Pada suatu kesempatan saya mengobrol dengan mama. Tempatnya di lantai dua rumah saya, persisnya di tempa
t kami biasa mengeringkan baju. Yap, tempat itu disebut jemuran. Beberapa hari itu, cuaca memang sedang tidak menentu. Hujan-panas-angin-hujan lagi-panas lagi, begitulah…berubah-ubah tidak menentu. Sampai akhirnya saya bilang ke Mama:
“Untung ya Ma, yang ngatur cuaca itu Allah, bukan manusia. Kalau manusia yang ngatur, pasti bingung. Petani butuh hujan untuk mengairi sawah, tapi ibu rumah tangga butuh panas matahari untuk mengeringkan baju, nelayan butuh angin untuk melaut, dan banyak lainnya”, kata saya.
Mama saya cuma tersenyum. Di lain kesempatan, saya sedang mengendarai sepeda motor bersama seorang sahabat. Cuacanya tidak jauh beda. Lalu, saya ceritakan obrolan saya dengan mama di atas…
Kata sahabat saya:
“Hehe, iya, kalau yang mengatur manusia, kayaknya bakalan pake acara sogok-sogokan uang.”
Tanggapan saya:
“Wah iya juga ya…Bisa-bisa rakyat kecil (petani-petani itu…) nggak kebagian hujan kali ya kalau para milyader nggak minta hujan… Allah benar-benar adil…”
“Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar” (QS Al Furqan 61)..