Tugas Siapa?*

Potongan Kisah

Tulisan saya ini akan saya buka dengan sebuah kisah, salah satu kisah di masa silam yang pernah muncul saat masih polos dan lugu [baca:cupu], waktu mengikuti acara ospek jurusan yang kala itu namanya PKKF (Pengenalan Kemahasiswaan dan Keprofesian Farmasi). ”Maaf Pak, tau farmasi nggak?”, tanya salah seorang peserta yang sedang melakukan observasi lapangan. Lalu jawabnya, ”Wah, maaf Dik, saya baru pindah di sini…Coba tanya yang lain”. Nah, tulisan ini saya buka dengan sebuah fakta bahwa ternyata farmasi memang cukup tidak populer di mata masyarakat. Bahkan di kota besar selevel Bandung. Lalu, sebenarnya siapkah kita menerima penjajahan gaya baru sementara banyak hal yang belang betong di segala bidang kehidupan?

 

Sebuah Wacana Pembuka

Seiring berjalannya waktu, kita harusnya menyadari bahwa yang namanya era globalisasi sedang menghadang di depan mata. Telah kita ketahui bersama, bahwa dengan berlakunya AFTA (Asia Free Trade Area) beberapa tahun mendatang akan membuat negara kita tercinta ini kedatangan orang-orang asing yang siap berkompetisi dengan orang-orang pribumi (jangankan beberapa tahun lagi, sekarang saja juga sudah cukup banyak). Ya, memang, katanya negara kita ini sudah merdeka 63 tahun, tapi nyatanya kita belum merdeka, jelas-jelas di bidang ekonomi kita masih dikendalikan oleh kekuatan luar. Lalu, sebagai salah seorang yang berada dalam sebuah sistem perguruan tinggi (baca: mahasiswa), lantas saya sudah berbekal apa? Atau lebih jauhnya, organisasi kemahasiswaan farmasi yang sekarang saya kenal kurang lebih sejak tingkat dua (baca: HMF ”Ars Praeparandi” ITB) sudah membekali apa saja kepada anggotanya? Tulisan ini sekaligus tempat saya merenung dan berwacana (ya karena, kalau beraksi konkret bukan di sini tempatnya, tapi di dunia nyata dan bukan di dunia aksara) kira-kira apa saja yang bisa dilakukan untuk upaya pembekalan mahasiswa farmasi pasca kampusnya nanti.

 

Independensi Organisasi

Sebelum jauh berpikir bekal apa saja yang harusnya diwariskan kepada anggota suatu organisasi kemahasiswaan farmasi, saya akan lebih dulu membahas tentang posisi organisasi kemahasiswaan dalam suatu lingkup organisasi yang lebih besar, kalau di kampus maka posisi organisasi kemahasiswaan farmasi dengan lembaga institusinya (baca: ITB atau dalam hal ini Sekolah Farmasi). Saya sepakat dengan apa yang tertulis dalam ”Konsepsi Organisasi Kemahasiswaan KM ITB”<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>. Di sana disebutkan bahwa ’secara teknis, hubungan organisasi kemahasiswaan farmasi dengan rektorat dibagi menjadi tiga pola:

  1. Untuk hal-hal yang merupakan kepentingan mahasiswa sepenuhnya, menjadi wewenang penuh organisasi kemahasiswaan. Rektorat mempunyai fungsi partisipatif untuk menyampaikan masukan.
  2. Untuk hal-hal yang merupakan irisan antara kepentingan kemahasiswaan dan rektorat, keputusan tentang hal-hal ini memerlukan koordinasi dan kesepakatan di antara kedua belah pihak.
  3. Untuk hal-hal yang merupakan kepentingan rektorat sepenuhnya, hal-hal ini merupakan wewenang penuh rektorat. Organisasi kemahasiswaan memiliki fungsi partisipatif untuk memberi masukan.’

Mengapa kemudian saya melampirkan masalah ini, karena ke depannya ini berkaitan dengan penentuan sikap sebuah organisasi kemahasiswaan farmasi dan harus diingat bahwa kita harus memperhatikan kepentingan apa yang sedang kita bawa dan memikirkan sejauh mana intervensi lembaga institusi di luar organisasi kemahasiswaan farmasi, ya mungkin saja contohnya sekarang antara HMF dengan SF, pasca kampus nanti bisa saja contohnya akan berbeda, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Tapi setidaknya tiga acuan di atas cukup sebagai bahan pertimbangan.

 

Lalu Siapa, atau Apa?

Nah, sekarang, sebenarnya keharusan untuk mengembangkan kompetensi diri sendiri ini berada di tangan siapa? Apakah tugas organisasi kemahasiswaan farmasi, lembaga institusi di luar organisasi kemahasiswaan farmasi, atau diri sendiri? Ya, masih diambil dari ”Konsepsi Organisasi Kemahasiswaan KM ITB” sebenarnya jika dikembalikan kepada fungsi mahasiswa sebagai insan akademis yang merupakan bagian dari civitas akademika maka seharusnya ada peran serta mahasiswa untuk senantiasa  mendidik dirinya sendiri (learning by themselves) dengan tetap berpedoman kepada kebenaran ilmiah. Nah, berangkat dari sana, bisa jadi ada dua implikasi yang terjadi. Pertama, bisa jadi kemudian kita memerlukan sebuah wadah untuk mendidik diri kita sendiri, belajar hal lain yang tidak diberikan di bangku perkuliahan, dan akhirnya lahirlah organisasi kemahasiswaan farmasi yang basisnya keprofesian. Atau yang kedua, bisa juga kita malah tidak memerlukan alat tadi, karena dengan sudah mampu membekali dirinya sendiri dengan berbagai kompetensi. Ya, silakan saja memilih yang mana. Banyak jalan menuju New Zealand…

 

Kalau Pilih yang Ini…

Ya, kalau kemudian memilih organisasi kemahasiswaan farmasi maka ini hanyalah fasilitas saja. Di dalamnya kita bisa mengembangkan diri sesuai kemauan kita. Ada banyak pilihan bidang di dalamnya, yang kemudian memberikan kebebasan penuh untuk berkarya. Di manapun juga, yang penting adalah ingin menghasilkan sebuah karya.

 

Akhirnya, Tugas Bersama Juga…

Terkait dengan pola hubungan yang sudah dibahas di atas, maka seharusnya untuk masalah pembekalan kompetensi mahasiswa, seharusnya menjadi kepentingan kedua belah pihak. Ya kepentingan organisasi kemahasiswaan farmasi dan instusi terkait. Karena pertama, mahasiswa dituntut untuk mendidik dirinya sendiri (yang salah satunya melalui organisasi kemahasiswaan farmasi). Kedua, menyiapkan mahasiswa yang berkarakter (character building) juga menjadi tanggung jawab insitusi terkait (baca: SF, atau ITB). Mungkin pola ini yang ke depannya harus diperjelas lagi. Yang jelas, masing-masing pihak harus senantiasa memikirkan hal-hal apa saja yang harus di-upgrade supaya memenuhi kebutuhan mahasiswa , ya organisasi kemahasiswaannya ya institusi terkaitnya, tapi tidak melupakan pola hubungan yang sudah dibahas di atas. Kalau di kampus, SF sudah cukup memfasilitasi, misalnya saja, setiap lulusan diharuskan mengikuti tes TOEFL, kemudian difasilitasi juga dengan adanya seminar entrepreneurship, sejumlah penelitian yang didukung penuh, dll. Sama halnya organisasi kemahasiswaan (HMF) sudah cukup memfasilitasi anggotanya, banyak sekali kompetensi yang bisa didapat kalau saja mau memanfaatkannya dengan optimal, tinggal masalahnya mau atau tidak. Hanya mungkin akhir-akhir ini yang menjadi sorotan adalah, mau tidak mau beberapa tahun ke depan dapat dipastikan pasti organisasi yang satu ini akan ’go international’, ini menuntut sejumlah konsekuensi yang tidak bisa terelakkan lagi. Tentunya, kemandirian organisasi akan sangat dituntut, kemandirian di segala bidang, ya mandiri secara finansial, mandiri dalam penentuan kebijakan, dan mandiri dalam berbagai hal.

 

 

 

 

 

 

 

*Ditulis oleh Wina Rukmayuniarti (10705012) dalam rangka Lomba KTM-Home Tournament HMF ”Ars Praeparandi” ITB dengan tema:Peran Organisasi Kemahasiswaan Farmasi dalam Bidang Farmasi

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Konsepsi Organisasi Kemahasiswaan Keluarga Mahasiswa ITB merupakan sebuah landasan bergerak bagi setiap organisasi kemahasiswaan yang ada dalam Keluarga Mahasiswa ITB.

Advertisements

One thought on “Tugas Siapa?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s