ada kalanya
kita cuma bisa diam dalam doatanpa kata-kata
tanpa aksi nyata
hanya pasrah kepadaNya..dan kemudian
Allah menjawab doa itu pada saat tak terduga
bahkan mungkin, di saat kita hampir lupa bahwa kita pernah berdoa
menurut opiniku,,,hasil olah rasa, olah pikir, mungkin juga olah raga…
ada kalanya
kita cuma bisa diam dalam doatanpa kata-kata
tanpa aksi nyata
hanya pasrah kepadaNya..dan kemudian
Allah menjawab doa itu pada saat tak terduga
bahkan mungkin, di saat kita hampir lupa bahwa kita pernah berdoa
ini disuruh sama suami nih nulis tentang ini. berawal gara-garanya mau beli kemeja buat kerja dan pas liat harganya, masyaAllah. mahil-mahil amit. mau cari jaket, sama aja, masih mahil juga. mau cari poloshirt gitu, tiada bedanya. iseng-iseng liat kosmetik pria, macem moisturizer, cleanser, syok sayah, mahil amit, udah 5 digit gitu sodara-sodara (kalo kata suami saya sih, “hanya orang yang banyak uang yang bakalan beli barang-barang begonoan“, ya iyalah ya, kalo dipikir-pikir, ga mungkin juga abang tukang becak yang setiap harinya berjibaku dengan terik matahari masih akan memikirkan tentang penggunaan pelembab di wajahnya, bisa makan hari itu, sudah alhamdulillaah…).
hehehe,,giliran nyari baju saya. pasti belinya di tempat yang ngublek-ngublek gitu (alias diskonan, heheheh.. ). kalo saya bilang sih baju untuk para ladies itu lebih variatif harganya, mau yang mahilnya selangit ada, yang diskonan juga banyak. tapi, seperti pernah saya tulis di sini, efek diskonan itu tidak baik. bisa jadi belinya malah banyak dengan alasan ‘aji mumpung‘, mumpung lagi diskon, mumpung lagi murah. heheheh. eh, tapi, kalo emang jeli memilih, bisa dapet barang yang bagus dengan sabar mengublek-ngublek bak diskonan lho…apalagi buat saya, yang ukuran baju nya sering gak ada di toko-toko biasa.
kembali ke pokok perbincangan, jadi kenapa men wears itu mahal-mahal yak…? udah mahal, jarang ada diskonan pula. any idea kenapa..?

kenapa ya..?
setiap melihat orang tidur terlelap, memejamkan mata, saya bawaannya pengen nangis..?

malah kadang nangis ga sadar, tau-tau udah mbrebes mili..
*ini sih lebai*
mungkin…
karena melihat orang tidur itu seperti melihat orang yang meninggal dunia.
hmm, tidur kan memang mati sementara kan ya…
apalah yang kita punya.bahkan saat tidur pun nyawa kita ada dalam penguasaanNya.
gitu masih suka sengeneh-ngeneh.
“”Kalau manusia tidak mau mengikuti aturan Allah Yang Mencipta Manusia, lantas, mau ikut aturan siapa..?”
Pada suatu hari sambil nyambi setrika baju, saya sms teman-teman dan bertanya:
“Apa cita-cita terdekatmu…?“
Mungkin sebagian besar teman saya heran, tumben-tumbenannya si bumil ini nanya-nanya beginian. Tenang teman-teman, saya pernah baca, bahwa salah satu cara untuk mewujudkan mimpi adalah dengan menitipkannya kepada orang lain. Efek samping lainnya adalah semakin banyak orang yang mengamini cita-cita kita itu.
Jawaban yang saya dapat sangat beragam. Saya jadi kebanjiran sms hari itu. Ah, senangnya. Masih diberi kesempatan untuk bersilaturahim sekalian menghabiskan bonusan sms yang gak pernah habis itu.
Kalau sms nya dikirim kembali ke saya, saya jawab:
“Saya pengen naek haji.“
![]()
![]()
Suatu hari di lingkaran cahaya…
Seorang teman saya yang single parent, berkeluh kesah atau bahasa sekarangnya biar nggak keliatan ngeluh, ‘sharing’ tentang besarnya pajak penghasilan (PPh) yang dipotong dari gajinya setiap bulan. Memang besar menurut saya sih, mencapai enam digit angka. Belom lagi harus mengeluarkan zakat profesinya. Bukan jadi masalah sih kalo zakatnya, emang udah kewajiban yang itu. Tapi yang bikin nyesek itu adalah potongan PPh nya. Apalagi kalau melihat hasil membayar pajak, kok kayaknya gimanaaa gitu. <klo saya langsung inget Bung Ber-Wig dan Ber-Kacamata yang bisa kabur Nonton Turnamen Tenis walopun sedang di-bui-kan>
Saran guru lingkaran cahaya: coba kalo punya akses ke yang bagian motong pajak, sambil diberi saran untuk kerja sama dengan lembaga amil zakat yang terpercaya supaya dari pajak yang dipotong sekian itu, bisa sekalian untuk zakat profesi. Di kantor beliau seperti itu soalnya. Jadi, bagian yang harus dikeluarkan nantinya dibagi-bagi, untuk pajak sekian, untuk zakat sekian. Katanya, kalo dipegang sama lembaga amil zakat yang sudah bagus bisa dihitung juga sebagai PPh. Wooow, keren gak sih, tempat kerjanya memang penguasanya muslim. ![]()
Ah, saya jadi ikutan mikir. Suami saya kepotong PPh berapa yaa tiap bulan…Maka, sepulangnya dari lingkaran cahaya, saya cerita ke suami dan pengen melihat SPPT tahunannya. Hihi, suami saya ikutan penasaran. Diubek-ubeklah map dokumen. Makin nyesek lah saya setelah melihat digit angkanya dalam secarik kertas itu (besar atau kecil kan relatif yak, buat ibu rumah tangga cem saya, segala macam pengeluaran di luar perencanaan, semuanya B.E.S.A.R dan m.u.b.a.d.z.i.r). Penasaran, berapa % sih sebenernya PPh itu. Saya sms seorang sahabat yang lulusan sekolah calon pegawai pajak.
Saya: “Assalamu’alaikum.Mau nanya dong, klo PPh karyawan swasta dipotong brp % ya..?
Sahabat: “Wa’alaikumsalam.Pemotongan PPh karyawan pake tarif utk PPh orang pribadi. 0-50 jt (5%).50-250 jt(15%).250-500 jt (25%). di atas 500 jt (30%). Misal klo penghasilan 150 jt. yang 50 jt x 5%. sisanya 100 jt x 15%. jadi total dipotong 2,5 jt + 15 jt gtu.”
Saya: <errrrrr,masih ga mudheng>. “itu dipotong nya per bulan ato per tahun?”
Sahabat: “biasanya tiap bulan dipotong sama bendahara.tapi disesuaikan kalo ada bonus/thr,jd kumulatif per tahun nanti jatuhnya.“
Jadi, kalimat yang ini: Misal klo penghasilan 150 jt. yang 50 jt x 5%. sisanya 100 jt x 15%. jadi total dipotong 2,5 jt + 15 jt gtu –> ini tuh kumulatif per tahun.