A WisH

Sudah sampai di penghujung ramadhan lagi. Alhamdulillah, itu saja yang ingin diucap sampai detik ini…(setelah tadi pagi, turut merasakan guncangan gempa dan akhirnya terbangun setelah kesirep seusai subuhan…hoho, maafkan aku sobat, kesirep lagiii..)

Setelah kemaren sempat dilema pulang ke rumah atau tidak, sudah memutuskan pulang, eh masih bingung cari tiket, harus kebingungan pula bagaimana caranya pulang ke Jember. Tapi alhamdulillah, Allah masih baik padaku, baiiiiiikk sekali..Detik ini sudah di rumah berkumpul bersama keluarga, dan banyak kenikmatan yang lain. Alhamdulillah

Bertemu dengan banyak kisah sebelum pulang, di kereta api, kebetulan dipertemukan dengan seorang bapak-bapak. (bukan kebetulan menurutku). Tak perlulah sebut siapa namanya dan apa beliau, tapi percikannya yang juga ingin kutorehkan di blog ini. Sebuah amanah dari beliau untuk menceritakan dan turut menyebarkan sebuah visi ke depan.

makewishTentang sebuah cita-cita kebangkitan ummat. Kalau saja semua muslim di Indonesia benar-benar memaksimalkan semua pajak-pajak dalam Islam (maksutnya ZIS: Zakat, Infaq, dan Shoadaqoh), insyaAllah tidak ada kemiskinan lagi di Indonesia. Bahkan kalau dikelola dengan benar, itu bisa digunakan digunakan untuk membayar utang Indonesia yang sampai hari ini belum lunas. Beliau bertutur, kalau bisa di setiap perempatan dipasang layar besar (semacam monitor begitu mungkin yaa…) untuk menampilkan berapa dana yang dimiliki umat Islam. Bukan sebagai ajang unjuk gigi, tapi bisa jadi koreksi untuk kita semua. Berapa yang sudah tersalurkan, kepada siapa, bisa dilihat di sana semuanya. Dana ZIS kemudian dikumpulkan per kecamatan, di masjid-masjid yang biasa dipakai untuk selama sholat jum’at, paling tidak kencleng selama sholat jumat saja, selama ini kemana dana-dana itu? (wanda…) Nah, di setiap kecamatan kemudian direkapitulasi untuk kemudian ditayangkan secara online di layar-layar besar tadi (komputernya nanti disuplai deh kata Bapak, sudah ada donatur yang bersedia, wew…). Dengan demikian, semua dana akan terlihat transparansinya. Tak ada lagi kecurangan. Kita sudah memasuki era globalisasi. Sudah sepantasnya, teknologi yang ada digunakan untuk kemashlahatan umat. (sepakat Pak, teknologi dibuat untuk mempermudah kerja manusia). Bapak itu berujar, jangan lagi di pondok-pondok pesantren itu hanya belajar quran dan hadits. Mereka juga harus tahu yang namanya IT. (wew, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum). Hmm, PR bersama… Sebuah cita-cita yang mulia, beliau sudah hampir 70 tahun masih menyimpan cita-cita yang dahsyat dan keren. Aku yang masih muda? (tanya, kenapa?). Berbagi cerita dan cita-cita… Dan sebuah kebanggaan dan rasa syukur, terlahir sebagai seorang muslim dan masih merasakan nikmatnya iman dan islam itu…

I proud to be a moslem…

Tentang harapanku. Semoga Allah berkenan menerima ibadah shaum kita dan ibadah lainnya selama bulan ramadhan. Tak kan pernah menjadi sempurna tanpa ridhoNYA. Semoga setelah keluar dari bulan ini bisa benar-benar jadi bekal 11 bulan ke depan. Masih diberi kekuatan, kesempatan untuk terus belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik… Amiin..

wallahua’lam bishshawab

terima kasih, dan semoga bermanfaat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s