dendam

widiiiwww.dari judulnya aja udah syerem.beneran.tapi saya lagi pengen cerita bagian itu.
dalam hidup saya, suatu ketika saya pernah terdampar dalam sebuah rasa yang namanya dendam.awalnya karena saya hanya anak usia di bawah 17 tahun yang memang belum matang secara emosional, terjebak pula dalam situasi yang ruwet, dan tidak bisa berbuat apa-apa.maka hati kecil saya kemudian hanya bisa ‘mengutuk’ alias nyumpah-nyumpahi alias maki-maki.
berawal dari sebuah kalimat “kita gak akan makan harta anak yatim” dan ternnyata keadaannya jadi pelik. saya kemudian jadi penah mendendam. sampai sekarang?? kadang. efek buruknya apa? dalam situasi sulit kadang sifat itu jadi muncul. klo udah begitu. buruan saya istighfar dan mendoakan yang baik-baik. dan ini sulit sekali buat saya. mendoakan kebaikan untuk orang yang berbuat jahat kepada kita? tapi begitulah Islam ajarkan bukan? mulia sekali. dalam sebuah kisah yang sangat terkenal, Rasulullaah tetap menyuapi seorang buta yang jelas-jelas memaki beliau. tetap dengan halus! ketika Rasulullaah wafat, maka si buta menyadari bahwa orang yang menyuapi nya bukan lah yang biasa melakukannya. kenapa katanya? “orang yang biasa menyuapiku sangatlah lembut”
duuh..saya masih jauh dari itu. kadang mungkin saya terlalu banyak tidak sabar. lalu menjustifikasi dalam pikiran: “saya hanya manusia biasa” pembenaran-pembenaran ini yang kemudian bisa mengkerdilkan hati kita tampaknya ya..
maka..
tambahan angka dan berkurangnya masa hidup kita di dunia ini selayaknya bisa membuat kita menjadi manusia bijaksana ya.
itu teori.
prakteknya?
gak sedikit yang semakin tua semakin menjadi. mau dibilang ” sudah bau tanah” kok ya terlalu sarkasme. gak dibilang begitu eh nanti dia bilang “masa’ kalah sama yang muda” serba sulit memang.

saya…
sederhana.
semoga dendam yang pernah saya punya bisa hilang. saya bisa punya hati yang lapang untuk memaafkan. bukan hanya di lisan tapi sampai ke hati terdalam. karena manusia kan cuma manis di bibir aja seringnya..
punya hati seluas samudera dan akal yang jembar untuk ‘nrimo’

untuk semua rasa yang silih berganti dalam hidup.
ah.
berwarna.
pelangi pun terlalu sedikit untuk menggambarkannya..

ya Allah.
di saat tuaku nanti.
pintaku sederhana.
keluarga yang saling menyayangi setulus hati.
dan suami yang mau jadi tukang kerik/pijat yang setia.. :3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s