Pilihan yang Tak Biasa

Kadang, ketika ada yang bertanya anak saya kelas berapa, saya bingung menjawabnya. “Ngg, Kelas 1, tapi sekarang setara Kelas TK B..”
Saya yakin, yang mendengar mungkin akan balik bingung. Tapi setelahnya kami lalu bercerita pendek soal Kuttab Al Fatih ini.
Lain kali ada yang bertanya
“Oh itu yang sekolahnya kayak pondok pesantren itu ya?”
Hmmm…Bukan mondok kok. Anak saya pulang selepas sholat dzuhur berjamaah kok.
Atau
“Oh itu sekolah yang anak-anaknya nggak boleh nonton tivi sama maen hape itu ya?”
Bukannya nggak boleh, tapi lambat laun anak-anak punya kesadaran sendiri soal manfaat dan nggak manfaatnya apa yang mereka lakukan.
.
.
.
Kilas balik setahun yang lalu,
Jujur.
Perasaan yang tidak bisa dideskripsikan ketika kami hendak memasukkan anak pertama kami ke Kuttab Al Fatih.
“Kita bakalan diterima nggak ya? Itu kan sekolah yang ndaftarnya buanyak, yang diterimanya nggak semuanya. Nggak pernah pasang iklan tapi kuotanya pasti full. Nasib kita gimana ya? Lihat deh ini, selalu ada permohonan maaf di pengumumannya: Mohon maaf kami tidak bisa menerima semua calon santri”
.
.
.
Dan kami kemudian hanya berharap kemudahan rezeki soal hal ini.
Sadar betul kami ini orang tua ala kadar yang fakir ilmu, atau mungkin sering mendapat ilmu tapi entah berapa yang terserap sebagian banyak yang di luar kepala alias menguap tak berbekas. Seringkali berakhir menjadi catatan. Namun lihatlah berapa yang jadi amal nyata. Kadang tak berani. Kadang merasa belum sanggup. Ada sajalah alasan.
Maka kami berharap Allah menjodohkan kami dengan Kuttab Al Fatih ini.
.
.
.
Kami berusaha mendidik dengan yang kami tau dan kami bisa.
Maka, kadangkala usaha ketika usaha kami tak lagi dirasa cukup, kami membutuhkan dan mencarikan “guru yang baik” untuk anak kami.
.
.
.
Hampir setahun ini kami bersama Kuttab Al Fatih,
dengan segala dialektikanya.
Kami sedang dalam fase bagaimana diarahkan menjadi orang tua.
Apakah itu mudah?
Tentu saja tidak.
Buat kami, yang dibesarkan dengan urutan pendidikan tidak sesuai dengan Kuttab, tentu saja kami yang “terpaksa” banyak belajar.
Apakah ringan?
Selalu ada jalan insyaAllah.
Bagaimana jika lelah?
Sungguh ada saatnya lelah. Tapi, bagaimana berharap surga kalau begini saja lelah? Kita bukan sedang berperang saja sudah lelah. Tengoklah amalan kita?
Duh, malu.
Benarlah adanya, kalau bukan karena Allah tutup aib kita, nggak sanggup rasanya berjalan menengadahkan kepala.
Malu.
Malu sedang Allah sangat banyaaaak sekali kasih sayangnya. Sedang kami, ah sudahlah malu pokoknya.
.
.
.
Maka disini kami belajar bersama,
Memperbaiki diri setiap hari,
Jatuh?
Bangkit lagi,
Lupa?
Belajar lagi,
Salah?
Perbaiki lagi,
Tidak tahu?
Bertanya,
Bosan?
Kami paksa untuk melawan,
Dan mencoba bersemangat kembali…

Terus menerus begitu.
.
.
.
Dan ini adalah salah satu pilihan tidak populis kami.
Nggak ada ijazah nya lo? Yakin?”
Maka kami mencoba bersabar. Mengikuti tahapannya.
.
.
.
Mau kami cuma sederhana. Ridho Allah.
Sebuah harapan bahwa kelak anak kami mempunyai kecintaan yang besar dan pemahaman yang setidaknya jauh lebih baik daripada kami orang tuanya, terhadap Kalamullaah, Al Quran. InsyaAllah belajar ilmu dunia bisa diusahakan. Tapi belajar Al Quran bukan hal yang main-main. Ini pegangan hidup, bagaimana bisa menjadi pegangan hidup kalau paham saja tidak? (Faghfirlana ya Allah…)
.
.
.
Maka Kuttab Al Fatih ini..
Adalah jawaban dan jalan yang Allah pilihkan.
Untuk sebuah doa, bagaimana menemukan sebuah komunitas, pendidik, sistem pendidikan, yang tidak hanya mendidik anaknya saja, tapi juga mendidik orang tuanya.
Para Ayah, diingatkan dan dididik untuk qawwam yang baik..
Para ummahaat, terus diingatkan dan dididik juga bagaimana menjadi wanita yang sholihat.
Semoga lingkaran ini kekal sampai ke surgaNya Allah.

Barakallahu fiikum..
.
.
.
Dalam suatu majelis, Rasulullah mengingatkan para sahabatnya, “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

Nabi menjawab :
1. menerima usahanya walaupun kecil,
2. memaafkan kekeliruannya,
3. tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan
4. tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.”
(H.R. Abu Daud)
.
.
.
Ya Allah bimbinglah kami.

#kuttabalfatihtangerangselatan
#kuttabalfatih
#duakurikulum
#adabsebelumilmu
#imansebelumquran

Advertisements

b.e.l.a.j.a.r

Suatu hari saking desperado nya emak-emak rumahan ini, surhatlah kepada suami: Istri: “kayaknya aku butuh pergi ke psikolog deh”

Suami: “hah,ngapain?”

I: “ya kayaknya sekarang aku gitu-gitu aja deh.masak nggak jago-jago amat.nata rumah ya gtu-gtu juga.ngapalin quran duhhh susahnya.nulis yaa gtu-gtu aja.jualan kayaknya aku kurang tlaten.njait baru belajaran.aku ini bisanya apaaah.pengen cari tau passion aku apa deh” (mendadak lupa ya barangkali emak inih pernah kuliah farmasi, ya habisnya memang udah buanyakkkk banget yang menguap, trus agak lebay ya bicara passion segala hahhah. tapi percayalah. tiap dapet antibiotik dari dokter tanpa indikasi jelas, langsung saja itu obat akan nangkring dengan manisnya berakhir di tong sampah. ulala,maafkan. syukurlah dibayari. dan juaraaaang pergi ke dokter kecuali anaknya lemes banget dan nggak mau makan minum sama sekali. mudah-mudahan masih bisa mengaplikasikan walauuuu skalanya kuetjiiiiiillllllll)

S: (menghibur banget) “mi,ummi udah bisa masak macem-macem dari jaman dulu awal nikah itu progressnya udah bagus banget.”

I: “iya ya???”

Yawes.Lalu aku bahagia.Nggak jadi pergi ke psikolog.

Case Closed

===

Hahaha,ya si.duh.mbedain aneka mpon-mpon aja dulu aku sulit.kunci ma kencur aja dulu sering ketuker.ketumbar ama merica aja dulu aku siwer.sekarang ya selangkah lebih maju lah.kalo disuruh bikin urap-urap aku bisa,tapi jangan disuruh bagi karena aku belom pede xixixi😁😁 kalo makan sebuah masakan di resto kadang bisa nerka,ini ada bahan bumbu ini.coba ah di rumah (kalo mood nya bagus 😅)

mbedain aneka pisang sekarang aku udah sedikit bisa.dulu di mataku semua pisang itu adalah pisang ambon.iyyuuuh 😎😎 parah parah parah

Mungkin memang harus berpasrah. Mungkin proses belajar di bidang masak-memasak ini memang termasuk yang lambaaaaatttttt. Ora opo-opo alon-alon asal kelakon.

===

Pernah pula suatu kali saya surhat sama anak sulung

Ummi: “kak,ummi kan juga pengen kasi mahkota sama orang tua ummi. tapi ummi sekarang ngapalin quran nya susah deh,banyak lupa nya susah ingatnya.’

Kakak Nailah: “emang dulu ummi sekolah nggak ngapalin quran?

U: “enggak”

N: “nggak apa-apa ummi.walaupun sedikit-sedikit.yang penting ummi berusaha”

Eaaa.baiklah.semangat.alon-alon asal kelakon.

(walauuu berattttt…)

Saya jadi menyadari.Proses belajar nggak selamanya selalu jadi cepat dan mudah.Ya memang ada kalanya kita butuh proses yang panjang.Teringat dulu bisa loh ngapalin segala macem pelajaran jaman sekolah. Sekarang? Hahahah. Ampunnnn

Makanya. Jangan bosan belajar. Jangan pernah merasa cukup. Tapi ya itu energi aktivasi nya besar cyinnnnnn.. Yah minimal niat nya sudah ada. Mudah-mudahah Allah mudahkan. Aamiin

Sewindu

Misi kita tak lagi melulu soal dunia,

Perjalanan ini harus berujung surga…

Tak selalu jadi mudah,

Jatuh, bangkit lagi, letih, kadang perlu beristirahat, kadang jenuh, tak tau harus bagaimana selain berpasrah…

Sewindu ini tentang dia,

Bukan lagi soal gombalan cinta belaka,

Atau seikat bunga,

Karena,

powerbank yang tiba-tiba penuh, tangki bensin yang menunjuk pada huruf F, sarapan pagi yang ada di meja makan kita, cemilan oleh-oleh pulang kerja, atau masakan yang penuh cita rasa, dan yang paling penting: kuota dan pulsa 😁

Itu lebih nyata… (trimakasiiiiiii)🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Sewindu ini,

Berarti sewindu pula hidup di rantau,

Kadang berat. Tapi ada saja caraNya memudahkan kita. Syukuri saja. Rezeki kita masih disini.

Walau, kadang galau…

dan akhirnya, semoga Allah mengizinkan kita menua bersama. hingga ke surga.

24.3.2010

24.3.2018

2920 hari penuh rasa.

Alhamdulillaah.

Terimakasih yaAllah

Allah Sayang Loh…

Kalau emak-emak gampang baper even setelah melahirkan, mo nyalahin apa lagi yah? Xixixi kalo lagi hamil kan bisa meng-alibikan “lagi hamil”.. Kalo bayeknya udah keluar apa dong yang mo dikambinghitamkan? Tapi baby blues memang nyata sih ya menyerang ibu-ibu setelah melahirkan. Hahaha, kemarenan setelah melahirkan anak kedua, setelah mamake pulang kadang saya sedih nggak ditemani. Makleum, masih punya adek-adek, jadi kita rebutan mamake deeeh.. Lagi di rumah sakit ngeliat newborn yang dianter komplit ibu,serta kedua neneknya, baper lagi “iiih, seneng yaaa dianter lengkap gtu..” Trus ayahnya NaiNaf bilang “dah lah, enakan juga sendiri, ntar beda pendapat soal ngasuh, emok situ” (heheheh ya siiii..tapi kan tapi kan tapi kan..)

Trus kadang baper lagi kalo males masak, ” ah coba ada mamakeee,, dimasakin kan enak yaaah” dah lah, go food ajah sesekali…

Hahaha, ya akhirnya memang berlegowo hati itu ya memang terapi paling oke ya. Lha piye.. Kalo dipikirin nanti aku bisa kurus. Jadi makan ajah yak. Segala dimakan biar heppiiiiii.. 🤗

Seringkali silaturahim mengobati apa aja yang saya pengen. Pernah saya pengen makan urap-urap. Eh ketemu aja itu urap-urap. Pernah saya pengen kue cincin, eh ketemu juga. Pernah saya ngebatin soal gemblong, loh tau-tau ada aja yang ngasih. Bika ambon, brownies, lapis talas, yang cuman saya batin trus kadang belinya nggak sempet. Bikin apa lagi, lebih remfong. Tau-tau aja ada yang nyuguhin ituh. Disitu saya ngerasa, tuh Allah mah kita mbatin aja kadang dikabulkan. Tapi ya kadang kan kita gengsi ya, masa’ berdoa cuman “Ya Allah aku pengen makan bakmi” nggak ada doa yang lebih jelas gtu?

Dan momen-momen itu bikin saya bahagia sekaligus harap-harap ketinggian.. Dikasih balesan di dunia aja bahagiaaaaa bangetttttt.. Apalagi kalo masuk surgaaaaa.. (sekaligus syedih da amal ibadah gini-gini ajah, semoga trend nya naek walo banyak stagnan nya dan turun nya..)

Ah, nggak apa. Namanya juga berdoa ya kan.. Allah Maha Penyayang kan kan kan..

Sekian dan terima bakmi (hahaha)

🍜🍜🍜🍜

Muslimah sebagai Seorang Istri

Lama tak menulis..xixixi

Kali ini saya mau mencoba share apa yang saya dapat waktu saya ikut pengajian ibu2 di perumahan..Bisa terbilang sangat jaraaaaang saya menulis soal apa yang saya dapat..Saya punya kelemahan soal menyampaikan kembali..Sering tidak sistematis…Beda halnya menulis soal keseharian itu kan mengalir saja.Tapi menyampaikan suatu ilmu kembali,itu sungguh berat buat saya..Makanya mungkin selain materi kali ini emaks emaks bangettttt dan mengena makjleb bertubi-tubi mungkin agak dapat ruh nya..I’ll try then

Entah judulnya apa? Hahaha saya beri saja judul ya “Muslimah Sebagai Seorang Istri” (makleummm bawa bayik,yaa ndengerinnya sambil gendong2 gtu deh..euh kasian amat anak2 selalu jadi kambing hitam ya..tapi memang iya..hadirnya kita di majelis ilmu membawa anak-anak itu memang nggak akan membuat kita 100% menyerap ilmu..hadir sendiri aja belom tentu bisa 100% apalagi bawa anak #eh pembenaran lagi.tapi saya yakin,hadirnya kita di majelis-majelis ilmu yang katanya turut dihadiri oleh para malaikat sehingga menjadi salah satu waktu diijabahnya doa, memberikan sebuah kesempatan emas untuk saya untuk banyak berdoa..apa saja..orang jawa bilang:ngalap berkahnya saja..kalau ada yang heran kenapa saya mau bersusah-susah bawa bayik hadir ke kajian ya karena ini..mudah-mudahan dengan hadirnya saya saja mendapat barokah dari Allah sekaligus itu tadi,saya banyak berdoa dalam hati.aamiin)

Pengajian serius tapi santai, ringan namun bergizi kali ini disajikan oleh Ustadzah Hj. Erika Suryani Dewi,Lc..Beliau ini aktif di Daarut Tauhid.Pernah tinggal di Sudan juga selama 13 tahun.

Pernahkan ibu-ibu sekalian terbangun di pagi hari dan bingung akan mendahulukan yang mana?Tumpukan piring menggunung?Perut lapar keroncongan,Masak dulu?Baju kotor sudah menumpuk?Lantai rumah minta disapu? dan berakhir dengan tidak melakukan apapun…?

.Kekuatan Doa.
Kadang kita lupa memulai hari dengan memohon pertolongan dengan berdoa kepada Allah..Kita cuman ingat berdoa soal Ya Allah minta jodoh,Ya Allah minta rezeki, Ya Allah sembuhkan lah anak-anakku yang sakit, Ya Allah pengen bla bla bla, dan yang lainnya..Tak ada salahnya jika kita selalu menyertakan dan memanjatkan doa kepada Allah di setiap urusan, sekecil apapun urusan itu..Tak ada salahnya kita berdoa “Ya Allah mudahkan urusanku hari ini..” “Ya Allah mudahkan dan ringankan aku dalam menyetrika” Tak ada salahnya…Sehingga setiap hal yang kita kerjakan di rumah entah itu menyapu, entah itu mencuci piring, entah itu menyapu, mengepel dan aktivitas lainnya akan terasa ringan dikerjakan dan mudah-mudahan mendapatkan ridho dari Allah..Karena apa, jika Allah ridho, surga lah balasannya insyaAllah..

…ingat…ridho Allah = surga…

Itu kenapa surga ada di telapak kaki ibu..dalam setiap langkah-langkah nya di rumah jika ada keridhoan Allah,insyaAllah surga lah balasannya..

Bahkan, sampai dikatakan bahwa jihadnya wanita itu adalah di rumahnya..
.Benahi Niat.

Terkadang yang membuat terasa berat, sempit dan tidak lapang itu adalah ketika mata kita bertabrakan dengan materi,dengan hal-hal yang berbau duniawi.Sahabat Rasul dulu dikisahkan jika di rumahnya sudah terlalu banyak perabot,maka mereka akan mengeluarkannya dari rumahnya..Supaya apa?Supaya mereka tidak terikat dengan dunia..Apalagi untuk kaum hawa..Kebanyakan mereka ini membeli apa yang mereka inginkan, bukan yang dibutuhkan..Pun hati-hati, jika kita menginginkan anak-anak kita bersekolah tinggi hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan uang yang banyak, koreksi kembali niat kita..Tanamkan kepada mereka bahwa surgaNya lah yang menjadi orientasi hidup kita..Supaya kita bisa masuk surgaNya Allah..Karena kehidupan kita di dunia ini tak lebih dari sekedar musafir yang hanya tinggal sementara saja.

Juga jangan suka mengungkit-ngungkit.Misal, dengan mengatakan “Ibu ini sudah capek-capek mengurus kamu.” Atau “Ibu ini sudah habis banyak uang menyekolahkan kamu”

Dalam hadits disebutkan “Jangan suka membatalkan pahala sedekah dengan mengungkit dan menyakiti”

Maka dari itu ikhlas ini bukan perkara saat dikerjakan saja, akan tetapi adalah sebuah perkara panjang sampai kita mati.Karena sepanjang itu,setan tidak akan berhenti menggoda kita.

.Jadikan Baiti Jannati.

Maka dari itu..jadikanlah rumah-rumah kita ini sebagai masjid,sebagai pesantren,sebagai markas,sebagai basecamp,sebagai magnet yang mempunyai daya tarik..Bagaimana supaya anak-anak betah di rumah? Itu dimulai dari bagaimana ibunya.

Jadikan rumah kita sebagai tempat pulang yang nyaman sesuai al quran dan as sunnah.Bukan dengan kenyamanan lain yang tidak sesuai dengan keduanya.Jangan sampai ketika kita akan pulang ada perasaan malas pulang ke rumah,tidak betah,tidak nyaman,tidak tenang.Hari ini kalau kita sadari,musuh-musuh Islam akan berupaya bagaimana membuat wanita-wanita berada di luar rumahnya.

.Wahai Ayah.

Yang tak kalah penting dan bahkan sangat berpengaruh adalah bagaimana posisi ayah dalam rumah.Kalau dibilang ibu adalah pendidik pertama dan utama di rumah.Atau dengan kata lain adalah gurunya.Maka ayah adalah kepala sekolahnya.Keduanya harus kompak.Jangan karena sibuk mencari nafkah,kemudian mengabaikan soal pendidikan anak-anaknya.

Rezeki itu bukan dicari, tapi dijemput.Jadi,ketika mencari nafkah, niat juga harus diperbaiki.Jangan habiskan waktu hanya untuk urusan mencari nafkah.Ingat,apakah sudah mendidik anak-anak dengan benar?

Karena anak-anak yang belum aqil baligh kemudian mereka sholat, maka pahalanya untuk kedua orang tuanya.Namun…Jika mereka melakukan dosa,maka dosanya itu juga untuk kedua orang tuanya..

Pun kalau anak kita masuk pesantren,jangan lupa untuk tetap mendidik mereka.Karena tanggung jawab itu ada di tangan orang tua.Jangan sampai kita merugi, ketika anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh/sholehah yang mendapatkan pahalanya adalah guru-gurunya saja.

Sempatkan dalam seminggu untuk berkumpul bersama dengan keluarga seperti yang dicontohkan oleh seorang ustadz fulan, untuk mengaji bersama.Saling mendengar bacaan dan taushiyah.

.Pelajaran dari Para Shahabiyah/Istri Rasulullah.

Walaupun di rumah saja..para shahabiyah/istri Rasulullah ini tetap punya penghasilan sendiri untuk soal infaq/shodaqoh mereka.Jika soal nafkah mereka menerima dari Rasulullah,namun untuk urusan infaq/shodaqoh ini mereka mencari sendiri dari hasil keringat mereka sendiri.Saking tidak relanya pahalanya dibagi dua dengan suaminya.Karena kalau dari uang suami, pahalanya bagi dua ya..dan ingat..infaq/shodaqoh ini tidak melulu soal uang ya.bisa berupa bentuk lainnya.ada yang mungkin pandai memasak kemudian membagikannya,ada yang mungkin pandai menjahit dan membagikan hasil jahitannya.

Jadi,ummahaat,back to home please..


Wallahu a’lam.


Adaptasi

ini adalah kemampuan paling mengagumkan yang Allah ciptakan untuk makhluk hidup, menurut saya tentu saja..

dari adaptasi, kemudian makhluk hidup bisa bertahan hidup, melanjutkan kehidupan dan hidup dalam jangka waktu yang sudah ditentukan.. awal yang krusial dan menentukan.. 

dimana ada awal kisah yang baru, disanalah adaptasi pun dimulai..

sekian celotehan emak yang sedang beradaptasi sebagai emak dengan dua anak..

✌ 2 anak cukup

👌 3 batasan anak yang dicover kantor

✌✌ 4 hmmm…rezeki anak insyaAllah Allah yang cukupkan 

🖐 5…wowowww 5 ya? I cant imagine sih sebenernya..xixixi

#opoto?

Cerita Lahirnya Anak Kedua:KakNaf

Setelah eyel-eyelan si bayi yang udah lahir ini mo dipanggil apa (nggak boleh dipanggil adek,dikarenakan nampaknya ayahnya tidak ingin ada kejadian serupa dimana dia adalah anak kedua selama 12 tahun yang dipanggil adek, kemudian punya adek dan bingung dipanggil mas oleh adeknya tapi tetap dipanggil adek oleh ayah-ibunya..) akhirnya si bayi imut sepanjang 46cm berat 2,6kg ini kami putuskan untuk dipanggil kaknaf (nafisah).hahhaha masih agak kagok juga manggil kaknaf,sering kali saya sebut nafisah saja demikian.. 😁😁😁

Beklaaah..Saya mau cerita soal cerita gimana bayi imut itu lahir ke dunia ini..Walaupun ini anak kedua..Proses melahirkan itu masih tetap membuat deg-degan ya..(bahkan katanya yang anaknya udah lima,setiap mau melahirkan tetep aja deg-degan..)..Bahkan,karena usia juga udah bertambah jompo,makin banyak pikiran nggak sesantai dan sebonek waktu anak pertama dulu (ah benarlah adanya,mumpung muda segeralah punya anak soalnya karena ini kali ya..).Ohya di kisah kelahiran kedua ini ada beberapa hal yang sengaja nggak saya ceritakan,soalnya kwatir menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan (mudah-mudahan nggak pnasaran ya…).Dan yang jelas,kelahiran bagaimana pun prosesnya adalah membuat saya banyak berucap syukur alhamdulillaah..Alhamdulillaah,alhamdulillaah…

HPL saya jatuh pada tanggal 23 Juli 2017..Kalo tidak beda jauh dengan anak pertama dulu, perkiraan si bayi imut ini akan lahir di kisaran mendekati 39w..Ada yang bilang,katanya klo normal nggak ada kasus tertentu,kisaran kelahiran kakak dan anak berikutnya akan relatif sama..Saya udah ngarep tanggal cantik 17-7-17 tuh (tapi kapan aja deh yang penting sehat selamat)

Di minggu 37 saya periksa kehamilan, saya dihadapkan pada kenyataan dimana katanya air ketuban saya sangat sedikit.Saya nggak tau kadar normal harusnya berapa,tapi yang jelas di usia segitu sudah di bawah 5.Dan diminta untuk SC melihat hasil CTG yang katanya juga kurang bagus..Waktu dibilang harus SC..Saya jujurly sedikit panik.Bingung.Karena cuman periksa berdua dengan anak pertama saya.Nggak bisa memutuskan.Browsing2,memang di level itu kondisinya bisa dibilang mengkhawatirkan.Itu hari Kamis pagi.Di mana Nailah masih liburan dan saya sudah berjanji nganter dia ke playground untuk bermain.Suami jelas saja ngantor.Hahaha kepala mulai cenut-cenut sebelah.Oke,kita tetap pergi main.Sambil saya teleponlah paksuami.Saya yakin dia sama paniknya waktu saya telepon karena dia bilang,”yawes aku pulang sekarang,sambil coba cari jadwal dokter lain.”

Singkat cerita kami mencari second opinion.Air ketuban saya memang sedikit.Tetapi hal-hal lain bukan merupakan kondisi yang mengharuskan saya di-SC.Dari usg keliatan banget saya tegang kata dokter.dan berpengaruh pula kepada janin.Saya diminta untuk periksa CTG (rekam denyut jantung janin).CTG pertama hasilnya kurang bagus(bayangpun sebelahan sama orang melahirkan).Singkat cerita CTG kedua,hamdalah hasilnya bagus.Dan dokter membolehkan kami pulang sampai menunggu mules datang pertanda saatnya si bayi ingin keluar menuju dunia..Karena kami penasaran..Sabtu kami kembali periksa..Setelah sebelumnya diberi penjelasan untuk banyak makan dan minum yang manis-manis..Jadi sarannya bukan sekedar minum air putih saja,tapi ditambain yang manis-manis (dan dulu dokter kakak nailah menyarankan untuk membatasi asupak karbo,okay tapi mantabkan hati saja yaa).Alhamdulillaah,biidznillaah,dengan izin Allah, waktu saya periksa hari Sabtunya air ketuban nampak di banyak tempat dari yang asalnya hanya di satu bagian saja..Makin mantap hati kami untuk menunggu kelahiran si bayi imut ini dengan normal..Ah masyaAllah..Itu beneran kondisi yang membuat dag dig dug ser banget deh. Eh belom cerita proses melahirkannya udah sepanjang ini ya… 😁😁😁

Nah..Sampailah kemudian kita ke hari Jumat berikutnya..itu di usia 38w5d (dimana kakaknya dulu lahir di usia segtu..).Jumat sore saya ngeflek.Dan sedikit mules tapi karena siangnya saya dan teman-teman eks komite sekolah nailah dulu habis pesta makan bakso.Lengkap dengan sambel.dan saya sedikit nakal minum minuman cola bersoda itu.hahaha,,nggak belajar daei kasus sambel pencit (mangga muda) dari kelahiran anak pertama rupanya..Ngeflek tapi belom mules teratur.Dan ada mama saya di rumah yang akhirnya datang duluan di hari Rabunya,nyuruh-nyuruh untuk ke rumah sakit.Tentu saja saya nggak pergi.Karena belom mules sama sekali.Pasti disuruh pulang lagi.

*Malam menjelang Jam 12..Mulai mules tapi nggak teratur..1 jam saya bisa tidur nyenyak..

*Masuk hari berikutnya…

Menjelang Jam 2 pagi..Mules teratur setiap 15-16 menit..

*Menjelang Jam 3 pagi..Saya udah mules teratur setiap 10 menit sekali..Jam 4 pagi saya bangunkan suami.Kayaknya aku mau melahirkan ini..Udah mules teratur tiap 10 menit sekali..Kami siap-siap..Makan minum..Sarapan..Dan dengan santainya kata Mama,bilang kalo udah mules.Mama saya keliatan panik banget.Saya masih santai karena mules masih setiap 10 menit sekali..Dan nyuruh-nyuruh buat ke rumah sakit.Padahal nanti aja gtu maksutnya kalo udah tiap 5 menit.Yasudahdeh kami nurut.Tadinya kami nggak tau, kakak nailah akan dititipkan kemana.Dengan berita saya harus di-SC itu membuat mama saya jadi berangkat ke sini..xixixi

*Jam 5.30 an..Tiba di RS, cek bukaan, masih bukaan 2 ternyata kalo masih tiap 10 menit itu..Ditawarkan mau pulang lagi atau mau mulai rawat sambil menunggu? Kami putuskan untuk menunggu saja di RS. Hehehe ada mama di rumah pasti disuruh balik ke RS lagi..

*Singkat cerita bukaan terus bertambah, hingga saya menanti dokter yang tak kunjung datang..itu sekitar jam 8 rasanya udah nggak karuan banget..syukurlah beberapa waktu sebelum hamil saya sempat ikutan yoga.ambil nafas dan mengeluarkan nya dengan panjang sangat membantu sekali dalam mengendalikan rasa sakit karena kontraksi..Hinggak akhirnya sekitar jam 9 anak kedua saya lahir ke dunia ini..

Bayik imut yang kemudian kami panggil Nafisah Zaina Thontowi..

Nafisah, semoga engkau menjadi ahli ibadah yang zuhud, menjadi ahli quran dan selalu dalam ketaatan kepada Allah..cantik paras,akhlaq dan hatimu..aamiin