Ini masih cerita tentang anak kecil di rumah, maksudnya adek bungsuku di rumah yang laki-laki itu. Dia itu pasti punya cerita dan kisah yang kadang-kadang tidak bisa terduga oleh logika orang dewasa, yaaa namanya juga anak-anak… =)
Adek itu kan masih nol besar dan masih punya kebiasaan ’ngedot’, tapi sebenarnya dia sudah mulai malu kalau ketahuan masih ngedot. Hmmm, sudah mulai kehilangan sifat kekanak-kanakannya rupanya…Sudah mulai malu…
Apa itu malu?
Malu itu eM A eL U..
Malu itu benernya kalau menurutku, dipakai kalau untuk hal-hal yang tidak baik, misal: malu kalau ibadahnya nggak baik, malu kalau nggak menjalankan perintah Allah dengan baik [lha, masa’ nggak, udah dikasih kesempatan hidup dengan sangat nyaman gini…], malu kalah memanfaatkan atau menggunakan yang bukan haknya, malu kalau korupsi [mencontek itu juga korupsi loh…], malu kalau nggak jujur, malau kalau bermaksiat sama Allah, yaa pokoknya malu lah kalau nggak menjalankan hidup ini sesuai aturanNya [lha kita hidup di bumi miliki siapa juga…]
Tapi sekarang…
Malu mau menunjukkan identitas diri sebagai muslim, malu ngaku muslim, kalo bisa bisik-bisik aja ngaku muslimnya, padahal mah, ada yang salah kah..? Lha secara Anda-anda hidup di mana? Udah numpang pulaa..Mengingatkan diri sendiri dan pembaca sekalian…
Sekarang, udah nggak malu lagi kalau mau menggunakan apa yang bukan haknya, pokoknya menghalalkan segala cara, yang penting senenge dhewe… [na’udzu billah, semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi Allah selalu…]
Sekarang, udah biasa aja kalau nggak menjalankan kehidupan sesuai aturanNYA, hmmm…
Ah udah ah, malu ngomong mulu, segitu aja…
Ya Allah, semoga Engkau masih selalu mengaruniakan rasa malu kepada kami, supaya kami tetap sadar dan tidak menjadi sombong, sesungguhnya hanya ridhoMu yang akan membuat kami memasuki surgaMu…
Amiin…
Terima kasih, semoga bermanfaat,
Wallahua’lam bishshawab…
Al haqqu minallah (kebenaran itu datangnya dari Allah..)
Setelah ini, ke mana lagi?
*15 November 2009
Hmm, pertama-tama mau bersih-bersih blog yang sudah ditinggal hampir sebulan lamanya, tampak sarang laba-laba di mana-mana.. Ini akibat si aku yang terlalu menikmati euforia selepas bebas dari status mahasiswa, kebanyakan wira-wiri sana-sini, bermain-main dan berjalan-jalan sejenak dari ruwetnya perkuliahan [salut dan b
angga kepada semua teman-temang seangkatan yang wisuda oktober dan langsung melanjutkan kuliah profesi apoteker, aku angkat topiku untuk kalian semua…]. Ini saatnya kembali mengasah my praise cerebral untuk berkarya kembali… hoho…
Oya, nggak lupa juga mau menyapa semua pengunjung ^r.u.m.a.h a.k.s.a.r.a^ , haaaaaaaaaiiii… =)
Ini kisah tanggal 13 November waktu aku berada dalam perjalanan pulang dari stasium menuju kosan, agak gerimis waktu itu. Lampu-lampu yang berada di sekitar kanan dan kiri jalan mulai menyala. Ada yang belum tahu? Konon katanya lampu-lampu tersebut menyala dengan sistem sensor, jadi kala suasana mulai remang-remang menuju gelap maka lampu-lampu itu akan hidup… [dulunya pernah mikir, siapa ya yang bertugas menyalakan lampu-lampu di pinggir jalan itu? Kalau ada dinasnya aku mau ndaftar gtulah tadinya..haha..]
Wew, jadi terinspirasi untuk menulis postingan ini. Jadi berandai-andai sendiri. Jadi ingin seperti lampu itu dalam kehidupan ini. Kalau sekitarnya dalam situasi yang tak menentu alias mulai kacau, pengennya bisa jadi seseorang yang jadi penerang. Ingin menjadi sinar di tengah kegelapan gitu dah… hmm, pengeeeen deh… amiin…
Lola = loading lambat
Ga peka
Pura-pura ga peduli
Tapi sebenarnya penasaran, mencari, trus baru menyadari
Haha, kasian sekaliii…
*mengasihani diri sendiri dan siapapun yang seperti ini…
Paling agak bermasalah kalau bertemu dengan orang-orang dengan ’keunikan’ seperti ini. Hanya khawatir kalau tidak bisa sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Capek sendiri mendengar keluhan tentang inilah-itulah…Padahal kehidupan ga serumit dan seruwet yang dibayangkan koq, yaaa itu kalau Anda ingin membuatnya sederhana…
Perfeksionis itu bagus, dalam batas yang diperbolehkan. Kalau bahasa farmasinya, ada dosisnya…Lha kan segala sesuatu yang berlebihan ndak bagus kan yak…?
Perfeksionis itu bagus, bisa membuat rumah terus rapi…ga suka berantakan di mana-mana to…
Perfeksionis itu bagus, ingin membuat segalanya menjadi sempurna…tapi, harus ingat, bahwa segala kesempurnaan itu hanya ada padaNya, yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin yang kita bisa…
Perfeksionis itu bagus, bisa membuat pekerjaan cepat tuntas…bukan seseorang yang menunda-nunda pekerjaan…
Perfeksionis itu bagus, bisa memberikan saran untuk terciptanya keteraturan dan kesempurnaan, TAPI, jadi menyebalkan, kalau memaksa orang lain untuk jadi seperti yang mereka pikir…haha, siapa Anda, bisa mengatur kehidupan saya, emangnya Anda Tuhan? Tidak membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri, ah, terlalu naif, cobalah liat betapa kehidupan ini berjalan teratur tetapi tetap terjaga kealamiahannya…
*yang sedang berusaha memahami siapa itu para perfeksionis…tapi, tetap saja masih begitu banyak tanya…haha…
Judulnya aja ngeri kali pun… Benar-benar ngeri, secara si aku sedang bersantai menikmati hari minggu, tiba-tiba melihat berita ini di tipi…
Ini tentang kisah seorang korban gempa di Sumatra Barat, seorang pemuda bernama Ramlan yang memutuskan untuk menggergaji kaki kirinya. Wew, keputusan dahsyat. Menurut penuturannya, ia tertimbun reruntuhan dan tidak bisa melarikan diri, pikirnya dengan memotong sendiri salah satu kakinya, ia bisa segera menyelamatkan dirinya. Piuh… Beruntung, akhinya ia bisa mendapatkan sebuah kaki palsu untuk melanjutkan kehidupannya dari sebuah program di salah satu stasiun televisi swasta, Dahsyatnya Berbagi untuk Korban Gempa Sumbar. Ikut legaaaaa…
Melihat sosok Ramlan ini, aku jadi semakin tersadar bahwa setiap manusia itu memang diharuskan mengambil keputusan yang besar di setiap fase kehidupannya…Lalu bersiap akan segala risiko yang mungkin muncul dari keputusan yang kta ambil itu…Udah ah gitu ajah…
Alkisah, di sebuah malam minggu, aku dan seorang mbak kos sedang pergi keluar di malam hari, untuk mencari sesuap nasi. Kami menyebutnya ‘makan besar’, sebuah kebiasaan hampir setiap satu bulan sekali, makan malam atau makan siang di restoran atau warung atau cafe, apalah itu, yang jelas tidak makan di kosan saja. Dipilihlah malam itu tempat makan di Jalan Cipaganti, terkenal dengan iga bakarnya, nama tempatnya ‘Si Jangkung’. Nah, di tengah perjalanan menyadari ada yang aneh dengan sepeda motor mbak kosku itu. Iya, spionnya agak ’mleot-mleot’ dan ’cenderung agak narsis’ karena menjadi menghadap ke arah supir, maksutnya ke arahku.. Lah, lah, ini fungsi spionnya jadi bagaimana yah…? Jadi berpikir, spion ini sebenarnya fungsinya untuk apa yah? Kalau tidak ada spion apakah lantas kita akan terhenti mengendarai kendaraan?
Kalau menurutku fungsi spion yang utama ya untuk melihat kendaraan yang ada di belakang kita, memastikan bahwa kita benar-benar aman untuk mengambil keputusan ke depan perjalanan akan dilanjutkan ke arah mana…Apakah lurus ke depan, belok kanan, belok kiri, atau berhenti. Lalu, pada waktu apakah kita harus melihat spion ini? Apakah harus setiap saat? Apakah perlu sewaktu-waktu saja? Lagi-lagi, menurut si aku, cukup sewaktu-waktu saja. Kalau terlalu sering, kita jadi tidak fokus pada perjalanan yang ada di depan mata. Apalagi di kanan-kiri masih ada pemandangan lain yang mungkin juga akan menarik perhatian pengendara…


