Jangan pernah sesali.Jangan pernah tangisi.Semuanya yang pernah terjadi
Bila langkah terhenti.Itu bukan berarti.Hidupmu sampai disini
Menangislah, ooo, tersenyumlah
Mawar pasti berduri.Dan juga hidup ini.Penuh kejutan yang tak pasti
Anggap ini sebagai.Sebuah pelajaran hati, yang bisa kuatkan diri
Menangislah, tersenyumlah
Jangan kau berhenti
Melangkahlah, ooo, berlarilah
Selamat tinggal masa lalu
Selamat datang lembar baru
Selamat tinggal cinta lalu
Selamat datang cinta baru
Selamat tinggal selamat tinggal read more…
It’s amazing how you can speak right to my heart
Without saying a word,you can light up the dark
Try as I may, I could never explain
What I hear when you don’t say a thing
*The smile on your face
Let me know, that you need me
There’s a truth in your eyes
Saying you’ll never leave me
The touch of your hand says
You’ll catch me
Whenever I fall
You say it best
When you say nothing at all
All day long I can hear people talking out loud
But when you hold me near, you drown out the crowd
Try as they may, they could never define
What’s been said between your heart and mine
Berkunjung ke salah seorang saudara seiman. Kemudian beliau banyak bercerita, tidak berniat untuk menggurui, hanya nuturi sajah…Sharing partner mungkin bahasa kerennya. Apa yang beliau bagi untukku?
Mbak Nia, hidup itu tinggal pasrah saja sama Allah. Sekarang lho, siapa sih yang menciptakan kita? Siapa sih yang ngatur? Kalau mbak nia punya masalah titipkanlah dulu sama Allah, jangan dibuang, santai dulu, nanti kalau sudah tenang ambil lagi untuk dihadapi. Percuma menghindar, nanti pasti ketemu lagi… Ketakutan yang kita miliki itu wajar, tapi kita punya Allah, harus pasrah ya mbak…
*hmm, merenung, dan berusaha mengkonsentrasikan ke pusat berpikir…
Mulai sekarang, blog ini juga dapat dinikmati melalui:
*special thanks to: my bestphrend yang sudah menduplikasi…
Sudah sampai di penghujung ramadhan lagi. Alhamdulillah, itu saja yang ingin diucap sampai detik ini…(setelah tadi pagi, turut merasakan guncangan gempa dan akhirnya terbangun setelah kesirep seusai subuhan…hoho, maafkan aku sobat, kesirep lagiii..)
Setelah kemaren sempat dilema pulang ke rumah atau tidak, sudah memutuskan pulang, eh masih bingung cari tiket, harus kebingungan pula bagaimana caranya pulang ke Jember. Tapi alhamdulillah, Allah masih baik padaku, baiiiiiikk sekali..Detik ini sudah di rumah berkumpul bersama keluarga, dan banyak kenikmatan yang lain. Alhamdulillah…
Bertemu dengan banyak kisah sebelum pulang, di kereta api, kebetulan dipertemukan dengan seorang bapak-bapak. (bukan kebetulan menurutku). Tak perlulah sebut siapa namanya dan apa beliau, tapi percikannya yang juga ingin kutorehkan di blog ini. Sebuah amanah dari beliau untuk menceritakan dan turut menyebarkan sebuah visi ke depan.

Tentang sebuah cita-cita kebangkitan ummat. Kalau saja semua muslim di Indonesia benar-benar memaksimalkan semua pajak-pajak dalam Islam (maksutnya ZIS: Zakat, Infaq, dan Shoadaqoh), insyaAllah tidak ada kemiskinan lagi di Indonesia. Bahkan kalau dikelola dengan benar, itu bisa digunakan digunakan untuk membayar utang Indonesia yang sampai hari ini belum lunas. Beliau bertutur, kalau bisa di setiap perempatan dipasang layar besar (semacam monitor begitu mungkin yaa…) untuk menampilkan berapa dana yang dimiliki umat Islam. Bukan sebagai ajang unjuk gigi, tapi bisa jadi koreksi untuk kita semua. Berapa yang sudah tersalurkan, kepada siapa, bisa dilihat di sana semuanya. Dana ZIS kemudian dikumpulkan per kecamatan, di masjid-masjid yang biasa dipakai untuk selama sholat jum’at, paling tidak kencleng selama sholat jumat saja, selama ini kemana dana-dana itu? (wanda…) Nah, di setiap kecamatan kemudian direkapitulasi untuk kemudian ditayangkan secara online di layar-layar besar tadi (komputernya nanti disuplai deh kata Bapak, sudah ada donatur yang bersedia, wew…). Dengan demikian, semua dana akan terlihat transparansinya. Tak ada lagi kecurangan. Kita sudah memasuki era globalisasi. Sudah sepantasnya, teknologi yang ada digunakan untuk kemashlahatan umat. (sepakat Pak, teknologi dibuat untuk mempermudah kerja manusia). Bapak itu berujar, jangan lagi di pondok-pondok pesantren itu hanya belajar quran dan hadits. Mereka juga harus tahu yang namanya IT. (wew, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum). Hmm, PR bersama… Sebuah cita-cita yang mulia, beliau sudah hampir 70 tahun masih menyimpan cita-cita yang dahsyat dan keren. Aku yang masih muda? (tanya, kenapa?). Berbagi cerita dan cita-cita… Dan sebuah kebanggaan dan rasa syukur, terlahir sebagai seorang muslim dan masih merasakan nikmatnya iman dan islam itu…
I proud to be a moslem…
Tentang harapanku. Semoga Allah berkenan menerima ibadah shaum kita dan ibadah lainnya selama bulan ramadhan. Tak kan pernah menjadi sempurna tanpa ridhoNYA. Semoga setelah keluar dari bulan ini bisa benar-benar jadi bekal 11 bulan ke depan. Masih diberi kekuatan, kesempatan untuk terus belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik… Amiin..
wallahua’lam bishshawab
terima kasih, dan semoga bermanfaat…
Matahari dengan sinar hangatnya,
Angin dengan hembusan segarnya,
Bintang dengan sinar cemerlangnya,
Malam dengan sejuta gelapnya,
Tidur dengan nyenyaknya,
Mimpi dengan berbagai rahasianya,
Sedih, senang, dengan sensasi rasanya,
Tangis, tawa, dengan puasnya,
Berkeluh kesah, berlapang dada, dengan ceria pula,
Kagum, suka, cinta dan sayang, dengan lengkapnya,
Dari semua hal yang ada,
Hanya ingin berkata:
Segala puji bagi Tuhan Penguasa Semesta
Lohaaaaa,,,
Sudah hari ke berapa ramadhan kah ini? Kalau tidak salah sudah hari ke-19 di bulan Ramadhan 1430 H. Semoga masih diberi kekuatan untuk melanjutkan shaumnya yakk…
Kali ini kisahnya datang adek bungsuku yang lucu nan menyebalkan, yang masih kelas tk nOL beSaR… Masih seputar ramadhan juga koQ…
Kisah ini terjadi pada saat adzan maghrib sudah berkumandang, orang-orang yang menjalankan ibadah shaum sudah berbuka…
Tiba-tiba adek bilang ke mama:
“mama, aku puasa maghrib yaa…”
Trus mama bilang:
“lho, puasa maghrib gimana dek?”
Kata adek lagi:
“iya, ini kan udah maghrib, aku puasa…kan puasa maghrib mama…mama makan, aku puasa…”
Mama:
“lho, siapa yang ngasih tau…???”
(diikuti dengan cekikikan tawaku yang ga berhenti-henti waktu mama cerita adek di telepon…)


