Kau di Sampingku

Waktu saya menonton tayangan DuaRR di Trans7 tanggal 22 April 2009 (udah agak lama juga yaaak), ada mas-mas ganteng dari Trio Libels yang nyanyi salah satu lagu dari album baru mereka (Life is Beautiful). Nyanyinya di penghujung acara, makanya saya agak memperhatikan…Lagunya, woooow, so sweet, makanya saya posting di sini (baru sempat diposting maksudnyaaa)

Aku, sudah tau ke mana…
Harus aku sandarkan cinta
Kini kuyakin (kini kuyakin)
Untuk berjalan (untuk berjalan)
Kau takkan kulepaskan
*Hidup ini cerah, semuanya indah (karena kau di sampingku)
Biar dunia tahu hatimu milikku (saat kau di sampingku)
Hidup ini cerah, semuanya indah (karena kau di sampingku)
Biar dunia tahu hatimu milikku (saat kau di sampingku)
Hidup ini indah saat kau di sampingku
Dekat, dekatkanlah hatimu
Jangan, jangan buat menjauh
Kini kuyakin (kini kuyakin)
Untuk berjalan (untuk berjalan)
Kau takkan kulepaskan Continue reading

Puisi Cinta untuk Sahabatku

Hmm, pas dibaca-baca lagi sepertinya ini bagus untuk dishare, makanya saya posting di sini…

Pernikahan, menyingkap tabir rahasia..
Lelaki yang kamu nikahi adalah lelaki yang kami percaya
Ia tidaklah semulia Muhammad shallallahu’alaihi wasallam
Ia juga tidaklah setakwa Ibrahim ’alaihissalam
Pun tidak setabah Ayub ’alaihissalam
Ataupun segagah Musa ’alaihissalam
Apalagi setampan Yusuf ’alaihissalam
Lelaki yang kamu nikahi itu hanyalah lelaki akhir jaman yang punya cita-cita m enjadi sholeh
Pernikahan…
Mengajarkan kewajiban bersama
Mengingatkan perlunya iman dan takwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridho Allah subhanahuwata’ala
Karena yang kamu nikahi tidak segagah mana…
Justru itu akan membuatmu tersentak dari alpa..
Ia bukanlah Rasulullah,
Pun bukan pula Ali,
Ia hanyalah lelaki akhir jaman, insyaAllah satu-satunya lelaki yang kamu cinta atas izinNya
Satu-satunya yang berusaha sholeh untukmu atas kehendakNya…
Amien Ya Allah…

Sebersit do’a dari sudut Jember, Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, amin, allohumma amin…

dikirim oleh seorang sahabat, tanggal 24 Maret 2010, jam 07:42

Beda Rasa…

Beberapa hari yang lalu aku mengadakan Survei Independen dengan tajuk [hayyah, tajuk, bilang aja tema…]

“Menurut kalian, apakah perbedaan rasa: Sayang, Suka, Cinta dan Kagum?”

Sebelumnya kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas partisipasi semua reponden yang turut menyukseskan Survei Independen ini. Tanpa kalian semua, aku tak ada apa-apanya… [hehe, lebaiiiii….]

Survei Independen

“Menurut kalian, apakah perbedaan rasa: Sayang, Suka, Cinta dan Kagum?”

Latar Belakang

Aku bukan sedang kekurangan pekerjaan dan melakukan hal tidak penting seperti ini (karena ada yang hanya merespon dengan ‘lol’, aku jadi sebel…). Ini bukannya tanpa alasan dan latar belakang, ini berawal ketika salah seorang sahabatku mengajukan pertanyaan, apakah parameter suka? Kriterianya apa aja, sehingga aku bisa menyimpulkan bahwa aku menyukai seseorang? Hayyah, sahabatku yang satu ini memang ‘unik’ dan ‘extraordinary’… Kenapa ya aku dikelilingi oleh seperti itu? Ahaaa, ya karena mungkin aku juga ‘unik’ dan ‘extraordinary’.

Tujuan

1. Mengetahui pendapat subjektif dari para responden

2. Membantu sahabat yang sedang kebingungan dengan rasa di hatinya, semoga dapat dijadikan referensi yang baik

3. Membantu orang lain yang mungkin juga sedang kebingungan mendefinisikan apa yang sedang dirasa… [haha…]

Continue reading

teRnyaTa..

Haha, suatu saat aku sering merasa kadang-kadang Mama sama Papa tidak pernah memberikan perhatian yang lebih padaku, tapi sebenarnya nggak masalah juga. Kan aku anak pertama dan sudah cukup mengenyam perhatian ekslusif dari mereka selama tiga tahun pertama kehidupanku (walopun tidak merasakan asi eksklusif, hiks..).
Ceritanya kemarin (16 April 2009), tiba-tiba pagi hari ada telepon di hapeku dengan id: MoM. Akunya sedang kuliah dan jadinya tidak kuangkat. Telepon berdering hingga dua kali panggilan. Ahaha, pasti cemas nih yang telepon, ke mana si bocah ni, koq telepon ga diangkat-angkat. Akhirnya kuteleponlah id:MoM itu. Nah, yang ngangkat teleponnya Si Papa.
Aku         : “Assalamu’alaikum, tadi masih kuliah, ada apo, ada apo?”
Papa        : “Wa’alaikumsalam, bbeehh, makanya nggak diangkat. Itu lho Nia, sepupumu si Meme meninggal dunia. “
Aku         : “O, innalillahi wainna ilaihi roji’un..”
Papa        : ” Ni mama mau ngomong..”
Mama      : “Ati-ati ya Nak, jangan ngebut-ngebut di jalan. Soalnya Mama tau kamu kalo nyetir ngebut naek sepeda           motornya..”
Aku         : “Iya Ma.. Mama, kalau sudah wayahnya ya meninggal Ma, mau ngebut kek, mau jalan pelan-pelan, kalo sudah waktunya pasti mati.. Ya nggak. Kita harus nerima tuh…”
Mama      : “Iya sih, ya udah pokoknya ati-ati..”
 
Ahaha, aku jadi terharu gitu dah.. Hiks, hiks.. Wee, ternyata ada juga yang mengkhawatirkanku (ya iyalah, ahaha, aneh kali si Wina ni.. secara mereka orang tuamu Wina!!!). Hihi, secara kemaren si aku jalan-jalan seharian. Pergi bareng si Indri ke Museum Geologi, ke BIP, Gramed dan sekitarnya. Ealah di mall ditelepon lagi…
Aku         : “Assalamu’alaikum”
Mama      : “Wa’alaikumsalam. Udah di rumah Nak?”
Aku         : “Belum Ma, kan lagi belanja di mall. (ckckck, kagak ngarti juga si Wina kalau sedang dikhawatirkan)”
Mama      : “O ndak, ini lho, berita kecelakannya si Meme masuk tv di Indo***r. Kecelakaan sama teman-temannya 9 orang, nabrak pohon, habis ngerjakan tugas kampus gitu, di sekitar Malang kejadiannya. Trus ada yang namanya Nia juga, Mama jadi lemes. Bentar lagi langsung pulang ke kosan??”
Aku         : “O,,yaya.. Hmm, bentar lagi mau jalan-jalan lagi Ma sama temen. Nanti malaman baru sampe kosan, soalnya mau balik ke kampus lagi.” (ahaha, nggak kebayang dah si Mama mikir apa.. dasar si akunya yang nggak bisa lihat sinar-sinar kekhawatiran di wajahnya.. ya iyalah ga bisa lihat, cuma bisa denger sajah.. maafkan anakmu Ma, secara hari kemaren itu aku sudah merancang rencana yang bagus sekali untuk jalan-jalan...)
Mama      : “Yaudah, pokoknya hati-hati, jangan lupa berdo’a. Sudah sholat dzuhur?”
Aku         : “Iya Ma, do’akan saja. Belum sholat, emang udah dzuhur yah..?” (ahaha, dengan kikuk gitu ngejawabnya, emang udah dzuhur yah. Trus berapa lama baru loading, ya iyalah di Jember udah dzuhur, secara duluan.. duh bodohnya aku…)
Mama      : “Iya, ya apa se.. Wes ndang sholat… Sholat di mana?”
Aku         : “O iya Ma. Palingan sholat di Gramed..” (wes nda usah kebanyakan alasan, di-iya-kan sajah.. hehe…)
Mama      : “Yadah, Mama juga mau sholat. Assalamu’alaikum..”
Aku         : “Wa’alaikumsalam.”
 
Hmm, seneng banget rasanya. Udah lama ga ditanya-tanya kayak gitu. Hueey, berasa anak tunggal tuh kalo gitu. Ahaha.. Yeah, nggak perlu sering-sering emang, soalnya kalo keseringan ntar nggak berasa. Tul nggak..??
Pokoknya yah, hikmah yang kuambil adalah:
Pertama, setiap kejadian itu sudah ada ketetapanNYA dan insyaAllah tidak akan tertukar.
Kedua, setiap orang mencintai sesuatu dengan caranya sendiri dan mungkin saja tak akan sama dengan yang lainnya.
 
I luv u my family…
 
Terima kasih, semoga bermanfaat
Wallahua’lam bishshawab
 

Kisah Itu Bernama Cinta Sejati

bear-1Pernah berpikir tentang kisah cinta yang terpendam selama 38 tahun lamanya…??? Ini sebuah kisah nyata bukan kisah fiktif belaka… Tak perlu disebutkan kisahnya terjadi di mana dan pada siapa, cukup menjadi pelajaran untuk kita semua. Okay??? Deal…

 

Akhirnya kedua orang itu bertemu kembali di usia mereka yang sudah senja, bukan lagi menjadi gadis atau perjaka. Tapi lebih dari itu, mereka sudah mempunyai cucu. Namun Allah takdirkan semua janji terpenuhi…

 

Bapak yang tampak beruban lengkap dengan kerut-kerut di wajahnya itu, kemudian berujar dan berkisah panjang,

“Sebenarnya aku ada rasa sama kamu sejak kita SMP dulu, tapi aku janji kalau aku sudah mapan, baru aku akan melamar kamu.

Tapi takdir memiliki skenarionya sendiri.

Dulu, sewaktu aku bekerja, suatu sore aku pernah mengajari keponakan majikanku mengendarai sepeda motor.

Tanpa sengaja, tangannya terpegang olehku, dan hal itu terlihat oleh ayahnya yang kebetulan sedang berada di rumah pamannya (majikanku).

Dan keesokan harinya aku disuruh untuk menikahi anak gadisnya karena mereka berasal dari keluarga pesantren yang cukup saklek.

Tapi, jauh di lubuk hatiku, aku masih mengharapkan sebuah pertemuan denganmu.

Aku tak pernah melewatkan berita tentangmu.

Aku tau kamu kuliah di mana, menikah tahun berapa, punya anak pertama kapan, sampai akhirnya kamu ditinggal selingkuh oleh suamimu.

Aku tau semuanya.

Dan kini aku menepati janjiku untuk menemuimu, ketika aku sudah mapan segalanya…

Dan aku ingin, kita tidak putus kontak sampai ajal memisahkan kita ya, sebagai teman…

Sekarang hanya berharap sebuah keajaiban, apakah nantinya Allah bisa mempersandingkan kehidupan kita dalam sebuah bahtera yang sama atau tidak… Tapi lagi-lagi, itu adalah sepenuhnya kuasaNYA… “

  Continue reading