Tentang Ayah

Aku memanggilnya Bapak

Seseorang yang sangat kaku, dingin, keras, tapi penyayang. Seseorang yang sangat memperhatikan kebutuhan anak-anaknya. Kalau aku meminta untuk dibelikan buku, langsung beliau mengantarku, walaupun hari itu adalah hari yang melelahkan selepas bekerja seharian.

Seorang pekerja keras yang di hari Minggu masih sempat mengajak anak-anaknya bermain ke sawah, melihat sapi-sapi piaraannya, atau sekedar berjalan-jalan mengendarai sepeda motor.

Seorang disiplin, yang menemaniku mengerjakan PR walaupun terkadang dengan sedikit bentakan sampai aku menangis karena tidak tahu harus menjawab apa dan sejujurnya sudah mengantuk ketika itu.

Seorang perokok  berat yang sampai-sampai membuatku benci dengan rokok, yang karenanya aku jadi berpisah dengannya.

Aku memanggilnya Papa Continue reading

Sepucuk Surat dari Seorang Ayah

—diambil dari kumpulan artikel di sebuah CD—

 

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu.

Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.

 

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia.

Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini.

Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.

Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

 

Nak, menjadi ayah itu mulia. Continue reading