Mungkin Dulu Mamaku Pun Begitu

Beginilah rasanya menjadi orangtua. Ternyata. Butuh banyak stok sabar. Yang chargernya hanya Allah yang ‘menjual’. Yang hanya bisa ‘dibeli’ dengan doa..

Ada suatu masa kakak nailah mogok sekolah. Tidak jelas apa penyebabnya. Okai, 13 hari ijin, demikian penjelasan raportnya. 😀
Setelah dikorek-korek, sederhana, karena temennya ada yang jail menurut dia. Okai. Saya tidak yakin itu penyebab utamanya. Tapi dalam 13 hari ijin itu, kami jadi sekolah di rumah. Hmmm,, mencoba yang namanya homeschooling yang susah-susah-gampang-juga-ternyata.. (mungkin ini semacam reminder untuk saya: bagaimanapun, walaupun anak bersekolah, orangtualah yang tetap punya peran penting mengawasi tumbuh kembang anak. gak sepenuhnya diserahkan ke sekolah)
Menjadi orangtua itu, harus punya sikap legowo. Gak bisa semuanya kita paksakan keinginan kita untuk si anak, karena sejatinya, mereka walopun makhluk kecil tapi juga punya keinginan sendiri..
Okai, untuk yang ini saya teringat tentang pentas seni kakak kelas tk B di sekolah kakak nailah dimana harusnya kakak nailah menari bersama teman-teman. Setelah kejadian mogok selama 13 hari itu, kakak nailah kembali bersekolah, tapi lebih banyak minta ditunggui.

Padahal awalnya dia pergi ke sekolah dengan riang, berani dan tidak rewel. Hohoho. Nah, di kala saya harus menunggunya, hari-hari akhir masuk sekolah memang diisi dengan persiapan pentas seni itu. Kadang mesti dibujuk supaya ikut latihan. Kadang berakhir dengan mogok lagi mogok lagi. Yaaa gtu deh. Kalo sudah begitu, muncul tuh mulai membanding-bandingkan deh dengan diri sendiri: ih kakak nailah kok gak berani gtu sih, ummi aja dulu pergi ke tk naek becak sendiri. Dan apa yang terjadi? Hahaha, nangis di atas pentas di hari-H !!! Nah, yang kayak gini, kalo terus-terusan disepoi-sepoi lama-lama bisa jadi pikiran negatif, ngerasa jadi ibu yang gagal. Kalo udah ngerasa jadi ibu yang gagal, wah bisa sangat buruk efeknya.. Disana saya jadi belajar deh, okai jangan ngeliat hasilnya. Lihat prosesnya. Lihat prosesnya. Sesuatu yang sebenernya teorinya udah hapal luar kepala, tapi pada prakteknya yaaa gtu deh… Tapi sesuatu yang terjadi bukan sesuai keinginan kita akan selalu jadi kisah. Dan pasti selalu ada hikmahnya (kalau kita mau mencari)

Dan kali ini..,
dalam libur sekolah yang panjang ini, saya kembali harap-harap cemas.
Duh, kalo masuk sekolah lagi kakak nailah gimana yaaaaa….
Berani nggak ya.
Atau minta ditunggui?
Itu aja yang ‘mulek-mulek’ dalam kepala saya.
Udah ngebayangin, kalau saya mesti nungguin lagi, hwaaaa kerjaan rumah (agak dan banyak) terbengkalai..
Hmmm, mamaku pun dulu juga begitu kali yak..
Setres kalo anaknya mulai sekolah, setres kalo mau rapotan (nilainya berapa), setres pas anak ujian (ntar lulus nggak ya), setres anak sidang, anaknya nikah, anaknya lahiran,,daaaaan seterusnyah

Dalam ikhtiar kami yang terbatas,gak layak rasanya kami berkata: alhamdulillaah semua ini atas usaha dan kemampuan kami…
Allah lah yang memberi kekuatan, kemudahan, kemampuan dalam menjalani kehidupan.
Dan di kala daya upaya mungkin tak lagi ada, maka hanya doa yang bisa kita pinta, karena si lemah ini tak ada apa-apanya di hadapan Sang Maha Kuat….

-malam 19 ramadhan, emak-emak yang agak mumet melihat tumpukan setrikaan, persiapan packing untuk mudik, target tilawah, dan anak masuk sekolah di tahun ajaran baru-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s