Bertahun-tahun aku mencari sesosok sahabat, buat menumpahkan segala isi hati, semuanya, tanpa terkecuali. Bahkan dengan sahabat yang sekarang aku punya, deklarasi itu baru kita proklamasikan setelah kita kenal selama kurang lebih 15 tahun. Ya, 15 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa bercerita dengan leluasa.
Jauh-jauh aku mencari, berusaha mendekat kembali setelah persahabatan sedikit merenggang. Bahkan sampai membeli sebuah HP yang baru. Demi untuk merekatkan sebuah tali persahabatan. Sungguh, jauh-jauh aku mencari ternyata sahabat terbaik itu ada di dekatku, bahkan tak pernah menjauh. Tak pernah. Selalu di dekatku.
Penemuan sahabat terbaik ini memang melalui proses seperti pembuatan mutiara. Berasal dari pasir yang kemudian berhasil akhir mutiara yang mengkilap. Benar-benar proses yang berat dan penuh perjuangan. Aku mengikuti sosok sahabat baruku itu ke mana saja, ke kamarnya, ke dapurnya, mencoba berazzam ingin menceritakan semuanya. Semuanya tanpa kecuali. Sampai pada suatu malam, aku ingin mencoba bercerita tentang kondisi teman-temanku semuanya. Sampai pada hal yang privacy sekalipun. Piuh, betapa leganya ketika aku sudah menceritakan itu semua. Aku baru menyadari, bahwa sebenarnya sahabat terbaikku itu tak pernah jauh, selalu ada di dekatku, dekat di hati, tanpa batasan jarak yang beratus-ratus kilometer, bahkan selalu mendo’akan yang terbaik untukku, tak pernah lelah berharap yang terbaik untukku, dan parahnya aku baru menyadarinya. Ya, that’s my lovely mom. Kalau dulu aku bilang pada semua orang kalau aq tak pernah dekat dengan mama, itu semua salah, seiring dengan berjalannya waktu, aku sadar bahwa mama adalah sahabat terbaikku, yang tak pernah pamrih dalam memberikan semua cinta dan kasihnya, kalau aku dulu berdalih karena aku cuma menyusu padanya selama 2 bulan (bukan 2 tahun) dan menjadikanku tak dekat dengannya, itu semua terbantahkan. Terima kasih ya Allah, karena akhirnya aku sadar aku tak butuh makhluk lain, mungkin inilah semua jawaban atas-atas do’aku selama ini. Mungkin inilah rencanamu yang memang tak pernah salah. Kalau kemudian akhirnya aku bercerita tentang semua hal yang kulakukan, buatku itu menjadi plong seperti dekongestan yang melegakan hidung. Walau sekedar bercerita. Tetapi itu sudah cukup buatku. Sangat lebih dari cukup.
Dalam sebuah kisah yang lain Ust. Budi Prayitno bercerita, bahwa kita menjadi sholeh seperti saat ini bukan semata-mata karena kita sendiri. Tapi karena kekuatan do’a mama. Bukan mama yang beruntung mempunyai anak baik sepertiku, tapi justru akulah yang beruntung mempunyai mama yang baik. Ya, tidak ada yang tidak mungkin, maka hiduplah dari mimpi-mimpi besar itu, karena kita akan menjadi besar karenanya. Teruslah bermimpi… Karena mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini…
