bagaimana saya menutup hari?

banyak yang bilang, “anda harus berterima kasih kepada orang-orang yang telah menyakiti anda, karena merekalah, anda menjadi kuat”

ya.salah satu efek baiknya mungkin itu.tapi ada aja efek buruknya.

yang kerasa adalah pertama, kekurangmampuan memaafkan dengan lapang. nggak pake nggrundel dan nggondog bin gedheg dalam hati lagi. maaf ya wes maaf aja. nggak pake tapi tapi tapi…

kedua, sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain. kadang gtu, kalo udah sekali disakiti yawdah, kayak asal tau sama tau aja deh.m.

maka..seringkali saya menutup hari dengan berdamai dengan diri sendiri. memaafkan segala keterbatasan diri saya sendiri. memaafkan segala ketidakberdayaan diri akan ekspektasi yang ingin dicapai. memaafkan orang lain yang mungkin saja nggak sengaja nyerempet dan nyelekit di hati saya. ataupun orang yang sengaja berbuat menyakitkan.

kadang, saya sampe mendoktrin diri sendiri dengan berbagai macam keutamaan memaafkan. supaya hati lebih lapaaaaang.

demikianlah saya menutup hari.

Advertisements

pulang kampung

Tahun 2018 ini saya bikin jargon:

Mudiklah selagi ada kampung

halaman dan orang tua…

Hehhe iyah. Kalo nggak punya kampung halaman,mo pulang kampung ke mana coba…?

Kalo nggak ada orang tua, kayaknya saya bakalan mikir-mikir pulang ke rumah siapa… Terus saya mikir kalo saya jadi orang tua saya bakalan ngarepin kedatangan anak saya entar di kala liburan sekolah. Kalo nggak waktu liburan anak sekolah, nggak enak juga izin lama-lama nggak sekolah.

Saya udah lama sekali nggak pengen destinasi liburan kemana-mana. Bisa pulang ke rumah orang tua aja itu udah sebuah hal yang istimewa banget buat saya…

Safar itu katanya sebagian dari adzab.

– Ya memang kalau kita tinggal bukan di rumah sendiri itu pasti ada aja hal yang bikin nggak nyaman. Apalagi anak bayik saya yang kedua ini anak AC banget. Hahha jadi ya kalau pulang ke Sidoarjo yang zuper panasssss agak agak riwil bagaimana begitulah. Kalau ke Jember masih better tapi ya tetep aja kalo gerah dikit nggak bisa tidur juga.

– Terus, perjalanan dari Tangerang Selatan ke Jawa Timur itu kan jauh yeuh. Mbayanginnya aja udah capek duluan kadang. Lambat laun orang tua kami bertambah tua, mau diminta ke Tangsel kok udah mulai kasian. Jadi ya itu yang muda ini mengalah yak.

– Belom lagi soal ongkos dan waktu. Mihil cyinnnnn. Lama pula. Mo naek mode transportasi apa ajah it takes time and money. A lot. Very a lot.

Mo naek mobil pribadi. Walopun bensin dan biaya tol irit, mobilnyah perlu dibeli dengan harga puluhan-ratusan juta right? Belom lagi jarak tempuh nya yang lama.

Mo naek pesawat ya sama mahal jugah.

Kereta api juga sama makan waktu. Kalo mau yang ekonomi murah sih,tapi ya kalau ada rezeki lebih mungkin bisa mempertimbangkan faktor kenyamanan buat anak-anak.

Yaaa… Maka dari itu, saya kemudian menghibur diri sendiri.

Selagi ada kampung halaman dan orang tua,

Mudiklah 😃😍

Otw naek sepur Sidoarjo-Jember

(masih) anak kecil

kk: “ummi ntar kalo ummi bangun pas nafisah bangun kalo malem-malem itu,, aku dibangunin juga dong (ea,mo ngapain nih,subuh aja kadang masih susah dibanguninnya)”

u: “emang mo ngapain?”

kk: “kata ustadzah kalo kita sholat tahajjud bisa minta apa aja yang kita pengen”

u: “emang kk nailah mo minta apa gtu??”

kk: “mo minta lol”

u: “yaAllah kakak.sholat tahajjud mo minta lol? jadi sholat tahajjud karena Allah apa karena lol?”

dan kemudian kami ketawa bersama.

(ah,anakku,polos banget ya…)

nggak salah mungkin berdoanya,minta apa yang kita pengen.sama aja kek kita kan ? sudahkah ibadah-ibadah yang kita kerjakan itu untuk Allah atau untuk keinginan kita saja atau mengejar pahalanya?

mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, kita bisa meningkatkan kualitas ibadah kita bukan sekedar-sekedar yang lainnya tapi untuk Allah saja.

berat memang.tapi percayalah selalu ada jalan dan kesempatan, tentu saja kalo kita mau berusaha.

oh ibu

Kapan hari udah lama lah pokoknya, saya mencoba mendengarkan kajian Ust.Budi Ashari via yutub. Judul yang saya pilih “Ibu Teladan Terbaik Bagi Anak”. Kajiannya panjang. Hampir 3 jam. Tentu sajah ndengerinnya sampe berhari-hari kepotong aktivitas apa ajalah itu. Baru mo masang headset bayi oek-oek ngantuk. Yawdah lepas lagi karena kalo nggak gtu ya kapan tedornya kan..

Sampai di sebuah kalimat yang bener-bener bikin baper.

aku sudah hamil dengan cara agamaMu,
aku melahirkan dengan cara yang Engkau sampaikan,
aku menyusui seperti yang Engkau mau…
maka beri aku bakti anak-anakku…

Cesssss..aduh cirambay lah sayah..
Inget beberapa tahun lalu, bahkan saya sampe pernah nulis di blog ini. Inget banget, kalau bukan karena salah satu sunnah Rasulullah dan yang diaku jadi ummatnya adalah mereka yang menikah dan pengen ada yang ngedoain kalo suatu hari saya udah nggak ada, mungkin hari ini saya nggak akan punya 2 anak yang lucu-lucu itu. Yah namapun segala bisa lah diusahakan sendiri kalo mau, dulu ngerasa nggak butuh lah buat menikah. Yah wanita independen gtu lah ceritanya. Baru lulus. Namanya kesempatan keknya udah di depan mata aja tinggal milih. Tapi ya itu tadi, sayah milih menikah dan stay di rumah. Kalo bahas soal IRT itu panjang lagi yah. Saya males mancing moms war. Dah lah saya percaya kita pasti mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Inget soal mengasuh bukan hal yang mudah.
Tapi yawdah. Jangan mengandalkan kemampuan diri. Manusia mah lemah. Ciyus lemah. Kalau inget kita ni berasal dari jannah dan harus kembali ke jannah, itu kan tugas yang luar biasa berat yah. Super duper gak gampang. Karena kalo gampang palingan hadiahnya piring cantik atau payung cantik. Tapi ini surga.

Maka..mengutip apa yang disampaikan Ustadz Budi dalam kajian itu, saya jadi lebih sering menggumam dalam doa-doa saya…

aku sudah hamil dengan cara agamaMu,
aku melahirkan dengan cara yang Engkau sampaikan,
aku menyusui seperti yang Engkau mau…
maka beri aku bakti anak-anakku…

masih tentang doa

Sejak dulu saya selalu percaya, bahwa doa orang-orang sholeh itu punya posisi yang spesial di hadapan Allah. Saya cuman membayangkan bisa jadi doa mereka ini bisa menembus langit bak jalan tol. Kalau doa cem sayah ini ya mungkin masih semacam jalan biasa. Kadang lancar kadang macet.
Suatu hari di bulan Sya’ban kemaren, saat saya mengganti hutang puasa karena hamil kemaren, sengaja saya tawarkan kepada anak sulung saya, mau ikut latian juga nggak (berhubung mau ramadhan juga), karena saya juga sedang mencoba mengkondisikan bayi bisa berkompromi atau tidak diajak berpuasa.
Tahun-tahun sebelumnya kakak nailah baru mentok di sampai waktu ashar. Maka kali itu dia berinisiatif sendiri, “ummi aku mau coba sampai maghrib ya..”
Aih. Yasudah saya bolehkan. Sambil saya kasih semangat, “iya ummi doakan kakak nailah kuat ya sampe maghrib”
Menjelang ashar mulai deh. Rewel. Tapi masih bisa dialihkan. Tamat juga hari itu sampai maghrib.
Di sela-sela berbuka, dia bilang “ini karena ummi doakan aku nih aku jadi kuat puasanya”
(Ya Allah, berasa menjadi emak-emak beneran…)
Saya terkenang banyak momen dalam hidup saya yang nggak lepas dari meminta doa dari mama. Dari doa orang-orang yang saya anggap sholeh yang kalo ketemu saya minta untuk mendoakan.
Dan pada hari lainnya masih di bulan Sya’ban, seperti biasa di hari itu saya biasa bertemu seorang Ustadzah. Seperti biasa pula kami bersalaman-cipika-cipiki. Yang nggak biasa adalah, saya menyodorkan bayi Nafisah untuk salim, lalu Beliau mendoakan Nafisah “robbi habli minash sholihin” Saya pun mengaminkan.. Lalu nyeletuk “Ustadzah, umminya nggak didoakan nih, saya kan juga anaknya ibu saya, saya juga mau didoakan dong Ustadzah..” 😉😉
Hehhe.
.
.

Pernah pula saya dengar, ada kebiasaan yang biasa dilakukan oleh para guru di sekolah kakak nailah. Apa itu? Para guru mendoakan m murid-muridnya secara khusus. Hal yang sangat istimewa buat saya…
Ya itu tadi, kita nggak tau ya, doa siapa yang dikabulkan Allah?

.
.

Ya…
Jadi, cuman pengen bilang, “saling mendoakan ya”

Cerita Kita #3: Qadarullah

Rata-rata anak kecil yang kerap saya temui adalah penyuka eskrim. Termasuk juga anak sulung saya. Tapi, sering saya amati. Kalau dia makan eskrim, nggak lama pasti batuk/pilek. Menurut saya itu bukan penyakit tapi lebih ke alergi dingin. Kenapa bisa saya bilang alergi, karena saya dan ayahnya NailahNafisah itu sama-sama punya riwayat alergi. Saya punya alergi debu di masa kecil, sampai-sampai mengi (nafasnya bunyi-bunyi gtu) kalo tidur di kasur kapuk. Makanya sejak itu saya nggak pernah lagi tidur di kasur kapuk. Pernah suatu ketika lagi pulang ke rumah mama dn saya tidur dikasur kapuk. Sukses batuk-batuk dongs hehhe. Kalo pergi ke toko perabot, nggak lama kemudian kedua telapak tangan saya dipastikan merah-merah lalu gatel-gatel. Nah, ayahnya NailahNafisah itu waktu kecil alergi seafood. Tapi sekarang udah nggak lagi alergi seafood, malah alergi sama cuaca dingin, langsung batuk-batuk. Kakak Nailah, waktu bayi, bentuk alerginya lebih ke kulit yang sensitif, apalagi kalo cuaca panas. Sekarang sudah lebih tahan banting. Cuman ya itu, ketemu eskrim jadi batuk/pilek. Maka, di pekan-pekan menjelang ujian biasanya nggak kami bolehin makan eskrim/minuman dingin.

Tapi, beberapa waktu yang lalu, walaupun sudah nggak makan eskrim/minuman dingin, tetap saja batuk/pilek itu datang menghampiri. Maka saya berceloteh kepada kakak nailah,

“Kak, kakak udah nggak makan eskrim/minum yang dingin tapi masih batuk/pilek yah…Qadarullaah ya Nak..”

Iya ya Mi,Qadarullah…Aku nggak ada yang ngasih juga kok padahal…”

(Soalnya kadang maen ke rumah tetangga terus dikasih..)

“Iya, sebaik apapun kita berusaha kalau takdir Allah kakak nailah batuk/pilek, kakak tetap batuk/pilek walo nggak makan eskrim ato minum yang dingin ya..”

“Iya…”

– – –

Namapun emak-emak ya. Anaknya sukanya apa terus nggak dibolehin dan anaknya nurut kan kesian ya dan nggak tega ya sebenernya.

Tapi begtulah namanya bersungguh-sungguh. Nggak gampang yah. Musim ujian juga harus mempersiapkan kesehatan fisik.

InsyaAllah nanti liburan kita makan eskrim ya nak…

doaku hari ini

Ya Allah, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan tumbuh kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr:10)

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan. (HR Muslim 4899)

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.” (HR. Muslim)

Ya Allah,aku berlindung kepadaMu,dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, sifat pengecut dan bakhil, dan dari lilitan hutan dan kesewenang-wenangan manusia. (HR Abu Daud)