sembilan menuju sepuluh

Sejatinya,

tahun adalah akumulasi hari yang mungkin berlalu begitu saja.

Waktu-waktu yang cepat berlalu dibilang karena kita mengisinya dengan banyak hal yang bermanfaat sehingga tak terasa. Dan berlaku sebaliknya.

9 tahun menuju 1 dasawarsa,

Ada banyak hal terjadi tentu saja.

Bukan waktu yang sebentar, tapi bisa dibilang cukup lama.

Terdengar menggelegar mungkin bahwa dari rumah kita akan membangun peradaban. Al ummu madrosatul ula. Ibu adalah sekolah pertama. Ayah adalah kepala sekolahnya…

Banyak hal yang memang belom sempurna.

Tapi Allah ingin melihat, seberapa keras kita berusaha.

Mudah-mudahan Allah ridho dengan kehidupan kita.

Sehingga kelak, kita layak dan pantas menerima sebuah balasan terbaik, berkumpul kembali sekeluarga di JannahNya..

menuju 1 dasawarsa

24032019

Advertisements

akibat doa

Akhir-akhir ini saya mengalami kegelisahan dalam berdoa. Saya sampe bingung mau meminta apa kepada Allah. Apa pasal? Pernah suatu kali saya berdoa di masa abege. Kemudian doa itu dikabulkan oleh Allah. Tapi ada efek lain dari doa itu yang ternyata belakangan susah untuk sinkron dengan keinginan saya yang lainnya di masa sekarang. Mengakibatkan saya menyesal (atau mungkin pada akhirnya saya berpikir mungkin itulah takdir terbaik saya). Seringkali kita dengar, Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Walaupun pada implementasinya itu susah sekali dikerjakan.

Pernah pula saya pada suatu titik galau. Nggak ngerti harus bagaimana. Harus menempuh jalan A, atau jalan B, atau jalan C, yang kemudian saya akhirnya mencoba berpasrah dan bertawakkal, yaAllah saya ikut pilihanmu. Pilihkan saya takdir terbaik. Kali ini saya mau ikut mauMu bagaimana.

Dan itu memang melegakan pada akhirnya.

Saya sampe mengungkaplan perihal kegelisahan saya dalam berdoa ini, gara-garanya ada seorang guru saya hendak umroh. Saya bahkan bingung mau nitip doa apa. Ya itu tadi, saya khawatir salah lagi dalam meminta. Hehhe. (Syukurlah ada syariat menikah, jadi disanalah fungsi suami. Salah satunya jadi tempat bertanya, mau nitip doa apa… Soalnya saya ini manusia yang cukup banyak obsesi wkekek. Beda banget ama paksuami saya yang hidupnya itu bahkan nyaris tanpa keinginan dan ambisi. Haghaghag..)

Ya. Jadi pelajaran berharga buat saya. Hati-hati dalam berdoa, terutama untuk doa yang sifatnya spesifik…

Tapi saya percaya dan masih terus saya kerjakan tiap hari.

Hal sekecil apapun, gak ada salahnya kita minta sama Allah.

bagaimana saya menutup hari?

banyak yang bilang, “anda harus berterima kasih kepada orang-orang yang telah menyakiti anda, karena merekalah, anda menjadi kuat”

ya.salah satu efek baiknya mungkin itu.tapi ada aja efek buruknya.

yang kerasa adalah pertama, kekurangmampuan memaafkan dengan lapang. nggak pake nggrundel dan nggondog bin gedheg dalam hati lagi. maaf ya wes maaf aja. nggak pake tapi tapi tapi…

kedua, sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain. kadang gtu, kalo udah sekali disakiti yawdah, kayak asal tau sama tau aja deh.m.

maka..seringkali saya menutup hari dengan berdamai dengan diri sendiri. memaafkan segala keterbatasan diri saya sendiri. memaafkan segala ketidakberdayaan diri akan ekspektasi yang ingin dicapai. memaafkan orang lain yang mungkin saja nggak sengaja nyerempet dan nyelekit di hati saya. ataupun orang yang sengaja berbuat menyakitkan.

kadang, saya sampe mendoktrin diri sendiri dengan berbagai macam keutamaan memaafkan. supaya hati lebih lapaaaaang.

demikianlah saya menutup hari.

pulang kampung

Tahun 2018 ini saya bikin jargon:

Mudiklah selagi ada kampung

halaman dan orang tua…

Hehhe iyah. Kalo nggak punya kampung halaman,mo pulang kampung ke mana coba…?

Kalo nggak ada orang tua, kayaknya saya bakalan mikir-mikir pulang ke rumah siapa… Terus saya mikir kalo saya jadi orang tua saya bakalan ngarepin kedatangan anak saya entar di kala liburan sekolah. Kalo nggak waktu liburan anak sekolah, nggak enak juga izin lama-lama nggak sekolah.

Saya udah lama sekali nggak pengen destinasi liburan kemana-mana. Bisa pulang ke rumah orang tua aja itu udah sebuah hal yang istimewa banget buat saya…

Safar itu katanya sebagian dari adzab.

– Ya memang kalau kita tinggal bukan di rumah sendiri itu pasti ada aja hal yang bikin nggak nyaman. Apalagi anak bayik saya yang kedua ini anak AC banget. Hahha jadi ya kalau pulang ke Sidoarjo yang zuper panasssss agak agak riwil bagaimana begitulah. Kalau ke Jember masih better tapi ya tetep aja kalo gerah dikit nggak bisa tidur juga.

– Terus, perjalanan dari Tangerang Selatan ke Jawa Timur itu kan jauh yeuh. Mbayanginnya aja udah capek duluan kadang. Lambat laun orang tua kami bertambah tua, mau diminta ke Tangsel kok udah mulai kasian. Jadi ya itu yang muda ini mengalah yak.

– Belom lagi soal ongkos dan waktu. Mihil cyinnnnn. Lama pula. Mo naek mode transportasi apa ajah it takes time and money. A lot. Very a lot.

Mo naek mobil pribadi. Walopun bensin dan biaya tol irit, mobilnyah perlu dibeli dengan harga puluhan-ratusan juta right? Belom lagi jarak tempuh nya yang lama.

Mo naek pesawat ya sama mahal jugah.

Kereta api juga sama makan waktu. Kalo mau yang ekonomi murah sih,tapi ya kalau ada rezeki lebih mungkin bisa mempertimbangkan faktor kenyamanan buat anak-anak.

Yaaa… Maka dari itu, saya kemudian menghibur diri sendiri.

Selagi ada kampung halaman dan orang tua,

Mudiklah 😃😍

Otw naek sepur Sidoarjo-Jember

(masih) anak kecil

kk: “ummi ntar kalo ummi bangun pas nafisah bangun kalo malem-malem itu,, aku dibangunin juga dong (ea,mo ngapain nih,subuh aja kadang masih susah dibanguninnya)”

u: “emang mo ngapain?”

kk: “kata ustadzah kalo kita sholat tahajjud bisa minta apa aja yang kita pengen”

u: “emang kk nailah mo minta apa gtu??”

kk: “mo minta lol”

u: “yaAllah kakak.sholat tahajjud mo minta lol? jadi sholat tahajjud karena Allah apa karena lol?”

dan kemudian kami ketawa bersama.

(ah,anakku,polos banget ya…)

nggak salah mungkin berdoanya,minta apa yang kita pengen.sama aja kek kita kan ? sudahkah ibadah-ibadah yang kita kerjakan itu untuk Allah atau untuk keinginan kita saja atau mengejar pahalanya?

mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, kita bisa meningkatkan kualitas ibadah kita bukan sekedar-sekedar yang lainnya tapi untuk Allah saja.

berat memang.tapi percayalah selalu ada jalan dan kesempatan, tentu saja kalo kita mau berusaha.

oh ibu

Kapan hari udah lama lah pokoknya, saya mencoba mendengarkan kajian Ust.Budi Ashari via yutub. Judul yang saya pilih “Ibu Teladan Terbaik Bagi Anak”. Kajiannya panjang. Hampir 3 jam. Tentu sajah ndengerinnya sampe berhari-hari kepotong aktivitas apa ajalah itu. Baru mo masang headset bayi oek-oek ngantuk. Yawdah lepas lagi karena kalo nggak gtu ya kapan tedornya kan..

Sampai di sebuah kalimat yang bener-bener bikin baper.

aku sudah hamil dengan cara agamaMu,
aku melahirkan dengan cara yang Engkau sampaikan,
aku menyusui seperti yang Engkau mau…
maka beri aku bakti anak-anakku…

Cesssss..aduh cirambay lah sayah..
Inget beberapa tahun lalu, bahkan saya sampe pernah nulis di blog ini. Inget banget, kalau bukan karena salah satu sunnah Rasulullah dan yang diaku jadi ummatnya adalah mereka yang menikah dan pengen ada yang ngedoain kalo suatu hari saya udah nggak ada, mungkin hari ini saya nggak akan punya 2 anak yang lucu-lucu itu. Yah namapun segala bisa lah diusahakan sendiri kalo mau, dulu ngerasa nggak butuh lah buat menikah. Yah wanita independen gtu lah ceritanya. Baru lulus. Namanya kesempatan keknya udah di depan mata aja tinggal milih. Tapi ya itu tadi, sayah milih menikah dan stay di rumah. Kalo bahas soal IRT itu panjang lagi yah. Saya males mancing moms war. Dah lah saya percaya kita pasti mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Inget soal mengasuh bukan hal yang mudah.
Tapi yawdah. Jangan mengandalkan kemampuan diri. Manusia mah lemah. Ciyus lemah. Kalau inget kita ni berasal dari jannah dan harus kembali ke jannah, itu kan tugas yang luar biasa berat yah. Super duper gak gampang. Karena kalo gampang palingan hadiahnya piring cantik atau payung cantik. Tapi ini surga.

Maka..mengutip apa yang disampaikan Ustadz Budi dalam kajian itu, saya jadi lebih sering menggumam dalam doa-doa saya…

aku sudah hamil dengan cara agamaMu,
aku melahirkan dengan cara yang Engkau sampaikan,
aku menyusui seperti yang Engkau mau…
maka beri aku bakti anak-anakku…

masih tentang doa

Sejak dulu saya selalu percaya, bahwa doa orang-orang sholeh itu punya posisi yang spesial di hadapan Allah. Saya cuman membayangkan bisa jadi doa mereka ini bisa menembus langit bak jalan tol. Kalau doa cem sayah ini ya mungkin masih semacam jalan biasa. Kadang lancar kadang macet.
Suatu hari di bulan Sya’ban kemaren, saat saya mengganti hutang puasa karena hamil kemaren, sengaja saya tawarkan kepada anak sulung saya, mau ikut latian juga nggak (berhubung mau ramadhan juga), karena saya juga sedang mencoba mengkondisikan bayi bisa berkompromi atau tidak diajak berpuasa.
Tahun-tahun sebelumnya kakak nailah baru mentok di sampai waktu ashar. Maka kali itu dia berinisiatif sendiri, “ummi aku mau coba sampai maghrib ya..”
Aih. Yasudah saya bolehkan. Sambil saya kasih semangat, “iya ummi doakan kakak nailah kuat ya sampe maghrib”
Menjelang ashar mulai deh. Rewel. Tapi masih bisa dialihkan. Tamat juga hari itu sampai maghrib.
Di sela-sela berbuka, dia bilang “ini karena ummi doakan aku nih aku jadi kuat puasanya”
(Ya Allah, berasa menjadi emak-emak beneran…)
Saya terkenang banyak momen dalam hidup saya yang nggak lepas dari meminta doa dari mama. Dari doa orang-orang yang saya anggap sholeh yang kalo ketemu saya minta untuk mendoakan.
Dan pada hari lainnya masih di bulan Sya’ban, seperti biasa di hari itu saya biasa bertemu seorang Ustadzah. Seperti biasa pula kami bersalaman-cipika-cipiki. Yang nggak biasa adalah, saya menyodorkan bayi Nafisah untuk salim, lalu Beliau mendoakan Nafisah “robbi habli minash sholihin” Saya pun mengaminkan.. Lalu nyeletuk “Ustadzah, umminya nggak didoakan nih, saya kan juga anaknya ibu saya, saya juga mau didoakan dong Ustadzah..” 😉😉
Hehhe.
.
.

Pernah pula saya dengar, ada kebiasaan yang biasa dilakukan oleh para guru di sekolah kakak nailah. Apa itu? Para guru mendoakan m murid-muridnya secara khusus. Hal yang sangat istimewa buat saya…
Ya itu tadi, kita nggak tau ya, doa siapa yang dikabulkan Allah?

.
.

Ya…
Jadi, cuman pengen bilang, “saling mendoakan ya”