Dikisahkan oleh saya sendiri dengan senang hati.
Ceritanya, tadi malam saya [dan suami tentunya] pergi makan malam di sebuah tempat makan.
Bakso Malang. Di Jalan Burangrang.
Setelah mengambil bakso dan teman-temannya yang tempatnya seperti tempat antrian sembako itu, yang harus mengantri seperti permainan anak kecil: ular naga panjangnya bukan kepalang, saya pergi mencari tempat, dan suami saya yang mengurus bayar-membayar dengan kasir.
Nah biasanya, si bakso yang sudah berada di mangkok itu akan diantar oleh mbak-mbak geulis.
MG [mbak geulis]: ”Ini diantar ke mana Pak…?”
Mr.Zaki: [celingukan, karena tidak melihat saya, soalnya saya ada di ujuuuung sekali] ”Hmm, saya nggak keliatan mbak, pokoknya kalau ada yang kerudungan dan sendirian.”
MG: ”Laki-laki atau perempuan?”
Mr.Zaki: [setengah hati menjawab, sambil menahan untuk tertawa sepertinya] ”Kerudungan mbak…”
MG: [mikir lamaaa] ”Oiya Pak.”
Bakso sudah diantar dengan selamat ke meja tempat saya duduk. Si MG ini bertemu lagi dengan suami saya.
MG: ”Pak, di ujung sebelah kiri.”
Mr.Zaki: ”Oiya, terimakasih.”
![]()