A question, dari dulu menulisnya nggak pake menyertakan hati..?? Hmm, nggak juga sih.. Pengen aja judulnya itu. Biar lebai-lebai dikit dan touchy-touchy gimana begitulah..
*** karena judulnya menulis dengan hati, maka isinya pun sedikit curahan hati, atau bahasa keren yang baru saja saya dapat, inner voice, sesuatu yang disuarakan dari dalam hati, yang kalau dikeluarkan bisa legaaa seperti suara khas yang dikeluarkan dari sistem buang gas alami kita
***
Belakangan ini, kalau ingat dan melihat suatu hal yang dihubungkan oleh suatu hal lainnya <rumit amat>, saya memang suka jadi sedih, trus pengen nangis nggak jelas, trus jadi bad mood, tapi akhirnya jadi merenung sendiri dan ujung-ujungnya jadi banyak bersyukur. “Alhamdulillah, alhamdulillah”, begitu yang sering saya ucapkan dalam hati dan lewat lisan. Sebuah mantra ajaib versi saya yang langsung bisa membuka mata, pikiran dan hati saya untuk melihat sekeliling dan semesta, yang akhirnya membuat saya sadar bahwa saya masih diberi kesempatan untuk bisa menghirup nafas dengan sangat leluasa, dan jadi lupa kalau pernah menangis termehe-mehe.. Alhamdulillah..
“Kalo gitu, biar nggak sedih lagi jangan buka-buka atau lihat-lihat itu lagi ya…”
