namanya rahim.laki-laki enggak. kalo perempuan bisa menyusui anaknya. laki-laki enggak.”

“ooo..”
(fiuuuuuuhhh akhirnya muncul juga o tanda mengerti,, okaay, sementara ini pertanyaan nya begtu..nanti-nanti pasti bakalan muncul pertanyaan lainnya..)

Baksos Ramadhan

Latepost juga sebenernya, makleum kalo baru beres acara masih suka jetlag gtu deh..
Sharing kegiatan positif kan nggak mengenal waktu yaak..Semoga bisa diadopsi untuk kegiatan positif di tempat Anda yaak..
Jadi judul acaranya adalah Belanja Sambil Beramal..
Idenya: menjual barang-barang di rumah kita yang sudah tidak terpakai, tapi masih bagus. Sama-sama menguntungkan: space di rumah berkurang (istilah kerennya declutter) dan bisa dijadikan ladang amal. Waktu itu kita juga menerima uang tunai, tapi dengan jual barang-barang yang masih in very well condition itu katanya yang punya ide lebih seru daripada langsung terima cash, well, belakangan saya menyadari, kan jadi tau warga sekitar juga yak dengan interaksi jual beli yang terjadi.. Jadi, nantinya hasil penjualan dan uang tunai yang diterima akan dibelikan sembako untuk disalurkan kepada para janda-janda yang sudah sepuh dan juga untuk bapak-bapak penggali kubur di TPU.
Rasanya kalo diingat-ingat, ini adalah baksos pertama yang saya ikuti sejak setelah menikah deh ya. Makleum habis nikah baru menghuni rumah Bandung 2 tahun, ayahnya Nailah mutasi ke Jekardah. Habis itu ngontrak, yaa kalo ngontrak kan gtu yaak, cuek beybeh. Nah, jadi barulah disini ini saya jadi terlibat proyek amal lagi secara langsung.. Kalo yang nggak langsung, kadang kan kurang berasa gimanaaaa gitu, hehehe
Nah, yang punya ide adalah senior di perumahan yang usianya sama kayak Mama saya tapi masih cihuy bin gaul bingits deh! Makleum warga metropolitan yaa.. Sosialita yang udah biasa bikin acara-acara amal (kalo saya mah apa lah, hanya butiran debu kosmik)
Pengumpulan barang-barang berlangsung satu minggu. Sempat ada miskomunikasi berantai tapi nggak menyurutkan semangat kami.. Orang kan di bulan ramadhan berlomba-lomba berbuat kebaikan! Jadi mesti semangat dong yak.

Acara jual-menjual berlangsung dari ba’da asar sampe menjelang solat tarawih. Animo warga yang membeli juga bagus banget loh.
Alhamdulillaah di akhir kegiatan, dengan ijin Allah, bisa dibuat 160 pake sembako masing-masing senilai 80ribu rupiah.. Barakallahu fikum, semoga Allah selalu membimbing kita agar selalu berada di jalanNya, aamiin

image

dipilih-dipilih-dipilih

image

Persiapan & Pembagian Sembako

image

Pembagian Sembako

Membuat orang tersenyum itu memang candu ya? Candu yang baik.. 😉