Posted by: W on: 17 Jun, 2008
Kemaren 20 Mei 2008, ya tepat 100 tahun Kebangkitan Nasional. Satu hal yang membuat aku menjadi sedikit sedih adalah perayaan momen tersebut di Istora Senayan yang sangat gegap gempita dan bisa terbilang mewah. Sungguh ironis rasanya, di tengah isu kenaikan BBM yang masih simpang siur tetapi di sisi lain para petinggi negara ini malah berpesta pora. Jangan katakan bahwa untuk mengadakan acara tersebut tidak menghabiskan dana yang sedikit. Dilihat secara kasat mata saja, wah tampak bermilyar-milyar itu. Sayang sekali yah…
Coba kalau dana sebanyak itu dibuat untuk perbaikan raskin (yang konon katanya rasanya tidak begitu enak…) atau ya untuk dana di pos lainlah…
Banyak juga disiarkan di televisi, jangan sampai momen kemarin itu malah menjadi momen bangkrut bukan bangkit.
Kalau ada yang pernah juga melihat pernyataan Dedy Mizwar saat Kebangkitan Nasional kemaren, itu juga cukup menggugah, beberapa bait yang kuingat:
Bangkit berarti susah,
Susah di saat orang lain susah,
Senang di saat orang lain senang.
Bangkit berarti takut,
Takut korupsi,
Takut mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Bangkit berarti tidak ada,
Tidak ada kata menyerah.
Itu sebagian bait yang kuingat. Nah, beberapa kata tentang bangkit dariku adalah:
Bangkit berarti berani,
Berani melawan tirani,
Berani membela kebenaran dan keadilan,
Berani mengakui kesalahan,
Berani karena benar.
Bangkit berarti menang,
Menang melawan angkara murka,
Menang melawan kekuasaan yang semena-mena.
Bangkit berarti peduli,
Peduli dengan keadaan orang lain.
Bangkit itu aku,
Aku bangkit untuk Indonesia.
Pesan Pengunjung..