Coba Kalau Nabi Musa as Sabar…

Ini adalah kisah yang cukup sederhana dan mudah dipahami, tapi syarat makna. Selamat menikmati.

Nabi Musa bertanya: Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?

Trus kata Nabi Khidir, Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.

Heuheu, Nabi Musa keukeuh mareukeuh, ceunah:

Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak menentangmu dalam urusan apapun.

Hmm, nih kalau aku yang jadi Nabi Khidir, aku akan bilang: Udahlah kamu mah ga akan sanggup bareng aku, percayalah, tapiii, berhubung aku bukan Nabinya, jawaban Nabi Khidir mah beda:

Jika engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu.

(kalau bayanganku, saat itu Nabi Musa kemudian mengatakan Yes!!! Boleh. Berhasil, Berhasil, Hore, kayak gaya Dora gtu kali ya.. Heheh, hanya imajinasiku sajah..)

Lalu keduanya mengalami perjalanan bersama.

Keanehan Pertama:

Waktu naek perahu bareng, perahunya dilubangi oleh Nabi Khidir. Continue reading

IiIiIiIi…

Aku ingin lari, tapi bukan lari pagi…3095270222_d92d74f7b9
Huhuy, lari lebih kencang lagi,
Untuk meraih berjuta mimpi,
Kalau kemaren terlalu banyak bersedih hati,
Ini bukan saatnya lagi,
Ayo Wina, lari lagi…
 
Kali ini,
Ingin mengejar pelangi sore ini,
Berharap mendapat secercah imajinasi,
Supaya bisa kembali tertawa puas lagi…
 
=)
 
Kuberikan senyum termanisku ini,
Buat kalian semua yang turut membaca tulisan ini,
Semoga bisa termotivasi lagi,
Dan menjalani hari dengan warna-warni lagi…
 
Semoga terinspirasi…
Hihihi…

Belajar dari Anak Kecil yang Belajar Berjalan…

Masih ingatkah ketika kita belajar berjalan? Atau kalau sudah lupa bagaimana rasanya, coba perhatikan adik kecil kita yang sedang belajar berjalan. Mulai dari bisa duduk, kemudian merangkak, belajar berdiri, berdiri dengan berpegangan, berjalan sambil berpegangan, sampai akhirnya bisa berjalan dengan sempurna. Ada sebuah pembelajaran yang sangat menarik di sana. Kita perlu mencermati bahwa ketika beranjak berjalan dengan sempurna, kita pasti akan mengalami jatuh berkali-kali. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa kita terjatuh kurang lebih 240 kali. Sungguh angka yang sangat banyak. Tapi apa? Kita selalu mencoba untuk bangkit kembali, berusaha kembali, sampai akhirnya kita bisa berjalan dengan mandiri tanpa perlu berpegangan ke mana-mana. Kalau Sang Maha Pencipta berkehendak, bisa saja dibuat langsung bisa berjalan tanpa melewati tahapan-tahapan itu. Ya, saat-saat jatuh memang menyakitkan mungkin [aku bilang mungkin, karena kalau jatuhnya di kasur kan nggak sakit]. Tapi kalau nggak jatuh, bisa jadi kita nggak maju. Masa’ kalah ama masa kecil kita yang begitu taft… Ya nggak… Nah, tetap semangat…