PungLi

Ini kisah sewaktu aku ikut rekreasi bersama anak-anak kecil di sebuah keluarga bernama KMJB (Keluarga Mahasiswa Jember di Bandung). Boleh lah merasa tua, lha secara waktu itu si aku bukan lagi terhitung sebagai anggota, tapi sudah alumni, hellow, aku sudah S.Si begitu…

Nah, tidak pentinglah aku rekreasi ke mana waktu itu. Atau biar lengkap aku ceritakan sedikit saja aku ke mana: Situ Patenggang dan Kawah Putih, masih di tanggal 6 Desember tahun 2009…

Trus, hubungannya dengan pungli? Ada, tenang dulu, santai gan! Alkisah, kita menyewa dua biji angkot Sarijadi-Ciroyom. Karena itu angkot kita sewa maka kita boleh meminta tolong pak supir untuk mengantar kita ke manapun kita mau, tentunya setelah pak supir dan ketua rombongan deal harga sehingga tidak ada yang harus dirugikan dan tak ada buntut tuntutan pelanggaran HAM ke Komnasham. Bukan begitu anak-anak? Nah, lalu, sepanjang jalan, si aku mengamati bapak-bapak atau mas-mas dari D****B yang bajunya biru-biru itu, lagi meminta setoran, dan tak berkarcis. Kan, jadi sebel juga yah. Akhirnya jadi penasaran juga dan mulai mengobrol dengan pak supir… Koq bisa, emang si aku duduk di mana? Woo, aku kan duduk di depan seperti nyonya besar, wajarlah, aku kan paling tua, jadi bisa rekues mau duduk di mana, hahaha. Bukan, bukan demikian adanya, itu karena si aku mabuk darat! Hahaha…

A: Aku S: Pak Supir, sebut saja Pak Jenggot, karena bapaknya jenggotan..

A: Emang kalo sekali narik, setor ke D****B itu berapa Pak?
S: Biasanya sehari cuma 3.500 aja dari pagi sampe jam 9 malam.
A: Wah, bahkan lebih murah dari perjalanan kita kali ini. Lebih murah dari biaya lewat tol juga. (Dalam hati ikut ngitung udah 5 kali lewat si bapak atau mas baju biru-biru itu, dan tiap lewat bayar 1000 rupiah, jadi 5 ribu. Belum lagi lewat pertigaan jalan ada para gepeng itu. Hmm, lewat tol cuma 3.500…)
S: Ya begitulah neng. Kalau angkot dari kabupaten ke kotamadya ga ditarik. Tapi kalau dari kotamadya ke kabupaten jadi kena gini neng.
A: Lho, koq bisa gitu?
S: Ya nggak tau neng.
A: Hmm, mungkin karena di kita kan banyak angkot Pak, jadi sudah cukup makmur dengan pemasukan yang ada. Kalau di kabupaten kan angkotnya juga dikit ya Pak.
S: Iya mungkin neng… (sambil tersenyum gitu bapaknya…)
A: Trus Pak, itu duitnya masuk ke kantong mereka ya? Kan bapak nggak dikasih karcis tadi?
S: Ya, mungkin ke kantong mereka. Kan bapak nggak sikasih karcis, biasanya ada karcis tanda bukti gitu, dan itu masuk ke Pemerintah berarti…
A: Hmm, gtu ya Pak… Pak, pernah nyoba nggak, kalau nggak usah bayar aja gimana Pak..?
S: Wah, saya belum penah neng… Ya mungkin kalau nggak bayar, dimarahi begitu…
A: Ow…

 

Jadi mikir, kalau mengambil setoran tanpa memberikan karcis itu namanya pungutan liar alias ’pungli’ bukan ya…? menurutku sih iya… =________= Walaupun seribu rupiah, apakah tak jadi pungli namanya? Hmm, tanya kenapa? Gimana KKN mau iLang prend… hmm… Sedangkan, untuk tataran pejabat di bawah gitu udah nindas rakyat. Apa lagi yang gedean nya…? Aku? Seperti biasa cuma bisa istighfar aja… Semoga Allah menimpakan balasan Nya sama individu nya saja, bukan sama negerinya, sudah terlalu banyak bencana akibat ulah manusia nya yang terlalu banyak berbuat kerusakan di muka bumi mungkin…

 

Terima kasih, semoga bermanfaat,

Wallahua’lam bishshawab…

Advertisements

2 thoughts on “PungLi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s