(masih) anak kecil

kk: “ummi ntar kalo ummi bangun pas nafisah bangun kalo malem-malem itu,, aku dibangunin juga dong (ea,mo ngapain nih,subuh aja kadang masih susah dibanguninnya)”

u: “emang mo ngapain?”

kk: “kata ustadzah kalo kita sholat tahajjud bisa minta apa aja yang kita pengen”

u: “emang kk nailah mo minta apa gtu??”

kk: “mo minta lol”

u: “yaAllah kakak.sholat tahajjud mo minta lol? jadi sholat tahajjud karena Allah apa karena lol?”

dan kemudian kami ketawa bersama.

(ah,anakku,polos banget ya…)

nggak salah mungkin berdoanya,minta apa yang kita pengen.sama aja kek kita kan ? sudahkah ibadah-ibadah yang kita kerjakan itu untuk Allah atau untuk keinginan kita saja atau mengejar pahalanya?

mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, kita bisa meningkatkan kualitas ibadah kita bukan sekedar-sekedar yang lainnya tapi untuk Allah saja.

berat memang.tapi percayalah selalu ada jalan dan kesempatan, tentu saja kalo kita mau berusaha.

Advertisements

oh ibu

Kapan hari udah lama lah pokoknya, saya mencoba mendengarkan kajian Ust.Budi Ashari via yutub. Judul yang saya pilih “Ibu Teladan Terbaik Bagi Anak”. Kajiannya panjang. Hampir 3 jam. Tentu sajah ndengerinnya sampe berhari-hari kepotong aktivitas apa ajalah itu. Baru mo masang headset bayi oek-oek ngantuk. Yawdah lepas lagi karena kalo nggak gtu ya kapan tedornya kan..

Sampai di sebuah kalimat yang bener-bener bikin baper.

aku sudah hamil dengan cara agamaMu,
aku melahirkan dengan cara yang Engkau sampaikan,
aku menyusui seperti yang Engkau mau…
maka beri aku bakti anak-anakku…

Cesssss..aduh cirambay lah sayah..
Inget beberapa tahun lalu, bahkan saya sampe pernah nulis di blog ini. Inget banget, kalau bukan karena salah satu sunnah Rasulullah dan yang diaku jadi ummatnya adalah mereka yang menikah dan pengen ada yang ngedoain kalo suatu hari saya udah nggak ada, mungkin hari ini saya nggak akan punya 2 anak yang lucu-lucu itu. Yah namapun segala bisa lah diusahakan sendiri kalo mau, dulu ngerasa nggak butuh lah buat menikah. Yah wanita independen gtu lah ceritanya. Baru lulus. Namanya kesempatan keknya udah di depan mata aja tinggal milih. Tapi ya itu tadi, sayah milih menikah dan stay di rumah. Kalo bahas soal IRT itu panjang lagi yah. Saya males mancing moms war. Dah lah saya percaya kita pasti mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Inget soal mengasuh bukan hal yang mudah.
Tapi yawdah. Jangan mengandalkan kemampuan diri. Manusia mah lemah. Ciyus lemah. Kalau inget kita ni berasal dari jannah dan harus kembali ke jannah, itu kan tugas yang luar biasa berat yah. Super duper gak gampang. Karena kalo gampang palingan hadiahnya piring cantik atau payung cantik. Tapi ini surga.

Maka..mengutip apa yang disampaikan Ustadz Budi dalam kajian itu, saya jadi lebih sering menggumam dalam doa-doa saya…

aku sudah hamil dengan cara agamaMu,
aku melahirkan dengan cara yang Engkau sampaikan,
aku menyusui seperti yang Engkau mau…
maka beri aku bakti anak-anakku…

masih tentang doa

Sejak dulu saya selalu percaya, bahwa doa orang-orang sholeh itu punya posisi yang spesial di hadapan Allah. Saya cuman membayangkan bisa jadi doa mereka ini bisa menembus langit bak jalan tol. Kalau doa cem sayah ini ya mungkin masih semacam jalan biasa. Kadang lancar kadang macet.
Suatu hari di bulan Sya’ban kemaren, saat saya mengganti hutang puasa karena hamil kemaren, sengaja saya tawarkan kepada anak sulung saya, mau ikut latian juga nggak (berhubung mau ramadhan juga), karena saya juga sedang mencoba mengkondisikan bayi bisa berkompromi atau tidak diajak berpuasa.
Tahun-tahun sebelumnya kakak nailah baru mentok di sampai waktu ashar. Maka kali itu dia berinisiatif sendiri, “ummi aku mau coba sampai maghrib ya..”
Aih. Yasudah saya bolehkan. Sambil saya kasih semangat, “iya ummi doakan kakak nailah kuat ya sampe maghrib”
Menjelang ashar mulai deh. Rewel. Tapi masih bisa dialihkan. Tamat juga hari itu sampai maghrib.
Di sela-sela berbuka, dia bilang “ini karena ummi doakan aku nih aku jadi kuat puasanya”
(Ya Allah, berasa menjadi emak-emak beneran…)
Saya terkenang banyak momen dalam hidup saya yang nggak lepas dari meminta doa dari mama. Dari doa orang-orang yang saya anggap sholeh yang kalo ketemu saya minta untuk mendoakan.
Dan pada hari lainnya masih di bulan Sya’ban, seperti biasa di hari itu saya biasa bertemu seorang Ustadzah. Seperti biasa pula kami bersalaman-cipika-cipiki. Yang nggak biasa adalah, saya menyodorkan bayi Nafisah untuk salim, lalu Beliau mendoakan Nafisah “robbi habli minash sholihin” Saya pun mengaminkan.. Lalu nyeletuk “Ustadzah, umminya nggak didoakan nih, saya kan juga anaknya ibu saya, saya juga mau didoakan dong Ustadzah..” πŸ˜‰πŸ˜‰
Hehhe.
.
.

Pernah pula saya dengar, ada kebiasaan yang biasa dilakukan oleh para guru di sekolah kakak nailah. Apa itu? Para guru mendoakan m murid-muridnya secara khusus. Hal yang sangat istimewa buat saya…
Ya itu tadi, kita nggak tau ya, doa siapa yang dikabulkan Allah?

.
.

Ya…
Jadi, cuman pengen bilang, “saling mendoakan ya”

Cerita Kita #3: Qadarullah

Rata-rata anak kecil yang kerap saya temui adalah penyuka eskrim. Termasuk juga anak sulung saya. Tapi, sering saya amati. Kalau dia makan eskrim, nggak lama pasti batuk/pilek. Menurut saya itu bukan penyakit tapi lebih ke alergi dingin. Kenapa bisa saya bilang alergi, karena saya dan ayahnya NailahNafisah itu sama-sama punya riwayat alergi. Saya punya alergi debu di masa kecil, sampai-sampai mengi (nafasnya bunyi-bunyi gtu) kalo tidur di kasur kapuk. Makanya sejak itu saya nggak pernah lagi tidur di kasur kapuk. Pernah suatu ketika lagi pulang ke rumah mama dn saya tidur dikasur kapuk. Sukses batuk-batuk dongs hehhe. Kalo pergi ke toko perabot, nggak lama kemudian kedua telapak tangan saya dipastikan merah-merah lalu gatel-gatel. Nah, ayahnya NailahNafisah itu waktu kecil alergi seafood. Tapi sekarang udah nggak lagi alergi seafood, malah alergi sama cuaca dingin, langsung batuk-batuk. Kakak Nailah, waktu bayi, bentuk alerginya lebih ke kulit yang sensitif, apalagi kalo cuaca panas. Sekarang sudah lebih tahan banting. Cuman ya itu, ketemu eskrim jadi batuk/pilek. Maka, di pekan-pekan menjelang ujian biasanya nggak kami bolehin makan eskrim/minuman dingin.

Tapi, beberapa waktu yang lalu, walaupun sudah nggak makan eskrim/minuman dingin, tetap saja batuk/pilek itu datang menghampiri. Maka saya berceloteh kepada kakak nailah,

“Kak, kakak udah nggak makan eskrim/minum yang dingin tapi masih batuk/pilek yah…Qadarullaah ya Nak..”

Iya ya Mi,Qadarullah…Aku nggak ada yang ngasih juga kok padahal…”

(Soalnya kadang maen ke rumah tetangga terus dikasih..)

“Iya, sebaik apapun kita berusaha kalau takdir Allah kakak nailah batuk/pilek, kakak tetap batuk/pilek walo nggak makan eskrim ato minum yang dingin ya..”

“Iya…”

– – –

Namapun emak-emak ya. Anaknya sukanya apa terus nggak dibolehin dan anaknya nurut kan kesian ya dan nggak tega ya sebenernya.

Tapi begtulah namanya bersungguh-sungguh. Nggak gampang yah. Musim ujian juga harus mempersiapkan kesehatan fisik.

InsyaAllah nanti liburan kita makan eskrim ya nak…

doaku hari ini

Ya Allah, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan tumbuh kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr:10)

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan. (HR Muslim 4899)

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.” (HR. Muslim)

Ya Allah,aku berlindung kepadaMu,dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, sifat pengecut dan bakhil, dan dari lilitan hutan dan kesewenang-wenangan manusia. (HR Abu Daud)

you’ll always my baby,Nailah

Nggak terasa, tahun ini, oktober nanti, kakak nailah umur 7 tahun..Di beberapa kitab disebut hampir meninggalkan usia kanak-kanaknya.

Kadang saya suka senyum-senyum sendiri melihat foto/video jaman kakak nailah kecil. Nggak inget dulu capeknya kayak gimana hahaha. Yang terlihat sekarang kalau melihat bayinya kakak nailah hanyalah lucu banget, gemes dan lucu banget lah. πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Saya nggak kebayang waktu punya anak kedua nanti kakak nailah bakalan kayak gimana sama adiknya. Baca-baca ada yang mengalami sibling rivalry a.k.a berantemmm ajah. Ada juga yang akur-akur saja. Pas adiknya lahir kakak nailah berumur kurleb 5 tahun 9 bulan. Yang jelas sebelum saya hamil itu memang dia sudah pengen sekali punya adik..

Ummi,temen-temen aku sudah punya adek..aku kok belom?

Iya,sabar ya. Yang kasih adik bayi itu kan Allah.. Kakak Nailah berdoa yang banyak ya sama Allah, biar Allah titipkan adik bayi di perut ummi…

Tiap jadwal periksa, kadang kakak nailah ikut.. Dia excited melihat layar monitor waktu si bayik diusg..

Pas adiknya lahir juga, udah keliatan gitu sayangnya.. Ditemeni.. Dikeloni.. Dia cuman agak bosen: “ah Nafisah mah bobo’ melulu..nggak bisa diajak maen..” (yakale bayi langsung lari…)

Makin kesini alhamdulillaah dia adalah kakak yang sangat ngemong. Walaupun yaa dia tetaplah anak kecil yang kadang masih lah ada isengnya sama adeknya. Tapi overall saya memberinya nilai 9 skala 10 sebagai kakak. Saya bener-bener banyak terbantu dengan perannya sebagai kakak. Ngambilin ini itu. Bahkan kadang malah kakaknya yang jauh lebih perhatian.

Ummi,itu Nafisah nangis..”

“Nafiiisaaaah, kakak kangennnnnn..” (ea berakhir uyel-uyel lalu si bayik sumpek diumek)

Dan sekarang mereka berdua sudah mulai bisa maen bareng. Kakak nailah mulai bisa gendong-gendong Nafisah. Lucu-lucu ngeri sih ya ngeliatnya.

Orang bilang jarak mereka berdua kejauhan, tapi pada akhirnya saya sangat merasa terbantu dengan usia yang lumayan jauh ini. Kakak Nailah mulai bisa diandalkan. Seusia dia dulu, emaknya ini aduuuuuu jauh banget lah. Emaknya ini cuman tau belajar belajar dan belajar. (Udah gtu eh ternyata belajarnya kurang faedah pula ups). Nggak tau apa itu birrul walidain. Nggak ada inisiatif mbantuin pekerjaan orang tua. Entahlah. Tapi ya itulah yang terjadi. Untungnya pernah jadi anak kosan. Jadilah mulai mandiri. Lalu, sekarang tinggal jauh dari orang tua dan sanak saudara (hehhe.see.seperti pernah saya bilang,kalo kamu terus berdiam di zona nyamanmu.nanti Allah yang mindahin ke zona nggak nyaman. Orang jawa bilang kapokmu kapan…). Jadilah, sejak jauh dari orang tua mulai mengerti dan sadar, ah mama my hero banget deh. Dan nggak mudah ya menjadi orang tua itu. Ya kerjaan fisik, ya mengasuh, mendidik, tanggung jawab. Ah beratlah pokoknya. Syukurlah ada ilmunya (walopun agak sedikit telat juga mengilmuinya hehhe)

Kadangkala kakak nailah mbantuin nyuci piring. Lain hari bisa diminta tolong untuk buang sampah di luar rumah. Tiba-tiba bilang: aku mau mbantuin ummi nyapu rumah dong. Atau ngelihat saya bawa gagang pel-pelan,ummi aku aja yang ngepel boleh? Atau di saat yang lain dia menawarkan: ummi mau aku pijetin? Pernah juga mandi lama, nggak taunya lagi nyuci bajunya sendiri.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kalo lagi bener, bisa tuh dia rajin beberes kamar tidurnya sendiri.Kalo maenan sudah sejak 4 tahun an diberesin lagi ke tempatnya.

Continue reading

Pelajaran Hari Itu:Perasaan Selalu Diawasi oleh Allah

Hari itu, sesungguhnya ummimu yang belajar..
Sesuatu yang absurd, tapi kalian anak-anak kecil yang masyaAllah, sudah bisa mempraktekkannya semampu kalian…

Di pagi itu sedang berlangsung Musabaqoh Hifdzil Quran (MHQ)..
Di tengah acara berlangsung, salah seorang Ustadz berkata, “yang adab nya tidak baik, yang mengobrol, yang bercanda, nanti Ustadz pisahkan, duduk di belakang..”
(Suasana memang mulai kurang kondusif, tidak mudah untuk anak-anak bisa menyimak acara itu dalam waktu lama. Tapi itulah mereka. Mereka selalu berjuang melawan bosan)

Setelah usai agenda MHQ hari itu, Ustadz kembali bertanya..
“Sebelum Ustadz tunjuk, siapa yang merasa dari awal acara sampai akhir tidak mengobrol,tidak ramai,tidak bercanda,silakan kembali ke kelas.Yang merasa mengobrol.Tetap diam di tempat.”
.
.
Dan saya menyaksikan..Termasuk anak saya tetap diam di tempatnya..Karena saya yakin, dia merasa mengobrol walau Ustadz tidak tahu.
MasyaAllah inilah perasaan selalu diawasi oleh Allah…
Sebuah pembelajaran berharga untuk saya.
Lagi-lagi, saya merasa kalah dari anak-anak itu.
Merasa harus lebih baik lagi, berapa banyak dari kita yang sudah membaca soal adab majelis?
Tapi tengoklah bagaimana prakteknya?
.
.
Mungkin orang akan melihat,
“Duh, kasian, nggakpapa kali umur segitu belom bisa duduk tenang, belom bisa fokus.”
“Duh, kasian dihukum.”
.
.
Tapi inilah mendidik.
Inilah menegakkan adab.
Kami para orang tua tak keberatan mereka dihukum, kalau ternyata mereka memang salah.
.
.
Nak…
Ustadz bisa jadi tidak tahu..
Tapi Allah.
Allah Maha Melihat.

Barakallahu fiikum.

#kuttabalfatihtangerangselatan
#kuttabalfatih
#duakurikulum
#adabsebelumilmu
#imansebelumquran