SuRga

Saya selalu merindukan momen-momen di mana saya bisa berkumpul bersama keluarga, bersama mama saya (huhu, i love u so much mom…) dan juga bersama adek-adek kecil saya. Malam hari biasanya saya menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Kadang sendirian, dan itu berarti mama saya sedang senam, papa saya masih belum pulang bekerja, adek saya yang nomer dua mungkin masih mengukur jalan, yang nomer tiga sedang les, dan yang bungsu mungkin sedang berada di rental PS, sedang asyik bermain PS. Kalau saya beruntung, biasanya di ruang tipi ada saya, mama, dan dua adek kecil saya, yang bungsu dan yang pangais bungsu (sebelum si bungsu).

Seperti suatu malam, saya, mama dan adek bungsu saya sedang duduk di kursi panjang merah, yang seperti singgasana raja itu, sehingga sepertinya untuk foto keluarga saya yang jumlahnya 6 orang masih muat. Mama saya menyuruh adek bungsu untuk memijati kaki mama. Kemudian mulailah leluconnya, saya menganggap itu lelucon, karena membuat saya tertawa ngakak setelahnya. Padahal, itu salah satu pikiran kreatifnya seperti cerita-cerita yang sudah saya kisahkan sebelumnya…

”Mana Ma, katanya Surga di telapak kaki ibu? Mana Ma surganya…?” 

*sambil ngeliatin kaki mama yang sedang dipijat dengan tidak beraturan… (saya tertawa dan memasang “flat face”)

Advertisements

One thought on “SuRga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s