Lola = loading lambat
Ga peka
Pura-pura ga peduli
Tapi sebenarnya penasaran, mencari, trus baru menyadari
Haha, kasian sekaliii…
*mengasihani diri sendiri dan siapapun yang seperti ini…
Paling agak bermasalah kalau bertemu dengan orang-orang dengan ’keunikan’ seperti ini. Hanya khawatir kalau tidak bisa sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Capek sendiri mendengar keluhan tentang inilah-itulah…Padahal kehidupan ga serumit dan seruwet yang dibayangkan koq, yaaa itu kalau Anda ingin membuatnya sederhana…
Perfeksionis itu bagus, dalam batas yang diperbolehkan. Kalau bahasa farmasinya, ada dosisnya…Lha kan segala sesuatu yang berlebihan ndak bagus kan yak…?
Perfeksionis itu bagus, bisa membuat rumah terus rapi…ga suka berantakan di mana-mana to…
Perfeksionis itu bagus, ingin membuat segalanya menjadi sempurna…tapi, harus ingat, bahwa segala kesempurnaan itu hanya ada padaNya, yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin yang kita bisa…
Perfeksionis itu bagus, bisa membuat pekerjaan cepat tuntas…bukan seseorang yang menunda-nunda pekerjaan…
Perfeksionis itu bagus, bisa memberikan saran untuk terciptanya keteraturan dan kesempurnaan, TAPI, jadi menyebalkan, kalau memaksa orang lain untuk jadi seperti yang mereka pikir…haha, siapa Anda, bisa mengatur kehidupan saya, emangnya Anda Tuhan? Tidak membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri, ah, terlalu naif, cobalah liat betapa kehidupan ini berjalan teratur tetapi tetap terjaga kealamiahannya…
*yang sedang berusaha memahami siapa itu para perfeksionis…tapi, tetap saja masih begitu banyak tanya…haha…
Judulnya aja ngeri kali pun… Benar-benar ngeri, secara si aku sedang bersantai menikmati hari minggu, tiba-tiba melihat berita ini di tipi…
Ini tentang kisah seorang korban gempa di Sumatra Barat, seorang pemuda bernama Ramlan yang memutuskan untuk menggergaji kaki kirinya. Wew, keputusan dahsyat. Menurut penuturannya, ia tertimbun reruntuhan dan tidak bisa melarikan diri, pikirnya dengan memotong sendiri salah satu kakinya, ia bisa segera menyelamatkan dirinya. Piuh… Beruntung, akhinya ia bisa mendapatkan sebuah kaki palsu untuk melanjutkan kehidupannya dari sebuah program di salah satu stasiun televisi swasta, Dahsyatnya Berbagi untuk Korban Gempa Sumbar. Ikut legaaaaa…
Melihat sosok Ramlan ini, aku jadi semakin tersadar bahwa setiap manusia itu memang diharuskan mengambil keputusan yang besar di setiap fase kehidupannya…Lalu bersiap akan segala risiko yang mungkin muncul dari keputusan yang kta ambil itu…Udah ah gitu ajah…
Alkisah, di sebuah malam minggu, aku dan seorang mbak kos sedang pergi keluar di malam hari, untuk mencari sesuap nasi. Kami menyebutnya ‘makan besar’, sebuah kebiasaan hampir setiap satu bulan sekali, makan malam atau makan siang di restoran atau warung atau cafe, apalah itu, yang jelas tidak makan di kosan saja. Dipilihlah malam itu tempat makan di Jalan Cipaganti, terkenal dengan iga bakarnya, nama tempatnya ‘Si Jangkung’. Nah, di tengah perjalanan menyadari ada yang aneh dengan sepeda motor mbak kosku itu. Iya, spionnya agak ’mleot-mleot’ dan ’cenderung agak narsis’ karena menjadi menghadap ke arah supir, maksutnya ke arahku.. Lah, lah, ini fungsi spionnya jadi bagaimana yah…? Jadi berpikir, spion ini sebenarnya fungsinya untuk apa yah? Kalau tidak ada spion apakah lantas kita akan terhenti mengendarai kendaraan?
Kalau menurutku fungsi spion yang utama ya untuk melihat kendaraan yang ada di belakang kita, memastikan bahwa kita benar-benar aman untuk mengambil keputusan ke depan perjalanan akan dilanjutkan ke arah mana…Apakah lurus ke depan, belok kanan, belok kiri, atau berhenti. Lalu, pada waktu apakah kita harus melihat spion ini? Apakah harus setiap saat? Apakah perlu sewaktu-waktu saja? Lagi-lagi, menurut si aku, cukup sewaktu-waktu saja. Kalau terlalu sering, kita jadi tidak fokus pada perjalanan yang ada di depan mata. Apalagi di kanan-kiri masih ada pemandangan lain yang mungkin juga akan menarik perhatian pengendara…
Menyalin sms seseorang:
Fiuh, alhamdulillah, akhirnya selesai juga hari itu…
Terima kasih…
untuk didengarkan,
untuk pengertian,
untuk menegarkan,
untuk pelajaran menertawakan masalah,
untuk kesempatan,
untuk mama yang wise,
untuk semangat to be better man…
*ga ada yang kebetulan di dunia ini…
Sudah lama tidak menulis, sedang mengurus persyaratan untuk berganti status…![]()
Beberapa hari lagi ceritanya akan berganti status… Eits, tenang dulu, bukan dari single menjadi double… (haha, yang ini nanti dulu…)
Perubahan status ini adalah hasil pertarungan di sidang perceraian antara aku dengan sesuatu yang selama 4 tahun ini menyertaiku… (lha, hebat beud yak, double aja belum koq udah cerai…). Maksutnya adalah perpisahanku dengan farmasi yang sudah turut membesarkan dan mendewasakan pola pikirku. Sidang perceraiannya sudah diputuskan tanggal 2 Oktober kemaren, bertepatan dengan batik yang akhirnya menjadi milik Indonesia juga… Nah, perhelatan akbarnya akan dilaksanakan tanggal 24 Oktober nanti…
Huhu, kalau ingat-ingat 4 tahun kemaren, jadi banyak bersyukur sampai di titik ini… 
TPB yang benar-benar tahap paling bahagia, praktikum cuma sekali seminggu, gantian antara fisika dasar dan kimia dasar…cukup menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang), menghabiskan banyak jam tidur di kosan sampai akhirnya diingatkan oleh bapak dosen wali: ”kuliah adoh-adoh lha koq kerjoane turu ae..” hmm, kalo inget sampe sekarang jadi suka senyum sendiri…
Tingkat dua, kuliah mulai padat, mulai berkenalan dengan kegiatan kampus, icip sana-sini, merasakan apa itu the real student college..Sampai-sampai pernah meninggalkan kunci sepeda motor dan berakhir dengan harus membuat surat pernyataan lalai, halah…Kena burung koak juga sempat (hmm, katanya belum mahasiswa itb kalau belum pernah kena koak..miss u koak, di mana engkau sekarang…?)
Tingkat tiga juga masih sibuk akademik dan kuliah, merindukan lamanya rapat berjam-jam di himpunan. Sampai pernah berkata, hmm, nanti aku akan merindukan saat-saat ini…Hehe, di tingkat ini ni jadi bermasalah dengan Ibu Kaprodi gara-gara ospek jurusan (haduh, maafkan aku ibu, banyak salah, udah dimaafkan kata beliau kemaren pas salaman di yudisium, kata ibu: iya kamu bikin banyak dosa sama saya..). Praktikum, tes awal, tes akhir, laporan sudah jadi makanan sehari-hari. Piuhh, betapa keras tempaan kuliah di sini… read more…
Jangan pernah sesali.Jangan pernah tangisi.Semuanya yang pernah terjadi
Bila langkah terhenti.Itu bukan berarti.Hidupmu sampai disini
Menangislah, ooo, tersenyumlah
Mawar pasti berduri.Dan juga hidup ini.Penuh kejutan yang tak pasti
Anggap ini sebagai.Sebuah pelajaran hati, yang bisa kuatkan diri
Menangislah, tersenyumlah
Jangan kau berhenti
Melangkahlah, ooo, berlarilah
Selamat tinggal masa lalu
Selamat datang lembar baru
Selamat tinggal cinta lalu
Selamat datang cinta baru
Selamat tinggal selamat tinggal read more…


