Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Agak serius kali ini saya ceritanya ya. Ini sebenernya saya mau sharing hasil baca-baca beberapa tahun ke belakang secara otodidak ya. Bukan hasil ikutan Finansial Planning yang profesional gitu. Hasil baca-baca diskusi di grup, postingan orang, dan di media-media lainnya.

Ada quotes menarik dari adik kelas semasa kuliah dulu, nick namenya Papagon (Bos Besarnya Ramesia),
“apanya yang mau dikelola kalau duitnya nggak ada atau sedikit?”

Jawab pakbos ini: “kalau ngelola duit 5 juta atau 10 juta per bulan ajah gak mampu, berantakan dan nggak jelas. Bagaimana Allah mau ngamanahin ngelola 1 M per bulan?”

See ya, ini soal amanah. Amanah dalam mengelola rezeki yang Allah berikan ya…

Sedikit cerita, jauh sebelum finansial planning booming, saya memang suka mencatat pos pengeluaran waktu jaman kuliah semasa menjadi anak kos. Saya rasa anak kos lain juga ada yang melakukan hal yang sama. Sederhana, supaya uangnya cukup. Pernah sampe detail nyatet pengeluaran setiap hari sampai ke yang receh misal untuk parkir.
Nah, setelah menikah, saya pernah juga mengulang kebiasaan ini. Tujuannya ya untuk profiling (mengidentifikasi), awalnya ya mencatat biasa saja untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran. Darisana kita bisa tahu, oh… pemasukan / gaji yang kita terima itu cukupnya untuk pengeluaran rutin konsumsi rumah tangga saja misalnya. Kalau sudah begitu ya sudah, nggak usah ngeyel mo ambil-ambil hutang/cicilan segala. Apalagi mau pesiar kemana gitu. Ini juga penting untuk menentukan skala prioritas mana yang sebenernya cuman PENGEN aja, atau benar-benar BUTUH. Bermimpi boleh, ikhtiar harus maksimal, tapiiiiii mesti banget SADAR DIRI. Dan ternyata belakangan kata kunci soal pengelolaan keuangan ini ya tentang: merencanakan, mencatat dan mengelola uang.

Secara ringkas ini yang biasa saya lakukan di rumah tangga saya:
1. Jadi tahap awalnya : Mencatat segala jenis pengeluaran.
2. Kalau sudah punya datanya, kelompokkan berdasarkan jenis pengeluarannya. Nanti, dibahas di bawah apa saja model pos pengeluaran yang lazim dipakai orang. Ada juga sebagian orang yang memakai metode masuk-masukin uang ke amplop terpisah sesuai pos begitu terima gaji/pemasukan.
3. Dari data itu kita bisa rencanakan misal butuh dana buat sekolah anak nih, butuh untuk bantuin sekolah adik, atau sekian tahun lagi ingin punya ini, ingin punya itu. Mana yang beneran butuh mana yang sekedar pengen. Termasuk di sini soal life style (gaya hidup), woah mau sebesar apa juga gajinya, kalau gaya hidupnya ikutan naek rasanya agak susah ya mau bisa investasi/menabung.
4. Ini poin penting banget di rumah tangga kami: jangan ngegampangin UTANG. Karena umur gak ada yang tau, jangan membebani ahli waris dengan utang. Kalau bisa nggak punya UTANG sama sekali itu lebih bagus.
5. Yang nggak kalah penting nih, kalau ada rencana untuk menabung, pisahkan dulu di awal (hahaha biar nggak keikut yang laennya, tapi kadang pada prakteknya ya kalo udah nggak ada anggaran buat menabung yawes mau gimana lagi…hehehe).
6. Terakhir banget tapi yang paling penting, buat saya yang seorang muslim, anggarkan zakat, infaq, shodaqoh, minimalnya 2,5 % maksimalnya 1/3 harta (sekitar 30%). 1/3 harta ini diambil dari haditsnya Sa’ad bin Abi Waqash waktu lagi sakit keras dan nanya ke Rasulullaah soal berapa harta yang mau disedekahkan dan berapa yang mau diwariskan ke putrinya sepeninggal Sa’ad. Dan Rasulullaah hanya membolehkan 1/3 hartanya untuk disedekahkan. Hehehe tapi ini sih hitungan matematika penduduk bumi ya. Kalau mau nyoba menganggarkan sedekah lebih dari 30% yaaa boleh-boleh aja. Kita nggak pernah tau kan matematika langit kek apa. Dan utamakan sedekah ini kepada keluarga dekat kita dulu sebelum orang lain.

Nah, di saat pandemi begini mungkin ada baiknya kita menilik kembali bagaimana pos pengeluaran di rumah tangga kita. Mumpung banyak waktu bersama pasangan. Ini mungkin saat yang sangat tepat untuk merencanakan masa depan dan mengevaluasi keberjalanan keuangan rumah tangga selama ini.

Salah satu metode yang lazim dipakai untuk mengelola keuangan rumah tangga itu adalah dengan metode porsi. Jadi, kita pos-poskan pengeluaran sesuai porsinya.

Ada beberapa model/rumus:

1. 50 – 30 – 10 – 10, bisa baca lengkapnya disini
Ini model yang coba saya pakai di rumah.
50 % untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga termasuk belanja hari-hari, makanan, buah, sayur, vitamin, air galon, gas, pendidikan anak,transport, belanja bulanan macem sabun dll.
30 % ini untuk cicilan (segala jenis hutang, termasuk kalau punya kpr rumah, cicilan mobil, asuransi, tagihan listrik / aer itu masuknya kesini)
10 % untuk saving / investasi (menabung atau investasi masuknya kesini macem-macem ya bentuknya mulai dari yang sederhana macem emak-emak kita dulu beli perhiasan emas sampe yang skalanya besar semacam properti)

Tentang investasi ini ada juga yang membagi investasi jangka pendek, menengah, dan panjang. Ada juga berdasarkan profil risiko untung/ruginya. Xixixi gugling dhewe lah yaaa…
10 % charity (termasuk zakat, infaq, sedekah, kado untuk teman yang melahirkan/menjenguk kalau sakit/takziah ketika meninggal, arisan, masuknya ke sini ya).

2. 40 – 30 – 20 – 10 : needs (pengeluaran rutin rumah tangga) – cicilan/hutang – investasi/saving – charity (zakat infaq sedekah termasuk arisan)

3. 60 – 30 – 10 : tabungan – investasi – biaya hidup
Ini yang kapan lalu lagi viral, hahaha emangnya bisa biaya hidup cuman 10 % ? Ya bisa aja asal masih single deh kayaknya. Kemungkinan laen ya memang hartanya banyak, tapi gaya hidup biasa aja.

Dan banyak lagi model yang lainnya sih tapi intinya biasanya model yang banyak dipakai amannya cicilan itu nggak lebih dari 30 % pemasukan kita (ini juga pernah saya denger dari marketing-marketing perumahan, biasanya diapprove kpr rumah kalau cicilan kita nggak lebih dari 30%). Sisa porsinya bisa diatur sesuai kemampuan masing-masing. Sekian dulu sharing kali ini ya. Semoga ada manfaatnya…

kebon sayah

Wait, jangan berpikir ini kebon yang kayak di desa-desa itu ya. Yang super jembar. Ini cuman kebon di depan rumah sayah.

kebun di depan rumah bandung dulu..yang kini tinggal kenangan karena udah dijual ama rumahnya wkwkwk

Omong-omong soal tanam-menanam, sejujurnya saya nggak berani ya sama cacing. Tapi pengen punya halaman ijo. Gimana dong? Ya saya todong ayahnya NaiNaf buat mewujudkannya. Wkwkwk…

Niatnya sederhana, seperti kita pernah belajar, proses fotosintesis jaman sd/smp dulu berkata bahwa proses tersebut akan menghasilkan produk akhir: O2 alias oksigen, yang kita butuhkan untuk bernafas. Eh nggak kita doang deng, hewan-hewan dan seluruh makhluk aerob butuh oksigen ye kan..

tanamanmu,

oksigenmu

Saya mupeng tu kalo ada orang yang bertanam dengan lahan yang nggak gitu luas terus tanamannya seger-seger ampe bisa dimakan segala. Saya mah jauuuuuh dari itu. Xixixi asal udah hijau aja udah bagus banget itu kebon sayah 😀 Jatuh bangun banget ini membuat rumput tetap hijau. Udah berapa kali gonta-ganti rumput, kebanyakan berakhir kering gtu di musim kemarau.

Di kebon sayah ini tadinya cuman ada pohon mangga, pandan ama lidah buaya yang kira-kira ada manfaatnya. Pohon pandannya saya umumin ke tetangga sekitar rumah menjelang ramadhan kemarin : “yang mau/butuh silakan ambil aja.nggak usah ijin nggakpapa. Halal” Nah, tanaman yang lain penghasil oksigen sajjah. hehheh. Terus ditambain ama pohon jambu kristal. Pernah juga hidup pohon blimbing wuluh dan pepaya. Blimbing wuluhnya diganti karena bosen. Pepayanya ambruk karena keberatan buah. Wkwkwk. Beberapa bulan lalu dapet hibah stroberi dari temen. Stroberinya baru beranak-pinak aja belom nampak buahnya. Dikasih mint juga, tapi tak berhasil bertahan.

Di era pandemi karena nggak bisa pulang ini, kami habis ngerapihin tanaman yang tadinya ada di polibag dan belum sempat dipindah. Sempat beli beberapa tanaman macem murbei, bidara, tin, zaitun, daun jeruk purut, dan jeruk santang (katanya, lha belom ada buahnya).

ini Pohon Tin, entah apa ya jenisnya, lupa euy. Green apa Yordan ya? Sebelah kirinya stroberi hibah.

ini Murbei, ato Arbei? Udah pernah berbuah sekali. Sengaja ditanam di pot biar nggak gede-gede amat

dari kiri-kanan: bidara, daun jeruk purut, zaitun , jeruk santang

Sungguh senang melihat mereka hidup setelah dipindah ke pot. Menunjukkan kekuasaan Allah banget tanam-menanam ini. Lha kalo bukan Allah yang Menumbuhkan nggak akan tumbuh lah…Melatih kesabaran juga. Manusia kan seringnya pengennya instan ya, nanem sekarang ngarep besok langsung berbuah. Memangnya ini semacam makanannya Ibunda Maryam yang turun langsung dari langit? 😂

Menanam pohon/tumbuhan adalah belajar merasakan menjalani kehidupan para petani. Mengharap hujan agar tanaman tersirami.

Menanam pohon/tumbuhan adalah soal menanam hal baik. Kalau menanam padi, mungkin ikut tumbuh rumput. Tapi menanam rumput, tak akan ikut tumbuh padi. PR banget memang membersihkan gulmanya ini wkwkwk…

Nah, pandemi kali ini juga mengajarkan hikmah luar biasa tentang bagaimana cara Allah memulihkan kondisi bumi yang nyaris rusak disana disini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengisi kegiatan di rumah saja dengan bertanam. Selamat bertanam!

ramadhan 2020

Ini ramadhan yang berbeda. Sangat berbeda. Nggak pernah terbayang sebelumnya. Mungkin ini jawaban banyak doa, yang ingin sebagian besar waktunya bisa dihabiskan di rumah saja bersama keluarga. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, ibadah hanya untuk Allah saja.

Allah mengirim tentaranya bernama corona. Nyaris menghentikan aktifitas manusia. Di rumah saja. Ramadhan yang berbeda. Semua dilakukan di rumah saja. Tarawih, tilawah, dan ibadah lainnya, mungkin juga i’tikaf di rumah saja. Tak apa. Masjid kita bukan terbatas pada bangunan fisiknya.

Allah memberikan keistimewaan untuk umat Nabi Muhammad, hal yang tak diberikan untuk umat Nabi yang lain, setiap hamparan bumi adalah masjid.

Masjid kita ditutup. Yang Punyanya sedang menutup. Ada apa? Kenapa?

Hal yang perlu diingat adalah:

Rahmat Allah tak pernah berhenti. Pintu ampunan Allah begitu luasnya. Jadi apa yang membuat risau sebenarnya? Bukankah kita hidup di dunia ini hanya singgah saja?

Tak apa ramadhan ini berbeda. Hadirkan spiritnya di rumah kita. Jangan sampai kita teralihkan dengan corona. Lupa kepada siapa PenciptaNya.

Panik jangan, waspada harus!

Saya akan selalu mengingat ramadhan yang berbeda ini. Mungkin ini satu-satunya ramadhan yang akan meninggalkan kesan tersendiri. Selain ramadhan beberapa tahun silam di kala bapak saya berpulang ke rahmatullah. 4 ramadhan, tahun 1999.

Saya akan merindukan hari-hari kami berusaha beribadah di rumah saja. Hari-hari di mana dari pagi sampai malam pagi lagi malam lagi, bertemu dengan suami dan anak-anak. Ramadhan yang mahal. Terimakasih corona…

Biasanya di bulan ramadhan, suami saya sampai rumah nyaris adzan maghrib sepulang kantor, bahkan kadang lewat adzan maghrib baru sampai di rumah. Ramadhan ini banyak kesempatan untuk saling menguatkan. Banyak kesempatan untuk dibantu masak menu sahur dan berbuka? Sederhana memang, tapi bukannya emak-emak paling suka dibantu soal pekerjaan rumah tangga? Dan ini mahal.

Tidak boleh mudik? Tak apa, kami sudah pernah tak mudik lebaran. Silaturahim sejatinya tak harus bertemu rupa. Saya tahu orang tua memendam rindu teramat sangat kepada cucu-cucunya. Sabar ya, insyaAllah segera setelah semuanya mereda, kami akan pulang.

Ramadhan yang luar biasa.

Terimakasih corona…

Tentu, tak ada yang sia-sia dalam PenciptaanNya.

#dirumahaja

Ini hasil ngobrol-ngobrol sama Ayahnya NaiNaf. Kira-kira hikmah apa aja yang didapat dengan adanya himbauan #dirumahaja selama pandemi c.o.v.i.d.1.9. inih?

1. Yang paling kerasa adalah merekatkan kembali hubungan antar anggota keluarga. Alhamdulillaah ayahnya NaiNaf masih diberi kesempatan kerja dari rumah. Nggak harus menjadi pejuang jalanan. Banyak momen yang dulu mungkin terlewat, karena harus pergi kerja pagi, pulang malem… Dengan adanya wabah ini, kita jadi lebih lebih dan lebih lagi bahu-membahu dan gotong-royong mengurus rumah tangga dan mengurus proses belajar di rumah Kakak Nailah (biasanya juga udah dibantuin banget banget banget). Lebih banyak ngobrol satu sama lain. Wkwkwk apalagi saya mesti bedrest passss banget dimulainya hari-hari social distancing. Ah, 2020 ini akan jadi kenangan tak terlupakan buat kami. 10 tahunan yang diwarnai saya keguguran dan ada wabah corona ini….

2. Saya merasa, salah satu do’a saya terkabul. Saya sering kali meminta. “Ya Allah, saya pengen deh suatu saat suami saya kerja dari rumah” Nah lo, beneran dikabulkan sama Allah. Rasanya? Seneng. Tapi sekaligus kesian, work from home means kalo ada gangguan kerjaan ya mesti dikerjakan. Hampir 24 jam kerjanya hehhe. Tapi yaa lebih banyak bersyukurnya tentu sajah. Saya cuman jadi sempat bingung harus berdoa sedetail apa, kwatir salah doa lagi gitu. 😅 Saya kayak jadi tersadar, eh ini saya pernah berdoa begini loh. Dan Allah kabulkan. Ya jadi ngerasa “oh begini rasanya” Kayak anak kecil yang kepo terus dikasih jawaban yang membuat mengerti dan bilang “oh”

3. Segala sesuatu yang nggak seimbang itu pasti nggak bagus. Allah minta kita untuk selalu bersikap tawazun (seimbang) dalam hidup ini. Mungkin, selama ini kita lebih banyak mikir soal dunia. Sedikit mengingat Allah. Lewat wabah ini mudah-mudahan kita jadi bertambah banyak mengingat Allah. Tambah banyak berdoa. Tambah banyak beribadah. Kalo kata manajemen qolbunya Aa Gym, “orang-orang beriman itu kalo denger corona, harusnya jadi inget sama PenciptaNya, harus lebih banyak ingat Allah” Mudah-mudahan lepas wabah ini kita jadi kupu-kupu yang indah semua yaaa….

4. Kebutuhan manusia jadi kebutuhan primer aja. Pangan, sandang , dan papan. Bisa makan, bisa ganti baju, dan ada tempat untuk berteduh… Nggak ada tuh kebutuhan tersier, macem butuh jalan-jalan ke mall, traveling, beli sepatu tambahan buat ngantor, beli baju lagi buat keluar rumah, daannnnn laen-laennya. Kita kayak kembali ke jaman orang dulu hidup yang jarang kemana-mana. Yang bisa kemana-mana itu pasti ya orang kaya pake banget. Lha orang dulu kemana-mana aja masih naek becak ato delman kan atau mungkin berjalan kaki. Saudara-saudara saya di Jawa Timur aja tinggalnya ya nguplek-nguplek di kota yang sama kalo cuman kota tetangga. Saya aja yang pencilan ini jauh amet disini.

5. Mungkin, bumi lagi istirahat….
Suka ngalamin nggak? Kalo kita terlalu banyak beraktivitas, Allah ngasih kita sakit. Supaya apa? Supaya kita istirahat. Sama halnya dengan bumi ini, mungkin udah banyak banget kerusakan di muka bumi ini yang dibuat oleh manusia, mungkin saya salah satunya yang masih suka nyumbang sampah plastik. Masih suka nyumbang sampah pospak. Hiks. Mudah-mudahan Allah ampuni saya. Saya juga melihat banyak orang mulai nanem-nanem di lahan yang mereka miliki. Nanem mpon-mpon sendiri, nanem sayur, nanem daun bawang, macem itu lah. Kabar yang sangat baik sekali.

6. Ohya saya suka kadang agak gimanaaaa gitu, ini orang di sosmed kok jualan semua ya. Eh sekarang malah seneng, ayo siapa jualan apa lagi, kali ada yang saya butuhkan… Xixixi

7. Buat umat muslim, ini menunjukkan bahwa kita bukan menyembah Ka’bah. Masjidil Haram boleh ditutup, tapi apakah ibadah kita menjadi berhenti? Nggak kan… Ka’bah hanyalah arah yang mempersatukan umat Islam.

8. Muncul peluang baru: Jadi Yutuber. Heheh. Keknya channel-channel bermanfaat jadi lebih banyak muncul ya. Jadi, jihad di jaman ini adalah Jihad Kuota!!! Hehheh

9. Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan.
Yang disuruh kerja dari rumah ya di rumah aja. Kalo ada donasi-donasi gitu bantu sebisa yang kita mampu. Ingat, jangan nunggu kaya banget buat bersedekah ya!

Nah, ada hikmah apa yang kalian dapatkan?

Nailah dan LOL

Masih tentang LOL lagi 😀

Cerita sebelumnya di sini. Di kemudian hari pernah pula dia bercerita tentang LOL lagi. Kalau teman-teman WA yang menyimpan kontak saya mungkin pernah juga membaca status saya soal LOL ini.

Kakak Nailah bercerita, “ummi, ternyata kata Ustadz, nggak semua doa kita itu dikabulkan sama Allah. Ada yang diganti dengan hal yang lain yang lebih baik atau disimpan nanti sebagai balasan di akhirat…”

Saya cuman ketawa. Lha udah sering saya bilang, nggak akan ummi beliin kakak LOL. Mahal dan eman-eman uangnya nak. Bisa kenyang kalo untuk makan. Bisa kekal kalau untuk sedekah.

Terus beberapa hari lalu. Kami ngobrol lagi. Gara-garanya habis mendengarkan kajian ada kisah soal Jabir membeli kaki kambing karena sudah lama tidak makan kaki. Bertemulah Jabir dengan Umar, Umar berkata “memangnya walau rindu makan kaki, mau dihabis-habiskan uangnya untuk memenuhi keinginan?” Umar kemudian membacakan ayat “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).” [QS Al Ahqaf ayat 20]. Poinnya soal mengutamakan Allah dibandingkan dirinya.

Habis itu saya bilang lagi, “nanti kalo kakak minta LOL lagi ummi bacain ayat ini ke kakak”

Dia cuman tertawa, “iya-iya aku udah nggak pengen LOL lagi. Pernah sih aku pengen berdoa sama Allah minta LOL, tapi kayaknya nggak mungkin deh dikabulkan….”

Ayahnya ikut nimbrung “mungkin ada barang yang harganya lebih mahal dari LOL yang Allah berikan buat kakak. Mungkin meja belajar itu?”

(padahal sebenernya meja belajar itu hadiah kami buatnya saat dia menyelesaikan hapalan qurannya.entahlah kami nggak pengen beliin LOL itu memang…)

Nah, kadang, ummi juga malu dan bingung mau berdoa apa sama Allah. Tapi buat kasus LOL, udah bener itu Kakak Nailah nggak yakin berdoa soal LOL. Atau berdoa aja terus nanti Allah ganti barang lain gitu ya? Hehe…

Btw, kadang ummi juga suka ngerasa kurang yakin. Ngerasa kadang apa yang ummi pengen itu kayak mustahil. Tapi mesti diubah ini. Nggak boleh begitu. Kalau pun bingung, maka cukupkan dengan membaca “istighfar: astaghfirullaahal ‘adzim” insyaAllah, semua hajat yang kita ingin akan dikabulkan oleh Allah. Mungkin bukannya tidak yakin. Tapi karena percaya sama Allah, Allah pasti akan memberikan apa yang kita butuh pada yang waktu yang tepat. Ingat kisahnya penjual roti dan Imam Ahmad bin Hanbal? Kisah yang sudah masyhur. Tapi tak apa saya tuliskan kembali di sini. Suatu ketika, Imam Ahmad sangat ingin pergi ke Basrah. Padahal beliau tinggal di Baghdad. Maka pergilah beliau ke sana. Waktu itu belum ada ya mobil dan pesawat, adanya unta kali ya. Bagdad ke Basrah jaraknya kalau ditempuh kurang lebih 500 km. Itu sekitar dari Tangsel ke Jogja lah kira-kira jauhnya. Kalau jalan kaki kata gugelmep sekitar 5 harian. Sampai di Basrah, Imam Ahmad sholat isya’ di sebuah masjid. Selesai itu, beliau bermaksud istirahat di dalam masjid. Tapi diusir oleh penjaga masjid. Jaman itu nama Imam Ahmad memang terkenal. Tapi tak semua orang kenal wajah beliau. Beliau akhirnya mencoba istirahat di teras masjid. Tapi, lagi-lagi diusir. Akhirnya, beliau bertemu dengan seorang penjual roti di dekat masjid yang menawarkan apakah mau beristirahat di rumahnya. Singkat cerita, Imam Ahmad bermalam disana dan mendapati penjual roti ini selalu beristighfar, kecuali ketika diajak berbicara oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad penasaran. Beliau bertanya, ” Wahai bapak, aku lihat engkau selalu mengucap istighfar. Sudah berapa lama engkau membacanya?” Ternyata sudah 30 tahun lamanya penjual roti itu melakukan kebiasaan itu. Imam Ahmad penasaran lagi “Apa saja yang sudah kau dapat?” Kata penjual roti itu,

“Semua keinginanku sudah dikabulkan Allah, kecuali 1 hal: Aku ingin bertemu dengan Imam Ahmad”

Masya Allah, Allahu Akbar, jadi demikianlah, yang menggerakkan Imam Ahmad dari Baghdad ke Basrah. Karena istighfarnya penjual roti, yang tentu saja bagian dari ketetapan Allah.

Jadi, ketika tak tau harus berdoa apa, istighfar insyaAllah mencukupkan segalanya….


Sekian, semoga bermanfaat ya.

My Third Pregnancy: BO (Nafisah belum menjadi Kakak)

Ini sebenarnya kabar yang membahagiakan sekaligus mengejutkan tentunya. Karena nggak menyangka akan hamil secepat ini lagi di awal tahun. Juga nggak menyangka berakhir belum jadi hamil…

Sesungguhnya saya menulis untuk mengobati. Untuk menasihati diri. Bahwa apa yang kita punyai saat ini, tak lebih dari hanya sekedar titipan saja. Karenanya nggak pantes untuk sombong.

Jadi, HPHT (hari pertama haid terakhir) saya jatuh pada 9 Januari. Saya periksa awal di usia sekitar 6 minggu. Saat itu masih terlihat kantung kehamilannya saja. Sesuatu yang wajar untuk usia kehamilan seperti itu. Hingga tiba di suatu Selasa sore (17 Maret yang lalu), saat saya lagi nyuci piring, ada pendarahan yang lumayan banyak. Saya buru-buru rebahan. Rabu paginya kami ke dokter. Aseliiiiii masuk rumah sakit di tengah wabah corona itu rasanya mengkhawatirkan sekali.. Heuheu.. Pemeriksaan dokter menunjukkan kehamilan saya kali ini ada kemungkinan janin nggak berkembang atau istilah medisnya disebut blighted ovum. Yang kalau nggak bertahan, akan ditandai dengan pendarahan yang makin hebat disertai mules kata dokter. Tapi ada juga kemungkinan janin memang masih sangat kecil sehingga tak terlihat. Hari itu saya masih ada harapan besar, mungkin ada sedikit perbedaan hitungan +-2 minggu masih wajar lah. Usia kehamilan menurut usg 7 minggu, yang seharusnya 9 minggu.

Waktu berjalan. Rabu, Kamis saya bedrest di rumah. Tapi Jumatnya, mules sedari pagi. Nggak hilang-hilang sampai siang. Akhirnya saya nggak kuat dan memutuskan untuk periksa lagi ke dokter. Fyuh. Itu rasanya mulesnya nggak ilang-ilang. Lebih sakit daripada mau melahirkan. Karena jeda mulesnya itu nggak lama. Saya jadi nggak nyaman mau ngapa-ngapain. Tidur salah. Duduk salah. Berdiri salah. Pokoknya nggak ada posisi yang PW. Saya nggak ke IGD karena sama aja kalo nggak ada dokter kandungan nggak akan ada tindakan apa-apa. Yang ada disuruh nunggu entar di ruang perawatan. Kasur rumah sakit kan nggak enak yak… Belom lagi kalau di rumah sakit kayaknya saya akan tambah setres… Heuheu

Hasil USG Jumat sore (20 Maret) itu menunjukkan bahwa kantong kehamilannya bahkan udah mulai nggak ada. Emang kerasa waktu pipis itu kayak ada sesuatu yang ikut keluar. Saran dari dokter, segera dikuret untuk membersihkan jaringan-jaringan yang masih tertinggal. Bisa sih meluruh alami , tapi akan butuh waktu dan bakalan sakit. Heuheu aku menyerah dokter, mulesnya nggak tahan. Jadi sore itu juga akhirnya saya dikuret. Kami bahkan udah sounding ke anak sulung, ada kemungkinan disuruh nginep. Siap-siap bawa baju ya. Bawa mainan yang kira-kira bisa untuk menghindari bosan.

Dear Allah.. I believe.. Seperti kisah Nabi, setelah amul huzni Engkau hibur Nabimu dengan Isra’ mi’raj. Aku percaya, Engkau juga akan menghadirkan hiburan yang membahagiakan untuk kami…

Membawa anak-anak turut serta ke rumah sakit di tengah wabah itu rasanya antara sedih, khawatir, takut, tapi nggak ada pilihan lain. Orang tua dan sanak saudara nun jauh di Jawa Timur. Cuman bisa minta doa supaya lancar. Dan alhamdulillaah anak-anak nggak rewel sama sekali nungguin proses hampir 3 jam lebih. Terharu. Alhamdulillaah. Padahal biasanya itu bocah-bocah berdua kalo di rumah kadang berantem kadang gampang bosen. Saya juga woles aja di ruang tindakan sendirian, karena suami saya nggak bisa masuk karena ada anak-anak. Udah kebal ya kita melahirkan juga cuman berdua. Kalo lagi ngurus-ngurus administrasi dll ya ditinggal sendiri udah biasa. Alhamdulillah proses kuretnya berjalan lancar. Mungkin sebentar. Karena jam 6 sore itu saya udah mulai sadar dan nunggu beberapa jam ke depan untuk pemulihan efek obat bius. Nggak ngerti diapain karena bius total. Suami juga nggak bisa liat, jadi nggak ada cerita soal gimana proses kuretnya. Saya bisa langsung pulang malam itu. Dan tidur enak di kasur rumah. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. Sesungguhnya kami milih Allah dan hanya kepadaNyalah kami kembali.

Sekarang, sedang pemulihan. Bedrest lagi… Siapa bilang bedrest itu enak? Nggak enak. Lha saya biasa ngapa-ngapain sendiri di rumah. Disuruh tiduran mulu. Nggak enak aseli. Tapi yaaa supaya lekas pulih, saya mesti nurut. Yaa demikianlah cerita kehamilan ketiga ini. Mules yang nggak keluar bayinya ternyata begini rasanya.

Mudah-mudahan ada manfaatnya ya…

 

10 tahun bersamamu itu…..

10 Tahun Bersamamu itu…

Bukan karena ada apanya
Tapi memang apa adanya
Bukan selalu sempurna
Tetapi selalu berikhtiar yang kita bisa

Nggak selalu mudah menyamakan isi kepala
Nggak selalu mudah berdamai dengan berbagai suasana
Nggak selalu mudah menyamakan rasa
Nggak selalu satu selera

Pro kontra selalu hadir dalam hidup kita
Aku pengen minyak kelapa, kamu bilang pake yang biasa aja
Aku sukanya tempe setengah mateng, kamu sukanya yang mateng aja
Aku nggak gtu suka sambel, kamu sambel mania
Aku doyan banget pete, tapi karena kamu nggak suka aku nggak apa-apa…
Begitulah, karena kadang kita bukan mengalah, tapi memutar ulang frekuensi, beradaptasi, mencari solusi bersama
Tapi yang jelas, cita-cita kita tak pernah berubah, berkumpul kembali di surga…

Tempe GMO vs non GMO, micin vs non micin, pulatak pulitik, tarif internet yang mahal yang minta didemo, riweuhnya ngisi laporan 2 mingguan sekolah kk Nailah, rekayasa genetika, kultur jaringan, pernah mampir di tempat favorit di rumah kita,
Iya, di meja makan yang kadang bahkan isinya air minum saja

Sederhana
Semoga kita menua bersama
Bahagia sehidup sesurga
Punya anak-anak sholeh/sholehah yang selalu berdoa untuk kita

10 tahun kita…

Kali ini dipenuhi berita wabah corona
Kabar kehamilan tak terduga
Tapi harus berakhir dengan duka
Belum amanah dariNya
Pengalaman kuretase pertama

Semoga… Semakin menguatkan kita..
Bahwa semua hanya sekedar titipan dariNya

heran

Kadang saya udah berusaha banget untuk menjaga lisan ehtapi tiba-tiba ada aja ujiannya, ada orang-orang yang julid bin nyiyir nya masyaAllah minta ampun, pedessss dan panassss kayak lombok. Apa-apa dikomen. Saya sampe mikir kok bisa gtu ya.
Padahal, ada haditsnya.
“berkatalah yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim)

atau hadits yang lain
“seorang muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhori)

Itu kenapa ya. Lelah apa gimana ya. Apa kebutuhan 20.000 kata per hari nya tidak tersalurkan dengan baik? Apa memang belom sampai ilmunya ya?
Heran saya tu. Bikin males aseli. Kadang saya sampe minggir dulu kalo hati saya lagi nggak enak. Kwatir jadi julid balik cyinnnnn. Lha emang yang bisa ngomong pedesssss situ doang

Hahaha. Tulisan ini mengandung super curcol. Sekian dan terimakasih.