First Pregnancy Memory [part one]

Karena selalu celingak-celinguk klo ditanya tentang usia kehamilan, maka dengan segala ke-haitech-an nya, suami saya kumat ngoprek di hape androidnya, yang dibeli dengan penuh pertimbangan itu.. Dan, didapatlah sebuah aplikasi bernama “Pregnancy“, sumbernya di sini rupanya. Aplikasi ini kalau diinstal dengan benar dan berjalan dengan baik,  insyaAllah akan memberikan informasi tentang “My Pregnancy Today“, isinya kurang lebih tentang:

– perkembangan kehamilan dari hari ke hari: nah, jadi kita bisa mengetahui, sekarang usia kehamilannya sudah berapa minggu yaa..pastinya ingat-ingat kapan HPHT Anda, supaya bisa mengetahui juga HPL. Yeah, ini seperti count down menuju ramadhan yang suka dipasang di kampus sebagai pengingat itu. … days to go, kira-kira seperti itu. Ohya, ini juga termasuk bagaimana perkembangan tubuh si ibu hamil::membuncit di usia kehamilan berapa misalnya::

*note: HPHT (hari pertama haid terakhir), HPL (hari perkiraan lahir).

– perkembangan janin: ah, yang ini so cute. mulai dari gambaran tentang ukuran janin, berat janin, sampai gambar perkembangan janinnya sendiri. Dilengkapi gambar, kadang-kadang ada videonya juga. Ah jadi makin kangen untuk ketemu yaa.. Jadi suka membayangkan dan cari tahu, sekarang sudah sebesar apa, sudah bisa apa, organ apa yang sudah berkembang.. Subhaanallaah.. Gemeeees sodara-sodara.

to do list nya ibu hamil: kalo yang ini tentang aktivitas yang dianjurkan untuk ibu hamil, membuat janji dengan dokter/bidan, mencatat kenaikan berat badan, mengikuti senam hamil, mempersiapkan kelahiran dan nama bayi, pokoknya semua hal yang dianjurkan supaya ibu hamil tetap on the track. Sampai-sampai ada check list untuk bersenang-senang! Ah, ibu hamil memang harus happy teroooosss… 😀 Nah, tulisan ini juga dibuat, terinspirasi oleh aplikasi ini, soalnya, ada salah satu check list: write your pregnancy memory.. begitu katanya..

– petunjuk tentang nutrisi yang sebaiknya dikonsumsi: yang ini sangat membantu. kan heboh juga kalo mesti buka kuliah yang sebantal-bantal itu, buat nyari bahan ini. kalo ingin informasi yang lebih lengkap tentang sesuatu topik, biasanya aplikasinya akan minta untuk terhubung dengan internet. Jadi, jangan lupa aktifkan GPRS nya… (hehehe, suka lupa soalnya!)

Nahhh, isinya kurang lebih itu, menarik kan… Sayangnya masih berbahasa inggris (calon ayah dan ibu jaman sekarang harus pinter-pinter ya berarti..), jadi kadang masih suka ngahngoh, heeeh, artinya apa yaa.. Beruntunglah saya anak Farmasi! Tidak terlalu asing dengan istilah medis. Karena sewaktu kuliah saya pernah baca text book yang segaban-gaban itu. Haghaghag.. 😀 woooow, sudah panjang aja ini tulisan, padahal sebenernya saya bukan mau nulis tentang itu. Hihihi.. Baiklaaaah… Here is my pregnancy memory.. Hope you enjoy it. 😀 (tulisan ini dibuat bukan untuk berbangga-bangga, ini sebagai salah satu cara saya menitipkan kisah, untuk dikenang dan diambil hikmahnya. kalo ada cerita atau pemilihan kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.)

0-6 minggu

Baiklah, hamil buat saya antara senang dan galau. Senang, karena akan ada anggota baru. Galau, karena saya akan mengemban amanah baru. Akan ada panggilan baru, akan ada ayah, ummi, eyang, mbah kung, mbah uti, pakdhe, budhe, om, tante.. dan sebagainya. okai, sedikit cerita, saya menikah 24 Maret 2010. dan melihat testpack positif 6 Maret 2011. Awalnya saya kira, saya “dapet” lagi di bulan Februari karena sedikit “flek” di 24 Februari malam-26 Februari sore. Sengaja tidak coba testpack, soalnya sudah mengira tidak “jadi” lagi sepertinya. Hehehe… Saya masih inget, itu sibuk-sibuknya suami lagi ngurus si tempat pelanggan Sengsongseng, jadilah saya desperado, sendirian di kosan dan desperado dah pokoknya.. sedikiiiiit, sudah biasa soalnya (dan sedang siap-siap pindah ke rumah, jadi memang gapapa dah klo belom dikasi, kan mau bercapek-capek ria angkut-angkut barang). Ceritanya memang di tanggal 24 Februari itu, memang harusnya masuk jadwal “dapet”, tapi anehnya, kok cuma dua hari udahan yaa.. Maka setelah satu minggu lebih dan tidak ada kelanjutan “dapet” nya, maka mulailah saya curiga (biasanya kan klo “dapet” rentang waktunya udah rutin tuh tiap bulan, penting nih yaa buat para calon ibu untuk mencatat jadwal haid nya, saya sampe punya catatan khusus siklus haid dari bulan-ke-bulan, jadi kita sendiri bisa memprediksi tentang masa subur, jadwal haid berikutnya, bahkan bisa digunakan sebagai pengatur jarak kehamilan secara kalender (baca: KB kalender)). Makaa, dengan perasaan penasaran dan berharap, dibelilah itu alat testpack. Hahaha, selalu malu klo beli sendiri, maka di-ospeklah si calon ayah itu untuk nyamper ke apotek. hehehe. maka, terbangun di dini hari karena pengen BAK, saya bangunkan deh suami. Ayoo, testpack sekarang aja, karena katanya, kadar si hCG (human chorionic gonadotropin: jadi si hormon ini adalah indikator kehamilan awal, karena diproduksi setelah adanya perkembangan embrio)  paling tinggi di pagi hari. Masih antara melek dan merem karena masih mengantuk, kami sama-sama harap-harap cemas, akankah si alat itu menunjukkan dua strip alias positif. Dan, antara senang dan senang dan senang (perasaannya cuma senang), ternyata alhamdulillaah: DUA STRIP UNGU sodara-sodara. Sengaja, ga difoto. Hehehe, entahlah, saya nggak mood mengabadikannya. Melekat dalam memori soalnya.. 😀 Pokoknya waktu itu, takjub dan bingung. What must to do next..? Yang jelas, saat itu masih pagi, jadi mari tidur lagi sajaa,,sambil menunggu subuh.. Hehehe…

Esoknya, merencanakan untuk pergi ke bidan/dokter. Berbekal informasi yang sudah didapat sebelumnya, maka kami pergi deh ke bu bidan. Itu tanggal 7 Maret nya. Setelah gagal antri di rumah sakit, karena dokter perempuannya tiba-tiba tidak praktek. Kerennya, di bu bidan ada usg nya. Walopun sudah jaduuul sekali. Cek tekanan darah: normal.bagus. Di-usg, belum terlihat janinnya. Masih berupa kantungnya begitu. Ahh, “Tapi ada kan ya bu bidan..?” “Ada, masih kecil.” Alhamdulillaah. Nyampe kosan, sms ibu, mama, temen-temen, minta do’a.

Naaaah, tapi tanggal 8 Maret malam, tiba-tiba saya demam. Sampe beli termometer, soalnya panaaaasss banget. Sampe 37,6 derajatcelcius. Batuk pilek segala rupa. Mana nggak bisa minum sembarang obat. Heu, panik aja dah pokoknya. Lebih panik lagi, pas tanggal 10 Maret pagi, tiba-tiba “flek” kayak awal-awal “dapet” gitu. Huawwww, langsung tereak-tereak. Dan merencanakan pergi ke bu bidan lagi. Tapi, saya tetep mencoba santai, walopun aslinya panik. Toh, semua sudah diatur sama Allah, yang ngasi Allah, yang ngambil juga Allah. Ke bu bidan lagi. “Looooh, bukannya kemaren baru periksa?” “Iyaa, keluar daraah.” Yaudah, ditestpack lagi ya, masih ada ato nggak (heu, syereeem). Habis ditestpack (alhamdulillaah masih positif), di-usg lagi, kantungnya juga masih bagus. Coba dipertahankan dulu ya. Huaaaw, pengen nangis tapi bingung apa yang mau ditangisi, lha wong semuanya kepunyaan Allah. Sempat nengok rumah pulaaa.. Parrraaaah, bukannya langsung bedrest. 😀

ohya, tekanan darah juga bagus.normal. dikasi resep disuruh nebus di apotek. dapet obat yang isinya Progesteron Sintetik. Mahal booo.. Pas dapet obatnya, pake nanya dulu pulaaa: ada generiknya ga? Udah ga kepikiran, bener gak dikasi obat itu. Pas mau minum baru deh buka ISO (ini buku contekannya Apoteker, ato Asisten Apoteker kalo di Apotek), hahaha, dasar ibu-ibu tukang obat, mau minum obat pake buka buku dulu. Ternyata beneer. Dan alhamdulillah di jadwal periksa berikutnya si janin sudah aktif bergerak-gerak. Subhaanallaah..Alhamdulillaah. Allah Maha Besar. Mohon doanya, yang terbaik untuk keluarga kecil kami.

**di balik layar**

1) klo diitung-itung, hampir sekitar 11 bulan ato anggaplah setahun setelah menikah saya baru diberi kepercayaan oleh Allah. bisa dibilang lama, bisa dibilang cepet. relatif. intinya: semua indah pada waktunya. Allah pasti tau yang terbaik untuk hambaNya. tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambaNya. intinya lagi: POSITIVE THINKING (khusnudzon terus sama Allah, bukan berarti saya nggak pernah berburuk sangka. Pernah. Tapi biasanya saya langsung minta ampun sama Allah, langsung ngerasa malu, betapa nikmat Allah yang lainnya begitu banyak. Rejeki tidak melulu soal anak. Dan pernikahan tidak selalu tentang persoalan membuat anak. Seperti di cerita ini). Terus ikhtiar dan berdoa. Berdoa dan berdoa. Dan minta doa. Terkadang jawaban yang Allah berikan bukan antara “ya” dan “tidak”, tapi “tunggu”. Nah, dalam masa tunggu itulah diuji kesabaran dan bagaimana kita bersyukur atas apa yang Allah berikan tanpa kita minta atau kita inginkan.

2) kalo kata mbak sepupu, “jangan pernah berencana menunda kehamilan” karena, kalau Allah benar-benar menunda, kita nggak tau kan, akan ditunda sampe kapan. Ucapan atau perkataan orang tua, atau ucapan sendiri sebisa mungkin dijaga. kondisinya waktu itu memang memungkinkan untuk berucap agak tak dijaga.

>>>kalo kata mama saya, “ya, kalo kata mbah nyot dulu, pas mama baru nikah, nanti aja, setelah setahun baru punya anak, masih mudaa, seneng-seneng dulu aja” mungkin itu perkataan yang diamini Allah. Kan sebelom nikah belom pacaran. 😀

>>>trus habis nikah juga, beberapa bulan setelahnya momennya lebaran. Aiiih, gimana klo lagi hamil muda terus pulkam, pake acara mual-mual.capek.letih.lesu. Mama saya juga kepikiran. Saya pun kepikiran, suami juga kepikiran. hehehe, makanya belom dikasi waktu itu mungkin.

>>>saya dan suami masih ngekos. Aiiiiih, klo langsung hamil gimana. Kosnya sekamar doang. Masa’ anaknya ditaroh di kamar mandi..?? Rumah, masih dibangun. Heu…Bingung, tapi pengen. Ya gini ini..

3) ternyata Allah ngasihnya, pas kami akan pindah ke rumah baru. Woooow, what a sweet moment. Momen yang sangat pas. di mana saya kalo pengen makan apa, bisa masak sendiri. rumah dengan beberapa ruang, tidak melulu kamar tidur dan kamar mandi seperti di kosan. alhamdulillaah..

baiklah, sudah kepanjangan nampaknya. tunggu bagian selanjutnya yaa..sekarang usia kehamilannya akan memasuki usia 20 minggu. berarti ada kisah kehamilan 7 minggu sampe 20 minggu yang belum saya abadikan. sampai jumpa dalam kisah selanjutnya..

Advertisements

5 thoughts on “First Pregnancy Memory [part one]

    • hehehe,,yaya, semoga saja mood menulisnya bagus..sibuuuuk sekali di rumah, heheheh..
      *sok sibuk*
      semoga bermanfaat ya…

  1. Pingback: First Pregnancy Memory [part tWo] « ^ r.u.m.a.h a.k.s.a.r.a ^

    • hmm…pernah baca di mana yaa..menunda menikah berarti menunda lahirnya generasi muslim.. 😀 berat kali yaa…
      tapi klo menurut pendapat pribadi nih, menikah memang perlu banyak pertimbangan, kesiapan individu, dan yang pasti ada campur tangan Sang Penjodoh juga…jadi complicated gitu dah..harus diliat penyebab menunda menikahnya apa..gitu kali yak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s