berdamai

hehe. tergelitik dengan komen seorang kawan, apakah saya masih waras karena sudah sebulan an lebih tidak ngeblog? alhamdulillaah. masih waras. sometimes sedikit tidak waras. πŸ˜€
a part of difficult thing called happiness : berdamai dengan diri sendiri.
everything become was not real. like a dream. since, i must move on. mungkin bahasa gawl nya sekarang, orang bilang : manusia gagal move on.
entahlah. apa ya. yang membuat saya belum bisa berdamai dengan kota ini?
too ‘crowded’ ? sementara saya anak ndeso. berarti saya too ndesit. :p

berbulan-bulan keliling survei rumah. ada satu hal yang menarik. pernah saya ke sebuah perumahan. mblusuuk. judul nya berbau: hill, valley, river view. iya. pemandangan semacam itu bisa jadi nilai jual yang wow. padahal. biasa aja kan buat orang desa yang akrab dengan suasana alam pegunungan, sungai, bukit, dll. ironis? iya, saya bilang. pernah kami tak sengaja bertemu dengan pemilik rumah yang sedang dibangun ketika kami sedang survei. suasana disini masih dingin, sejuk, gak ada polusi, begitu kata beliau. (nyehehe. di rumah saya masih begiti). oh, berarti orang kota merindukan suasana desa ya? syubidubidu.

memang. semenjak di kota ini, saya banyak bertanya tentang takdir, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dipertanyakan. banyak menyesal. banyak mengeluh. secara psikis memang lebih tidak baik daripada di bandung. hehehe. manusia memang aneh. sementara setiap lebaran, Jakarta kebanjiran para urban baru. saya tidak ingin kembali ke kota ini. sampe detik ini juga. saya masih bertanya, hikmah apa yang bisa saya ambil ketika saya berada di kota ini? kalo kata sidia. mungkin selama di bandung kemaren kami kurang bersyukur. mungkin. bisa jadi. jangan sampe deh. saya merasa menjadi manusia paling malang seantero jagad. jauh-jauh..

memang. bulu mata sendiri tak pernah terlihat sempurna sebelum berkaca.
dan lalu.
apakah saya menjadi lupa atas nikmat keluarga bahagia, suami yang baik hati, anak yang lucu?
hidup yang berkecukupan, tidak kekurangan?
nikmat kesehatan?
nikmat bernafas dengan baik di tengah polusi yang ganas?

mungkin iya.
saya menjadi lupa.
entah apa yang berkelebat dalam benak saya.

butuh cermin yang besar mungkin?

….
….
….

mari kita tutup dengan istighfar sebanyak-banyak nya. πŸ˜₯

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s