Akhir-akhir serasa menjadi orang yang multi tasking, banyak pikiran tapi ujung-ujungnya koq nggak bisa ngapa-ngapain, kayak penuh banget otaknya, tapi nggak tau mana dulu mana yang mau dikerjain, anyone help me??? Sampe sama seorang teman diingatkan: ”Makanya, kalau melakukan sesuatu itu sepenuh hati dan dengan senang hati pula, jangan cuma ngelaksanain, tapi setengah-setengah…”
Haduh, yayaya, jangan setengah-setengah, memang sih harus pasang TOTALITAS MODE ON. Hhhhh,,,
Tapi memang sedang ingin melakukan pembelaan, hehehe, ada kalanya manusia itu lalai akan amanahnya [tapi kalo aku koq kayak banyak lalainya, ya nggak sih??? Hhh,,,]. Apalagi si aku itu bosenan, kalau udah sekali dicoba dan nggak memuaskan pasti nggak akan disamperin lagi. Males-malesan jadinya. Gimana dong??? Mungkin, bulan ini memang bulan beresensi, melakukan segala macam hal harus dipikirkan baik-buruknya, ditimbang manfaat dan mudharatnya, dilihat kekuatan dan kelemahannya. Makanya mulai dari hal yang mendasar, bagaimana menyenangi sesuatu? [ceritanya sedang menghibur diri sendiri...]
1. Kenalilah dengan baik target
2. Dekati target supaya lebih akrab
3. Lihat segala peluang yang ada yang membuat kita makin menyenanginya
4. Pertimbangkan kesinkronannya, sesuatu yang agonis atau antagonis
5. Nah, setelah dikenali dengan baik, barulah kita bisa berulah dan bekerja dengan hati senang…
Lalu, kalau di tengah-tengah bosan dan ingin pergi saja… [yang ini juga pengalaman pribadi yang sedang in terjadi pada diri sendiri...], maka menurutku yang bisa dilakukan lagi adalah:
1. Meluruskan niat kembali, gali lagi segala alasan, mengapa kemudian kita harus terus melaksanakan sesuatu. Makanya yang namanya niat itu di awal, di tengah dan di akhir. Biar selalu ingat buat apa sih kita berpeluh-peluh melakukan sesuatu?
2. Merenung dan berkontemplasi, kalau perlu pergi bertapa ke gunung. Tujuannya adalah untuk menjernihkan pikiran, siapa tahu penyebabnya adalah overload.
3. Berdiskusi dengan banyak orang, mencari pendapat-pendapat lain, melihat dengan sudut pandang yang lain. Tujuannya untuk memperkaya khasanah pemikiran dalam otak, harapannya supaya bisa memandang sesuatu tidak secara terkotak-kotak.
4. Melakukan PK [ baca: Peninjauan Kembali]. Ini untuk melihat kembali apakah keputusan yang sudah diambil benar adanya atau perlu diperbaiki. Jangan segan-segan dan gengsi untuk mengubah keputusan kalau memang dirasa ada keputusan lain yang jauh lebih menguntungkan. Jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan. Karena sesungguhnya ketika kita mengakui kesalahan yang pernah kita perbuat maka kita telah membuka pintu kesejatian diri. [ck, ck, ck, berat kali bahasanya...]
Ya, begitu saja, mau kembali ke gunung untuk bertapa… Semoga saja mendapat petunjuk yang lebih baik…